Direktur Jasa Tirta II U Saefudin Noer (kedua kanan) bersama penyanyi Via Vallen (kanan), Bupati Purwakarta Ane Ratna Mustika (tengah), Direktur Keuangan dan SDM Jasa Tirta II Haris Zulkarnain (kedua kiri), serta musikus Dwiki Dharmawan menyapa penonton I
Direktur Jasa Tirta II U Saefudin Noer (kedua kanan) bersama penyanyi Via Vallen (kanan), Bupati Purwakarta Ane Ratna Mustika (tengah), Direktur Keuangan dan SDM Jasa Tirta II Haris Zulkarnain (kedua kiri), serta musikus Dwiki Dharmawan menyapa penonton I

International Jatiluhur Jazz Festival Bangkitkan Ekonomi

Hiburan festival jazz
M Studio • 02 Desember 2019 13:36
Purwakarta: Pemilihan kawasan wisata Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, sebagai lokasi acara The 1st International Jatiluhur Jazz Festival 2019 sangat tepat. Itu karena kebersihan Waduk Jatiluhur dan keindahan alamnya dapat memukau para pengunjung.
 
Direktur Utama Jasa Tirta II U Saefudin Noer di sela-sela International Jatiluhur Jazz Festival, kemarin, menyatakan pihaknya bekerja keras dalam menjaga kebersihan waduk buatan seluas 8.300 hektare dan terbesar di Asia, itu, serta lingkungan hidup di sekitarnya. Karenanya, dia mengajak seluruh masyarakat turut menjaga sungai dan danau karena air merupakan zat yang sangat penting bagi kehidupan manusia, baik pada saat ini maupun masa yang akan datang.
 
Berbekal keindahan alam dan ajang internasional itu, ekonomi masyarakat sekitar menjadi lebih hidup berkat pengunjung yang ramai. Bahkan, para pelaku usaha kuliner di kawasan wisata Jatiluhur mengibaratkan pergelaran yang diinisiasi Jasa Tirta II menyerupai kondisi liburan Lebaran. Dari sisi jumlah pengunjung, omzet para pedagang mengalami pelonjakan yang signifikan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hal itu dirasakan salah satu pemilik kios di Blok O, Risdiyanto, 29. Lokasi tempat usahanya tak jauh dari Pelabuhan Biru, Waduk Jatiluhur. Warga Desa Kembang Kuning, Kecamatan Jatiluhur, itu, sudah belasan tahun membuka kios berjualan di kawasan wisata tersebut bersama sang kakak.
 
“Saya membuka kios bareng kakak sejak 2012,” ungkapnya. Namun, ada sejumlah permintaan dari Yanto--begitu panggilannya--kepada pihak pengelola kawasan wisata Danau Jatiluhur, yakni Jasa Tirta II. Pengelola diminta menertibkan pedagang asongan dadakan yang sering marak jika ada acara-acara tertentu. Ia berdalih para pedagang yang memiliki kios merasa dirugikan dengan keberadaan pedagang asongan, khususnya makanan.
 
“Soalnya kami kan sewa tempat setahun hampir Rp3 juta. Belum lagi biaya yang lain,” tuturnya. Selain itu, ia juga sering mendapatkan keluhan dari para pengunjung terkait harga tarif masuk kawasan wisata yang dianggap terlalu mahal. Karenanya, ia menyarankan tarif masuk di pintu utama kawasan wisata ditinjau kembali. Untuk diketahui, dua pengunjung yang menggunakan sepeda motor dikenai karcis masuk senilai Rp60 ribu.


Transformasi


Di sisi lain, Jasa Tirta II sedang dalam proses transformasi perusahaan pada aspek seperti people and organization development. Caranya, badan usaha milik negara (BUMN) yang mengelola sumber daya air itu melakukan optimalisasi human capital dan business process optimization.
 
Terdapat beberapa lini bisnis, antara lain energi, lahan dan properti, ekoturisme, edukasi dengan water and power center, ICT (information and communication technology), serta area bisnis baru dan optimalisasi aset.
 
“Untuk mewujudkan strategi tersebut, Jasa Tirta II membutuhkan regulatory transformation sehingga dapat optimal dalam pengelolaan sumber daya yang ada untuk kepentingan negara,” kata U Saefudin Noer.
 
International Jatiluhur Jazz Festival Bangkitkan Ekonomi
(Foto:MI/Susanto)
 
Menurutnya, International Jatiluhur Jazz Festival juga menjadi sarana untuk menikmati keindahan alam waduk sekaligus sebagai sarana mempromosikan pariwisata di daerah itu. Ajang tersebut merupakan kolaborasi musik dari beberapa genre dengan sentuhan jazz yang menampilkan artis serta musisi nasional dan internasional.
 
Selain itu, International Jatiluhur Jazz Festival memberikan ruang bagi band-band dari Jawa Barat, terutama dari Purwakarta, memperlihatkan kreativitas mereka. Dengan mengusung tema Green, water and life, event tersebut juga menjadi bagian dari kampanye untuk menjaga lingkungan dan air bagi kehidupan.


Memukau


Keindahan alam di Waduk Jatiluhur terbukti meninggalkan kesan bagi banyak orang. Kesan tersebut turut menyentuh musikus Dwiki Dharmawan yang tergambar dalam lagu ciptaannya berjudul Sunset in Jatiluhur.
 
“Jatiluhur, ketika saya ke sini merupakan tempat yang sangat inspiratif. Hal tersebut sampai saya ciptakan lagu Sunset in Jatiluhur,” kata Dwiki saat berada di panggung International Jatiluhur Jazz Festival, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, kemarin.
 
Dwiki berharap penyelenggaraan festival jazz bisa meningkatkan kunjungan pariwisata ke kawasan Waduk Jatiluhur. Penampilan dari Imelda Rosalin, Ermy Kullit, hingga Mus Mujiono sebagai pembuka sekaligus menjanjikan kualitas panggung musik jazz perdana yang digagas Perum Jasa Tirta II.
 
Penyanyi jazz Imelda Rosalin dan Ermy Kullit membawakan lagu-lagu legendaris mereka masing-masing. Penampilan keduanya membuat para tamu undangan dari unsur pejabat pemerintahan daerah dan pemangku kebijakan terkait ikut bernyanyi.
 
International Jatiluhur Jazz Festival Bangkitkan Ekonomi
(Foto:MI/Susanto)
 
Tak mau ketinggalan, Direktur Utama Jasa Tirta II U Saefudin Noer naik ke panggung dan bernyanyi bersama dengan Ermy Kullit mendendangkan lagu Kasih. Nyanyian penonton semakin terdengar saat para pemusik memelankan volume pada bagian refrein.
 
Suasana semakin meriah saat Mus Mujiono mendapatkan giliran tampil di panggung. Kemampuannya bermain gitar sambil bernyanyi masih memukau para penonton seperti saat membawakan lagu berjudul Keraguan.
 
Setelah Ita Purnamasari menyihir pengunjung dengan syair Cintaku Padamu, penonton disuguhi musik akustik yang dimainkan secara apik oleh grup band asal Bandung, 57Kustik. Ratusan penonton tampak tak bisa menghentikan goyangan kecil di kaki, punggung, dan kepala menikmati alunan lagu Anak Sekolah milik Chrisye yang dibawakan dengan ciamik oleh anak-anak band jebolan rumah musik mendiang musikus Harry Roesli itu.
 
Tak berselang lama, giliran penonton dibuat heboh oleh penampilan grup musik legendaris, Krakatau, dengan sang vokalis Trie Utami yang melantunkan lagu bertema lingkungan hidup, Doa Pertiwi. Lantas grup band yang namanya terinspirasi dari Gunung Krakatau itu menampilkan sang motorik Dwiki Dharmawan dengan alunan musikmusik instrumentalianya.
 
International Jatiluhur Jazz Festival Bangkitkan Ekonomi
(Foto:MI/Susanto)
 
Akhirnya, penampilan si cantik bersuara merdu, Via Vallen, menjadi penutup The 1st International Jatiluhur Jazz Festival 2019 di tepian keindahan Waduk Jatiluhur itu. Pedangdut yang berhasil naik daun karena lagu Sayang tersebut manggung pukul 21.45 WIB.
 
Salah seorang pengunjung, Ali Novel, tampak gembira menikmati sajian musik di atas panggung yang dibuat panitia tepat berada di tepi Waduk Jatiluhur. “Luar biasa ya pentas musik ini merupakan kehormatan bagi Kabupaten Purwakarta dan warganya. Apalagi ada dua kelompok musik lokal (dari Purwakarta) yang pentas dalam acara ini,” kata Novel.
 
Ia juga berharap acara itu dapat menjadi agenda rutin dan lebih banyak lagi melibatkan musisi lokal. “Tinggal sarana jalan atau pelataran di sekitaran panggung yang mungkin diperbaiki lagi, biar enggak becek kalau hujan,” tuturnya.


Riwayat


Pembangunan Waduk Jatiluhur dilakukan dengan membendung Sungai Citarum. Luas daerah aliran sungai tersebut mencapai 4.500 kilometer persegi. Bendungan ini mulai didirikan pada 1957. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno dan diresmikan Presiden Soeharto pada 26 Agustus 1967.
 
Waduk Jatiluhur terletak di Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Jaraknya sekitar 9 kilometer dari pusat Kota Purwakarta. Waduk yang awalnya sempat dinamakan Ir H Djuanda itu tercatat sebagai waduk terbesar di Indonesia. Ir H Juanda merupakan Perdana Menteri RI terakhir dan memimpin Kabinet Karya (1957-1959). Bersama dengan Ir Sedijatmo, ia dengan gigih memperjuangkan terwujudnya proyek Jatiluhur di dalam dan luar negeri.
 
International Jatiluhur Jazz Festival Bangkitkan Ekonomi
(Foto:Dok.Jasa Tirta II)
 
Bendungan Waduk Jatiluhur dibangun kontraktor asal Prancis, Compagnie francaise d’entreprise. Bangunan tersebut menjadi waduk multifungsi pertama di Tanah Air. Namun, akibat pembangunan itu 14 desa tenggelam sehingga 5.002 orang diungsikan. Sebagian penduduk dipindahkan ke daerah sekitar bendungan dan lainnya pindah ke Kabupaten Karawang. Saat itu sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani.
 
Dalam Waduk Jatiluhur, terpasang enam turbin dengan daya 187 megawatt yang sanggup menyalurkan produksi tenaga listrik rata-rata 1.000 juta Kwh setiap tahun dan dikelola Perum Jasa Tirta II. Selain itu, Waduk Jatiluhur memiliki fungsi penyediaan air irigasi untuk 242 ribu hektare sawah.
 
Selain berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan sistem limpasan terbesar di dunia, kawasan Jatiluhur memiliki banyak fasilitas rekreasi yang tergolong mumpuni. Di kawasan itu terdapat hotel dan bungalo, bar dan restoran, lapangan tenis, biliar, perkemahan, kolam renang dengan water slide, ruang pertemuan, sarana rekreasi dan olahraga air, serta playground.
 
Di perairan Waduk Jatiluhur juga terdapat budi daya ikan keramba jaring apung yang menjadi daya tarik tersendiri. Pada siang atau dalam keheningan malam, kita dapat memancing penuh ketenangan sambil menikmati sajian ikan bakar menggugah selera.

 

(ROS)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif