Mus Mujiono. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)
Mus Mujiono. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)

Mus Mujiono: Jazz Mainstream Susah Diterima di Indonesia

Hiburan musik jazz Mus Mujiono
Cecylia Rura • 14 November 2019 15:06
Jakarta: Musisi legenda Mus Mujiono menilai musik jazz mainstream belum begitu diminati oleh penikmat musik di Indonesia. Dari berbagai jenis musik jazz, musik jazz murni menyuarakan perpaduan instrumen musik tanpa vokal belum bisa benar-benar diterima.
 
"Jazz itu sendiri punya aliran banyak sekali. Ada reagge, fusion. Jazz yang mainstream itu susah diterima di sini, terus terang," ungkapnya di Jakarta.
 
"Yang trio, double bass, enggak pakai nyanyi cuma (instrumen), ruwet. Pangsa pasar kita susah untuk menerima itu," terang Mus Mujiono.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia pun mengakui, banyak menemukan masyarakat Indonesia yang sudah menganggap musik jazz adalah musik yang sulit dipahami. Oleh sebab itu, dia menilai hal inilah yang menyebabkan banyak festival musik yang menyisipkan musik pop untuk meramaikan festival musik jazz.
 
"Kita enggak boleh memungkiri bahwa masyarakat Indonesia juga rata-rata kalau jazz itu terlalu berat. Mereka juga bingung ini musik opo? Dan di sini harus ada nyanyinya," kata Mus.
 
Musik jazz pun dianggap sebagai musik berkelas dan hanya dapat dipahami beberapa orang. Mus Mujiono pun tak sepakat jika musik jazz disebut sebagai peningkatan level pendengar musiknya dan menjadi selera rakyat menengah ke atas.
 
"Padahal jazz itu sendiri ditemukan di kalangan bawah. Di Amerika awal mula jazz itu sendiri ditemukan dari perbudakan, sejarahnya," terang Mus.
 
"Jazz itu sendiri banyak alirannya. Mungkin reggae dengan pemainnya. Mungkin reggae yang mainkan Indra Lesmana misalnya. Idang Rasjidi misalnya. Itu merekanya sudah jazz, enggak mungkin pop, kan?!" katanya.
 
"Indonesia sekali lagi pangsa pasarnya belum bisa menerima musik jazz yang katakanlah mainstream. Yang hanya instrumen tanpa bernyanyi susah diterima," kata Mus.
 
Melihat kini pun banyak festival musik tak jarang menyisipkan embel-embel jazz, tapi lupa akan esensi musik jazz. Menanggapi hal ini, Mus Mujiono menilai penyelenggara punya pandangan sendiri terhadap musik jazz yang dibesut.
 
"Terus terang banyak sekali yang mengutamakan kualitas dari musik itu sendiri. Ada juga yang kita enggak bisa pungkiri memandang segi komersialnya. Itu boleh dan sah-sah saja," ungkapnya.
 
Mus menyarankan, festival musik tetap konsisten menyajikan musik yang ditawarkan tanpa menyisipkan "jazz" dalam tajuk festival. Dia memberi saran, jikalau festival musik harus menggunakan judul "jazz", setidaknya mereka mengubah aransemen musik pop menjadi jazz.
 
"Harapan saya juga begitu dan dari event-event jazz yang mengembel-embelkan komersial hendaknya penyuguhannya disarankan untuk lagu-lagu pop diaransemen menjadi jazz baru ditampilkan, katakanlah Bogor Jazz,"kata Mus.
 
"Kemasannya bisa masuk akal atau relevan untuk festival musik jazz," lanjutnya.
 


 

(ELG)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif