Melalui lagu-lagunya, Kanye mengeksplorasi berbagai pengalaman manusia, termasuk kerentanan, kesulitan menghadapi keadaan, dan upaya menemukan harapan.
Dalam lagu “Ghost Town” dari album ye yang dirilis pada 2018, YE mengangkat tema pergulatan emosional, kerentanan, dan keinginan untuk merasakan kebebasan.
Sementara itu, “Reborn”, kolaborasinya dengan Kid Cudi dalam album KIDS SEE GHOSTS pada tahun yang sama, membawa pesan tentang menghadapi masa sulit dan berusaha melangkah maju.
Kedua lagu tersebut memperlihatkan bagaimana musik dapat menjadi medium untuk menyampaikan pengalaman emosional yang kompleks. Bagi pendengar, karya musik juga bisa menjadi ruang untuk merefleksikan perasaan dan menemukan keberanian untuk membicarakan masalah yang sedang dihadapi.
Pengalaman menikmati karya YE secara langsung dapat dirasakan melalui konser YE Live in Jakarta yang dijadwalkan berlangsung di Gelora Bung Karno pada 24 Oktober 2026. Konser ini akan menghadirkan Globe Stage, panggung 360 derajat yang dirancang untuk memberikan pengalaman menonton dari berbagai sisi.
Perpaduan tata cahaya, sistem audio, dan efek piroteknik akan melengkapi pertunjukan tersebut. Selain menikmati musik secara langsung, penonton dapat merasakan bagaimana komposisi musik dan elemen visual membangun suasana emosional selama konser berlangsung.
Tiket YE Live in Jakarta tersedia melalui situs resmi yejakarta.com. Kehadiran konser ini sekaligus menjadi kesempatan bagi penggemar untuk menikmati karya-karya YE yang mengangkat beragam pengalaman dan emosi manusia.
Manfaat Musik bagi Kesehatan Mental
Musik dapat membantu seseorang memahami perasaan yang sulit diungkapkan, menyalurkan emosi, hingga menghadapi tekanan hidup. Namun, mendengarkan lagu favorit tidak selalu cukup untuk mengatasi persoalan kesehatan mental yang membutuhkan penanganan profesional.Psikolog Klinis Dewasa Larasati Margaretha Soetrisno, M.Psi., Psikolog, menjelaskan musik memiliki sejumlah fungsi psikologis yang berkaitan dengan cara seseorang mengenali dan mengelola emosinya. Peran tersebut menjadi relevan dalam memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia setiap 10 Oktober.
Tahun ini, World Health Organization (WHO) mengangkat tema “Lived experiences heard: real voices, real change”. Tema tersebut menekankan pentingnya mendengarkan pengalaman nyata orang-orang yang hidup dengan kondisi kesehatan mental serta memberikan ruang bagi mereka untuk menyampaikan pengalaman dan kebutuhan.
Larasati mengatakan bahwa mendengarkan musik dapat membantu seseorang mengenali perasaan yang sebelumnya sulit dijelaskan. Lirik, melodi, hingga instrumen dalam sebuah lagu terkadang mampu menggambarkan emosi yang belum bisa diungkapkan melalui percakapan biasa.
“Tidak semua orang bisa mengenali dan menjelaskan emosinya, sehingga ketika mendengar lagu tertentu, lirik, nada, atau instrumennya dapat merepresentasikan apa yang sedang dirasakan. Musik membantu seseorang menemukan bentuk dari perasaan yang sebelumnya sulit dijelaskan,” katanya.
Selain membantu mengenali emosi, musik juga dapat menjadi sarana untuk mengekspresikan perasaan. Seseorang bisa menyampaikan kegembiraan, kesedihan, kemarahan, atau kekecewaan melalui kegiatan bernyanyi, memainkan alat musik, maupun menciptakan lagu.
Larasati menjelaskan jika mendengarkan musik dan terlibat langsung dalam aktivitas bermusik memiliki fungsi emosional yang berbeda. Ketika mendengarkan lagu, seseorang dapat merasa terwakili oleh lirik atau suasana yang dibangun. Sementara itu, menciptakan musik dapat menjadi cara untuk menyalurkan perasaan yang sulit disampaikan secara langsung.
“Mendengarkan musik dapat membantu seseorang merasa terwakili atau merasa bahwa ada sesuatu yang merepresentasikan perasaannya. Sementara bernyanyi, memainkan musik, atau menulis lagu bisa menjadi bentuk mengekspresikan emosi dan melepaskan stres,” paparnya.
Musik juga dapat digunakan sebagai salah satu strategi coping, yaitu cara seseorang menghadapi tekanan atau situasi yang menimbulkan stres. Mendengarkan lagu yang menenangkan, misalnya, dapat membantu seseorang merasa lebih nyaman ketika sedang menghadapi hari yang berat.
Meski demikian, Larasati mengingatkan musik bukan solusi untuk semua persoalan kesehatan mental. Perasaan lebih tenang setelah mendengarkan lagu tidak selalu berarti masalah yang menjadi sumber tekanan telah terselesaikan.
“Musik dapat menjadi bagian dari coping, tetapi sifatnya sementara. Musik bisa membantu kita bertahan pada saat itu, tetapi masalah yang mendasarinya belum tentu selesai. Jika memang membutuhkan bantuan profesional, tetap penting untuk mencarinya,” jelasnya.