Tim produksi drama musikal Growth (Foto: instagram)
Tim produksi drama musikal Growth (Foto: instagram)

Kenalkan Budaya ke Anak Muda, Musikal Growth Padukan Tari Indonesia dan Hip Hop

Elang Riki Yanuar • 19 Juli 2026 09:00
Ringkasnya gini..
  • GROWTH mengenalkan budaya Nusantara kepada generasi muda lewat perpaduan tari tradisional, hip-hop, jazz, dan balet kontemporer.
  • Lebih dari 250 siswa RAFA tampil dalam GROWTH, pertunjukan yang mengemas warisan budaya Indonesia dengan pendekatan modern.
  • RAFA dan Yayasan Raya Budaya Nusantara berkolaborasi menjadikan seni pertunjukan sebagai cara kreatif menjaga budaya tetap hidup di generasi muda.
Jakarta: Mengenalkan budaya Indonesia kepada generasi muda membutuhkan pendekatan yang dekat dengan dunia mereka. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menghadirkan kekayaan tradisi Nusantara melalui pertunjukan modern yang menggabungkan tari, musik, dan cerita dalam sebuah drama musikal.
 
Pendekatan tersebut dihadirkan RAFA International Dance School melalui pertunjukan tahunan ke-13 bertajuk GROWTH: Growing into RAFA, Our Way Through Heritage di Gedung Teater Besar, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Sabtu, 18 Juli 2026. Pertunjukan ini melibatkan lebih dari 250 siswa aktif dalam sebuah produksi kolosal yang memadukan budaya tradisional Indonesia dengan seni pertunjukan kontemporer.
 
Melalui GROWTH, budaya Nusantara tidak hanya diperkenalkan sebagai warisan masa lalu. Beragam unsur tradisi dikemas menggunakan bahasa seni yang lebih dekat dengan generasi muda sehingga mereka dapat mengenal, mempelajari, sekaligus terlibat langsung dalam proses pelestariannya.

Pertunjukan yang digagas Nevine Rafa Kusuma bersama RAFA International Dance School ini juga berkolaborasi dengan Teuku Rassya melalui Yayasan Raya Budaya Nusantara. Kolaborasi tersebut menjadi upaya untuk menghadirkan ruang baru bagi anak-anak dan generasi muda dalam memahami kekayaan budaya Indonesia.
 
GROWTH membawa narasi perjalanan anak-anak yang tumbuh dengan akar budaya kuat, kemudian menghadapi berbagai dinamika kehidupan modern hingga akhirnya kembali menemukan identitas melalui warisan leluhur. Cerita tersebut menunjukkan bahwa perkembangan zaman tidak harus membuat generasi muda kehilangan hubungan dengan budaya asalnya.
Konsep pertunjukan bertajuk Tarian Raya di Balik Hutan Nusantara menggunakan pohon sebagai metafora perjalanan manusia. Seperti pohon yang terus tumbuh tetapi tetap membutuhkan akar, generasi muda juga diharapkan dapat berkembang mengikuti zaman tanpa meninggalkan identitas budaya yang membentuk mereka.
 
Berbagai tarian tradisional Indonesia ditampilkan dalam pertunjukan tersebut, mulai dari Tari Gantar dari Kalimantan Timur, Tari Jaipong dari Jawa Barat, Tari Piring dari Sumatera Barat, hingga Tari Saman. Tarian-tarian itu kemudian dipadukan dengan unsur jazz, hip-hop, dan balet kontemporer sehingga menghadirkan pertunjukan yang lebih dinamis.
 
Perpaduan seni tradisional dan modern menjadi salah satu cara untuk membuat budaya Indonesia terasa lebih relevan bagi anak muda. Alih-alih sekadar mempelajari budaya melalui buku atau arsip, mereka dapat mengenalnya melalui pengalaman langsung, baik sebagai penampil maupun penonton.
 
Founder RAFA International Dance School, Nevine, menilai perjalanan selama 13 tahun menjadi bukti bahwa seni memiliki peran lebih luas daripada sekadar mengajarkan kemampuan menari. Menurutnya, proses berkesenian juga dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter anak.
 
"Tiga belas tahun bukan waktu yang singkat. RAFA tumbuh karena setiap siswa, setiap orang tua, dan setiap guru yang percaya bahwa seni bukan sekadar keterampilan, melainkan cara membentuk karakter. GROWTH adalah cermin dari perjalanan itu," kata Nevine.
 
Sementara itu, Ketua Yayasan Raya Budaya Nusantara, Teuku Rassya, menekankan pentingnya menghadirkan budaya sebagai sesuatu yang hidup di tengah generasi muda. Menurutnya, pelestarian tidak cukup dilakukan dengan menyimpan dokumentasi mengenai tradisi dan warisan leluhur.
 
"Kami percaya bahwa budaya adalah akar identitas bangsa. Kolaborasi dengan RAFA adalah wujud nyata dari keyakinan itu, bahwa pelestarian budaya paling efektif terjadi ketika ia hidup di dalam diri generasi muda, bukan hanya tersimpan di arsip," ujar Teuku Rassya.
 
Kolaborasi antara RAFA International Dance School dan Yayasan Raya Budaya Nusantara tersebut memperlihatkan bagaimana drama musikal dan seni pertunjukan dapat menjadi medium edukasi budaya yang menarik. 
RAFA International Dance School sendiri telah berdiri selama 13 tahun dan berfokus pada pengembangan anak melalui pendidikan tari. Dengan lebih dari 250 siswa aktif dan sejumlah cabang di kawasan Jakarta serta Tangerang, sekolah tari tersebut telah meraih lebih dari 30 penghargaan internasional, termasuk Best Overseas School pada International Arts Festival 2024 di Malaysia dan Singapura.
 
Sementara Yayasan Raya Budaya Nusantara bergerak dalam pelestarian budaya melalui pengarsipan digital, edukasi, dan pemberdayaan pelaku budaya. Melalui Portal Budaya, yayasan tersebut berupaya membangun ekosistem digital sebagai ruang arsip, pembelajaran, dan apresiasi terhadap kekayaan budaya Indonesia.
 

 

 

 
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA