Dalam kategori ini Hindia dan Dipha Barus berhasil menang lewat karya kolaborasi mereka bertajuk "Nafas" dan mengalahkan pesaing lain seperti DNA bersama QoryGore, RICZA bersama Maretta, dan TECHNO KING, Steve Chris bersama Venes, dan Whisnu Santika.
Dalam pidato kemenangannya, Hindia dan Dipha Barus pun naik ke atas panggung untuk menerima penghargaan. Dipha pun mempersembahkan ini untuk label atau kolektif musik dan tim di belakang layar mereka.
"Terima kasih AMI Awards atas penghargaannya. Terima kasih kepada Higher Power. Terima kasih untuk para pendengar kami, serta tim kami dari Pon Your Tone, 1024, dan Sun Eater," ungkap Dipha Barus.
Hindia pun menerangkan bahwa "Nafas" merupakan karya musik yang mengungkit tentang generational trauma yang diwariskan keluarga secara tanpa sadar.
"Lagu ini judulnya 'Nafas'. Lagu ini bercerita, atau kurang lebih isinya adalah tentang menyambung napas, harapan, dan doa keluarga," terang Hindia atau Baskara.
Tak hanya itu, Hindia juga mendedikasikan kemenangan dan lagu "Nafas" untuk korban terdampak bencana kebakaran hutan dan lahan di wilayah provinsi Kalimantan serta kepada seluruh elemen masyarakat Tanah Air yang merasa kesulitan nafas dengan kondisi dan kebijakan Indonesia belakangan.
"Mungkin malam ini kami dedikasikan untuk teman-teman yang sulit bernapas karena lahan dibakar, untuk yang sulit bernapas karena kebijakan tidak berpihak kepada kita semua, dan untuk yang masih diadu domba," tutup Hindia.
Bersama Dipha Barus, Hindia juga terlihat kompak mengangkat tangan dan memperlihatkan gestur three-finger salute atau salam tiga jari di hadapan para penonton.

Gestur tersebut kerap digunakan sebagai simbol solidaritas, kebebasan, dan perlawanan terhadap kekuasaan otoriter. Dalam berbagai gerakan sosial, salam tiga jari juga menjadi representasi perjuangan untuk keadilan dan kesetaraan.