Perayaan tersebut dibuka dengan perilisan “Debu-Debu Intan (feat. Sunwich)” pada 14 Agustus 2026. Lagu ini menghadirkan vokal Aliefia Augustine dari Sunwich, sementara video musik garapan Sinema Pinggiran dijadwalkan tayang pada 18 Agustus. Single kedua, “Absolute Sadness”, menyusul pada 28 Agustus.
Bagi Sajama Cut, Cowabunga menjadi penanda bahwa semangat eksplorasi mereka masih terus berjalan. Setelah Godsigma (2020) memperluas jangkauan pendengar mereka ke generasi yang lebih muda, album Cowabunga yang dirilis pada 2025 mendapat sambutan dari Cult, sebutan bagi penggemar fanatik Sajama Cut, sekaligus menarik pendengar baru.
Sejumlah lagu dari album tersebut, seperti “Homili / Menatap Wajah Tuhan”, “Debu-Debu Intan”, dan “Kita Terbuat dari Puing dan Tangisan”, kemudian menjadi bagian dari repertoar Sajama Cut yang paling dikenal.
“Cowabunga buat gue menunjukkan bahwa kita masih haus secara artistik. Ini album yang penuh dengan kesadaran akan apa yang membuat musik kita masih berenergi, dan mengandung banyak elemen yang membuat The Cult begitu menyukai Godsigma. Tapi pada saat yang sama, banyak eksperimentasi dan pushing the artistry yang kami lakukan. Kami masih gatal membuat dobrakan-dobrakan baru,” ujar Marcel Thee.
Tujuh Musisi Menafsirkan Ulang Lagu Sajama Cut
Cowabunga Deluxe menghadirkan interpretasi baru dari Alkateri, Eleanor Whisper, The Jansen, Water Heater, Patrivia, Sunwich, dan ASHN. Album ini sekaligus menjadi pertama kalinya Cowabunga tersedia dalam format compact disc setelah sebelumnya dirilis dalam edisi kaset terbatas melalui Bojakrama Press.Selain versi alternatif dari sejumlah lagu, rilisan ini memuat “Absolute Sadness”, materi yang ditulis dan direkam dalam sesi album Cowabunga, tetapi disimpan hingga sekarang.
“‘Absolute Sadness’ selalu terasa seperti datang dari dunia yang sama, tapi berjalan ke arah yang sedikit berbeda. Rasanya lagu ini pantas mendapatkan perhatian sendiri, bukan sekadar menjadi bonus track,” kata Marcel.
Ia memandang kolaborasi dalam album deluxe tersebut sebagai kelanjutan dari semangat yang melahirkan Cowabunga, bukan sekadar tambahan materi untuk memperingati ulang tahun album.
“Kolaborasi ini benar-benar menunjukkan energi Cowabunga yang propulsif dan selebratif. Semakin ramai diteriakkan, akan semakin seru dan semakin terasa emosi dan kata-katanya,” ujarnya.
Marcel juga mengapresiasi para musisi yang bersedia terlibat karena masing-masing menghadirkan interpretasi yang tidak selalu dapat diprediksi oleh band.
Arno Zarror, gitaris Patrivia yang juga tergabung dalam Dongker, menyebut keterlibatan bandnya sebagai pengalaman istimewa, terlebih karena para personel Patrivia merupakan penggemar Sajama Cut.
“Luar biasa, kami semua senang. Kebetulan semua personel Patrivia memang ngefans dengan Sajama Cut. Semoga versi kami bisa menjadi warna lain bagi pendengar setiap Sajama Cut,” kata Arno.
Sementara itu, Aliefia Augustine mengaku senang mendapat kesempatan berkolaborasi dalam “Debu-Debu Intan”. Ia menilai kekuatan lagu tersebut sudah terasa sejak awal sehingga tidak membutuhkan banyak perubahan untuk menghadirkan vokalnya.
“Jujur senang banget diajak kolaborasi sama Sajama Cut karena mereka legend buat gue. Kolaborasinya juga praktis dan simpel karena lagunya sendiri sudah powerful, jadi gue merasa enggak perlu nambahin banyak hal lagi. Secara lirik juga bittersweet banget buat gue,” ujar Aliefia.
Bryan dari ASHN juga menyampaikan apresiasinya atas kesempatan menggarap versi mereka sendiri dari lagu Sajama Cut.
“It was an honor to do the ASHN version for the deluxe album,” katanya.
Dibawa ke Panggung Synchronize Fest 2026
Perayaan Cowabunga tidak berhenti pada perilisan rekaman. Sajama Cut juga akan menghadirkan Sajama Cut Deluxe Set di Synchronize Fest 2026 pada 17 Oktober. Pertunjukan tersebut dijadwalkan melibatkan Sunwich, Eleanor Whisper, Alkateri, dan Patrivia sebagai kolaborator di atas panggung.Format ini akan membawa materi Cowabunga ke pertunjukan langsung dengan susunan yang berbeda dari penampilan Sajama Cut sebelumnya.
Proyek Cowabunga Deluxe turut mendapat dukungan artistik dari Godskin, label pakaian milik Marcel Thee, serta The Bronze Medal Records, label independen yang merilis karya Sajama Cut dan sejumlah proyek musik lain, termasuk Strange Mountain, Roman Catholic Skulls, dan The Knife Club.
Selama lebih dari dua dekade, Sajama Cut telah menjadi bagian penting dari perkembangan musik independen Indonesia. Pengaruh mereka juga pernah dirayakan melalui album tribut You Can Be Anyone You Want: A Tribute to Sajama Cut, yang melibatkan lebih dari 30 musisi dan band lintas generasi.
Melalui Cowabunga Deluxe, Sajama Cut memperluas perjalanan album tersebut lewat kolaborasi, materi yang sebelumnya tersimpan, dan pertunjukan langsung. Album ini tersedia dalam format double CD dan hadir di platform streaming digital.