Hal ini diungkapkan oleh Corgan dalam episode terbaru program siniarnya di kanal YouTube The Magnificent Others with Billy Corgan, saat menghadirkan pengamat musik dan budaya, Conrad Flynn, sebagai bintang tamu.
Menurut pelantun hits “1979” itu, representasi paling “satanik” dalam dua dekade terakhir justru kerap muncul dan lahir dari bintang pop arus utama di industri musik.
Billy Corgan pun menilai bahwa para pop star ini sebenarnya secara sadar membangun persona palsu untuk memenuhi tuntutan industri dan memasarkan citra yang sebenernya tidak mereka miliki atau bahkan tidak mereka pahami.
"Mereka tunduk pada citra tersebut, sampai rela mengutak-atik wajah dan suara mereka, lalu menipu audiens dengan membuat seolah-olah mereka adalah sosok yang sebenarnya tidak mereka miliki. Semua itu dilakukan secara terang-terangan," ungkap Billy Corgan.
Ia menambahkan, kondisi ini berpotensi menimbulkan cognitive dissonance atau ketegangan psikologis di kalangan penggemar, di mana mereka mengetahui fakta tetapi tetap memilih percaya pada kebohongan demi kenyamanan emosional.
"Mereka tahu bahwa sosok yang mereka idolakan itu tidak benar-benar nyata, tetapi tetap memaksakan diri untuk percaya. Akibatnya, idolisasi justru digandakan, karena itulah satu-satunya cara agar ilusi tersebut tetap bertahan," tuturnya.
Sebagai perbandingan, Corgan pun menilai bahwa musik alternatif justru hadir dengan semangat yang berbeda. Alih-alih mengejar kesempurnaan citra, musik alternatif justru hadir untuk merayakan ketidaksempurnaan dan kejujuran, berdasarkan keresahan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
"Musik alternatif berbicara tentang kejujuran, apa adanya, dengan segala cacatnya. Seperti, 'Lupa bawa dasi?' atau 'Apa yang sebenarnya sedang kita lakukan di sini?'," ujar Billy.
Ia juga menyoroti perilaku penggemar yang kerap mengidolakan sosok tertentu tanpa memahami motif di balik pilihan estetika mereka, termasuk ketertarikan terhadap citra satanik atau okultisme.
"Mungkin terlalu banyak orang di audiens yang hanya menjadi penggemar tanpa mempertanyakan apa pun. Mereka menyukai sosok tertentu, tapi tidak benar-benar memahami motivasi di balik pilihan estetika seorang bintang pop, misalnya, mengapa mereka condong ke citra okultisme," tuturnya.
Billy Corgan Pernah Diajak Gabung Sekte Freemason
Dalam kesempatan yang sama, Billy Corgan pun sempat berbagi cerita unik berdasarkan kisah pribadinya. Rupanya, saat tur konser solo untuk album Cotillions (2019), Billy sempat mengenakan atribut Freemason saat tampil dipanggung tanpa mengetahui bahwa ternyata leluhur keluarganya merupakan anggota Freemason generasi awal.
Bahkan, salah satu gereja Freemason di kampung halamannya yang berlokasi di Illinois, AS, dibangun oleh leluhurnya dan masih berdiri hingga saat ini.
Baca Juga :
Konser Musisi Ini Dibatalkan karena AI Salah Kasih Info, Disebut Pelaku Kekerasan Seksual
"Pada tur solo saya tahun 2019 untuk album Cotillions, saya sempat mengenakan atribut Freemason. Saat itu, saya sama sekali tidak tahu bahwa leluhur saya ternyata memang Freemason generasi awal. Bahkan keluarga saya termasuk dalam 100 keluarga Mormon generasi pertama," tutur Billy Corgan.
Billy Corgan pun mengatakan bahwa dirinya sempat diajak oleh beberapa anggota Freemason untuk bergabung ke dalam sekte kepercayaan mereka.
"Bahkan, beberapa Freemason pernah menarik dan membujuk saya bergabung dan bertanya, 'Yakin tidak mau bergabung?', seolah-olah mereka mengenali sesuatu dalam diri saya. Atau mungkin mereka hanya melihat saya sebagai seseorang yang punya pengaruh, padahal sebenarnya tidak sebesar itu," ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News