The Brandals turut memeriahkan Hodgepodge Superfest 2018 (Foto: Purba Wirastama)
The Brandals turut memeriahkan Hodgepodge Superfest 2018 (Foto: Purba Wirastama)

Hodgepodge Superfest yang Kurang Super

Purba Wirastama • 03 September 2018 16:09
Jakarta: Hodgepodge Superfest 2018 punya sederet musisi lokal dan mancanegara dengan penampilan menarik dan tidak mengecewakan di Ecopark Ancol. Sayangnya, festival musik dua hari ini tak berhasil menarik jumlah penonton yang berimbang. 
 
Pada hari kedua festival, Minggu, 2 September, saat Stadion Utama Gelora Bung Karno sedang menjadi pusat perhatian karena acara penutupan Asian Games 2018, kawasan luas Ecopark Ancol terhitung lengang. Hingga tengah malam, jumlah seluruh penonton yang datang cukup untuk memenuhi salah satu arena panggung saja.
 
Salah satu penampil sore adalah grup jazz Tomorrow People Ensamble yang berkolaborasi dengan Eka Annash, vokalis The Brandals, di CBN Stage luar ruangan. Puluhan penonton menyimak pertunjukan ini dari dekat. Sebagian yang lain duduk santai di taman luas berumput tipis atau menikmati jajanan. 

Total ada empat panggung. Supermusic Stage yang paling besar dan CBN Stage adalah dua panggung yang bersebelahan di atas taman berumput tipis seluas kurang dari 1 hektare. Sekitar 200 meter dari situ, ada panggung kecil Kapal Api Grande Stage di pojok taman berlantai beton. Satu panggung lagi adalah Hodpepodge Stage di dalam gedung Ecovention. 
 
Panggung Kecil yang Intim
 
Panggung kecil di pojok taman memang tidak bisa menampung banyak penonton, tetapi panggung ini paling hangat dibanding yang lain. Penonton bisa sangat dekat dengan penampil dan musisi juga bisa turun panggung dengan mudah tanpa harus melewati pagar pembatas atau dijaga keamanan. 
 
Sesi panggung kecil ini dibuka dengan Endah N Rhesa yang tampil bersama sejumlah pemain ekstra. Mereka membawakan satu lagu baru yang belum dirilis, berjudul for The Minute. Endah menyebut lagu ini sangat personal dan bercerita tentang motivasi hidup setiap bangun pagi. 
 
Lalu ada SoftAnimal, proyek punk rock dari Bayu Adisapoetra, drummer Elephant Kind. Penampilan mereka punya "suntikan" energi yang besar bagi belasan hingga puluhan penonton, sebelum hujan mengguyur kawasan itu selama satu jam selepas petang. 
 
Hodgepodge Superfest yang Kurang Super
 
Setelah gerimis reda, Kid Francescoli tampil di panggung kecil dengan sajian elektro pop yang sanggup menarikmu "tenggelam" sendiri dalam gelombang musik yang mengendorkan saraf. Kid Francescoli adalah proyek elektro pop Prancis dari Mathieu Hocine dan Julia Minkin. Usai tampil di depan penonton yang tampak menikmati, Mathieu dan Julia menyempatkan diri bersalaman dengan penonton sebagai tanda terima kasih.
 
Hodgepodge Superfest yang Kurang Super
 
Sesi berikutnya adalah grup rock n roll The Brandals yang tampil liar. Vokalis Eka Annash mengenalkan The Brandals sebagai grup musik yang bergerak independen tanpa label sejak 2001. Malam itu, mereka membawakan singel baru yang akan segera dirilis, Truth is Coming Out. 
 
Sesi terakhir panggung kecil ini adalah kolektif hip-hop Onar yang juga tampil "rusuh". Setelah menutup  dengan Substansi dan mashup Something About Us, atas permintaan penonton, Havi Laze dan kawan-kawan tampil lagi untuk potongan rap Budak dengan iringan tepukan tangan penonton. 
 
Animo di Dua Panggung Besar
 
Untuk dua panggung besar di taman, jumlah penonton sebenarnya tidak sepi-sepi amat. Sesi petang dibuka dengan penampilan penyanyi R&B Gallant di Supermusic Stage. Kendati hujan gerimis telah mengguyur selama sekitar 15 menit, toh para penonton tetap setia di depan panggung dengan payung dan plastik penutup kepala.
 
Namun setelah satu lagu Talking to Myself, sambungan audio bermasalah dan pertunjukan terpaksa dihentikan. Sebagian penonton berteduh dan sebagian tetap bertahan di depan panggung. Saat hujan ini, arena panggung besar di dalam ruangan lumayan ramai untuk penampilan duo funk Park Hotel. 
 
Penampilan luar ruangan kembali dilanjutkan setelah hujan reda sejam kemudian, tetapi dengan jeda antar sesi yang lebih rapat. 
 
Gallant tampil kembali dengan sangat atraktif dan energik, membawakan lagu-lagu andalan dari album Ology dan album mini Zebra. Dia juga melempar salah satu kaosnya ke penonton. Setelah melepas kaos, ternyata Gallant masih mengenakan kaos lain. Rupanya dia memakai beberapa kaos sekaligus. 
 
Rendy Pandugo langsung menyambung sesi ini di panggung besar sebelahnya. Dia membawakan lagu-lagu andalan, seperti I Don't CareHeaven, dan By My Side. Rendy sempat mengeluhkan jaraknya yang terlalu jauh dengan penonton. Area pemain di panggung memang dimundurkan untuk menghindari tetesan hujan. Namun saat itu sebenarnya langit malam terang dan hujan telah reda. Jumlah penonton tak sebanyak Gallant.
 
Hodgepodge Superfest yang Kurang Super?
 
Berikutnya, rapper Lil Yachty tampil di panggung terbesar. Rapper bernama asli Miles Parks McCollum ini tampil sangat atraktif. Beberapa kali, dia mengajak para penonton, yang sebagian besar anak-anak muda, untuk membentuk circle pit dan melakukan moshing. Namun penonton mungkin malu-malu. Sebagian ikut merapat ke tengah, tetapi hanya saling menabrakkan diri dan tidak membentuk lingkaran yang dimaksud. Setelah beberapa lagu dan Miles berulang kali meminta, mereka akhirnya membentuk lingkaran, tetapi kecil. 
 
Grup rock The Hunna tampil pada sesi berikutnya di panggung sebelah. Kwartet asal Inggris ini tampil dengan sangat bertenaga. Sebagian penonton, yang adalah penggemar loyal, terdengar ikut bernyanyi dalam beberapa lagu. Namun jumlah penonton †ak cukup banyak karena arena depan panggung masih sangat lengang bagi orang-orang untuk bergerak ke sana kemari. 
 
Hodgepodge Superfest yang Kurang Super
 
Vokalis Ryan Potter melihat ada lebih banyak penonton yang duduk di depan panggung besar sebelah, agak jauh dari tempat panggung mereka. Saking kontrasnya pemandangan dua area penonton ini, Ryan sempat mengajak mereka untuk merapat dan bergabung dengan penonton The Hunna. 
 
"Hai, kalian di sana, aku tahu kalian di sana menantikan All Time Low," kata Ryan, yang baru pertama kali ini tampil di Asia Tenggara bersama The Hunna. 
 
All Time Low sepertinya memang penampilan paling ditunggu. Bahkan 15 menit sebelum mereka tampil, para penonton telah berteriak memanggil nama grup pop punk ini. Penampilan mereka selama hampir 1,5 jam adalah yang menarik minat penonton terbanyak sepanjang hari kedua Hodgepodge. 
 
Panggung Terpencil di Dalam Ruangan
 
Satu panggung dalam ruangan punya sesi pertunjukan yang paling sepi peminat. Pertunjukan puncak panggung ini, yang bersamaan dengan sesi All Time Low di luar ruangan, adalah penampilan dari grup indie rock Cloud Nothing. Tepat pukul 23.00 WIB, empat personel telah siap di atas panggung. Namun di area penonton, adalah pemandangan menyedihkan. 
 
Jumlah orang di ruangan dingin ini tak sampai 50 orang dan sebagian adalah wartawan atau fotografer. Vokalis-gitaris Dylan Baldi tak banyak bicara. Jelang lagu ketiga, dia hanya menyapa "halo". Dia dan tiga personel lain bermain lagu demi lagu tanpa basa-basi. 
 
Hodgepodge Superfest yang Kurang Super
Dylan Baldi, vokalis Cloud Nothing
 
Musik mereka gahar, tetapi perangkat audio panggung ini tak sebesar dua panggung luar ruangan. Para penonton yang datang tetap memberikan riuh dukungan atau tepuk tangan. Sebagian tampak asyik menikmati musik. 
 
Hodgepodge Superfest punya sederet penampil yang menarik, kendati sebagian baru dikenal terbatas di kalangan pendengar musik Indonesia. Namun sajian ambisius ini tetap saja kurang "super" jika tidak berimbang dengan kapasitas penonton yang sesuai. Musisi panggung butuh energi dari penonton.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(DEV)




TERKAIT

BERITA LAINNYA