Debby Nasution, Dari Gank Pegangsaan hingga Dunia Dakwah
Debby Nasution (Foto: instagram)
Jakarta: Debby Nasution menghembuskan napas terakhirnya pada Sabtu, 15 September 2018. Musisi senior yang kini menapaki jalan sebagai ustaz dikabarkan meninggal dunia akibat serangan jantung usai memberikan ceramah di Masjid Al-Ikhlas di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, Sabtu, 15 September 2018. Debby lalu dilarikan ke Rumah Sakit Mitra Setia dan dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 14.00 WIB.

Sebelum dikenal sebagai ustaz, Debby lebih dulu menapaki karier di panggung musik lewat Gank Pengangsaan, sebuah grup musik yang dibentuk di kediaman keluarga Nasution di Jalan Pegangsaan Barat pada tahun 70an. Sepuluh tahun setelahnya dia mulai menekuni agama Islam dan banyak belajar soal agama Islam hingga menjadi ustaz.

Mengutip rekam jejak yang dituliskan Debby dalam akun Facebook, Debby pertama kali bermusik bersama grup The Bumpee's pada 1971. Setahun setelahnya, Debby membentuk grup The Young Gipsies bersama Odink Nasution.


Di tahun selanjutnya, kiprah Debby mulai ramai di lapak musik. Tahun 1973-1975 dia bergabung dengan grup God Bless. Tahun 1975-1976 bermain dengan Gypsy sebagai pemain bass menggantikan posisi Chrisye.

Tahun 1976 Debby bergabung dengan Barong's Band pimpinan Eros Djarot dan membuat dua album rekaman Barong's Band. Debby turut terlibat dalam rekaman album Badai Pasti Berlalu bersama Eros, Yockie Suryoprayogo dan Chrisye.

Tahun 1978, Debby lalu membentuk grup band Bathara (sekarang menjadi Cockpit Band) bersama Odink, Harry Minggus, Yaya Moektiyo dan mendiang Freddy Tamaela.

"Tahun 1989, saya mendirikan grup band Gank Pegangsaan bersama Harry Minggus, Harry Sabar, Fariz RM dan Keenan Nasution, dan membuat album rekaman "Palestina", dilanjutkan dengan "Palestina II" pada tahun 1994 dan album "Kerusuhan" pada tahun 1998," tulis Debby di akun Facebook miliknya.

Masuk di tahun 2009 di membentuk grup Debby Nasution & The Morik Band bersama personel baru.

Gank Pegangsaan pada masa jayanya dikenal lewat singel pamungkas berjudul Dirimu. Tercatat dalam laman daring Wikipedia, formasi mereka saat itu Keenan Nasution (vokal, perkusi) – album pertama saja, Harry Sabar (vokal, perkusi), Fariz RM (vokal, perkusi), Molly Gagola (gitaris utama), Eet Sjahranie (gitaris utama), Sitoresmi Prabuningrat (vokal) dan Harry Minggoes (vokal, bas gitar, akustik gitar). Mereka menelurkan dua album, Palestina dan Palestina II.

Beberapa tahun terakhir, Debby juga kembali bersama Giant Step yang dikomandoi Benny Soebardja. Pada Januari 2018 saat konser Sang Bahaiduri berlangsung Debby Nasution masih menyempatkan diri untuk bergabung dan bermusik dalam panggung persembahan untuk musisi Yockie Suryoprayogo bersama para musisi tanah air. Debby malam itu bermain piano berduet dengan musisi Once di lagu Angin Malam bersama Eris Djarot di Taman Ismail Marzuki Jakarta.


Debby (paling kanan) saat tampil bersama Giant Step tahun lalu (Foto: Medcom/Elang)

Selain bermusik, Debby turut memperdalam ilmu agama Islam. Kadri Mohamad, sahabat Debby menuturkan dia bahkan sampai ke negeri orang untuk menuntut ilmu. "Dia mempelajari agama Islam sampai ke Mesir sekitar tahun 80an," kata Kadri kepada Medcom.id.

Kendati semasa hidupnya menjalani dua profesi sebagai musisi dan ustaz, Kadri mengatakan Debby enggan jika dia dipanggil ustaz. "Saya sering main musik bareng sama dia. Dia enggak mau dibilang ustaz tapi anak band," cerita Kadri.

Jenazah Debby Nasution akan dimakamkan di TPU Pasir Putih Sawangan, Minggu, 16 September 2018 sekitar pukul 10.00 WIB.

 



(ELG)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id