Namun, di balik kemegahan panggung dan tingginya angka multiplier effect ekonomi, tersimpan sebuah paradoks yang mengkhawatirkan. Berdasarkan studi terbaru dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), permintaan terhadap konser musik saat ini dinilai rapuh karena banyak ditopang oleh pembiayaan utang dan kondisi keuangan penonton yang mulai meregang (financial stretch).
Ketika Harga Tiket Melampaui Daya Beli
Temuan LPEM FEB UI menyoroti adanya jurang pemisah antara antusiasme masyarakat (pent-up demand) dengan kapasitas finansial riil mereka. Berdasarkan data riset LPEM FEB UI dan survei pendukung (seperti Jakpat), rata-rata kesediaan membayar (willingness to pay) masyarakat untuk tiket konser berada di kisaran Rp667 ribu per tiket.Angka ini terpaut sangat jauh jika dibandingkan dengan realitas harga tiket megakonser atau festival besar, di mana tiket konser sekelas Coldplay di Jakarta lalu menembus rata-rata Rp4,36 juta. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa banyak penonton yang sebenarnya harus merogoh kocek jauh di atas batas ideal kemampuan finansial mereka demi bisa menonton idola tampil secara langsung.
Periset LPEM FEB UI, Mohamad Dian Revindo, menjelaskan bahwa fenomena ini memperlihatkan adanya kecenderungan penonton yang memaksakan kondisi keuangan pribadinya demi menikmati hiburan.
Mohamad Dian Revindo, periset dari LPEM FEB UI
Sinyal Bahaya: Paylater, Pinjol, dan Risiko Finansial Rapuh
Sorotan paling tajam dari studi LPEM FEB UI terletak pada bagaimana sebagian penonton mendanai hasrat rekreasi tersebut. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan riset terkait menunjukkan pertumbuhan kredit paylater perbankan melonjak hingga Rp29,3 triliun (per April 2026), mengalami kenaikan sekitar 37,29% secara tahunan (yoy). Yang mengkhawatirkan, survei menemukan bahwa 41,3% pembeli tiket konser secara spontan menggunakan fasilitas paylater, pinjaman online (pinjol), atau kartu kredit. Fenomena ini menegaskan bahwa sebagian besar euforia konser ditopang oleh pembiayaan yang rapuh.Baca Juga :
Sukses Hadirkan 120 Lebih Penampil Tahun Ini, The Sounds Project Janjikan Line-up Lebih Besar Tahun Depan
Revindo memaparkan bahwa indikasi adanya financial stretch ini terlihat jelas dari data riset lapangan, seperti pada perhelatan Java Jazz Festival maupun tren penggunaan fasilitas pembiayaan instan.
"Kita tidak membuat kausalitas, ini pendekatan indikatif. Bukan banyak orang pinjol untuk pergi (nonton) musik. Tapi kita lihat indikasinya begini, dari survei Java Jazz kemarin, itu 10% penontonnya mengalami financial stretch, jadi mereka pakai dana darurat dan pinjaman (untuk beli tiket dan mengeluarkan uang di festival atau konser musik). Kemudian, juga rata-rata kesediaan membayar di bawah dari harga tiket. Survey Tunaiku 2025, 53% punya tabungan khusus hiburan konser, dan 41% pakai paylater atau cicilan kartu kredit untuk (tiket konser). Jadi memang semua gambar ini kalau kita rangkai, sebagiannya dibiayai oleh sumber-sumber yang tidak disiapkan atau sumber-sumber yang mungkin mengambil porsi lain, termasuk pinjaman," jelas Revindo dalam Jakarta Music Week, yang digelar di Taman Ismail Marzuki, pada 11 Oktober 2026.
Pada akhirnya, euforia pertunjukan musik idealnya tidak dibayar mahal dengan kerapuhan finansial di masa depan. Menjaga daya beli kelas menengah yang menjadi tulang punggung ekosistem ini jauh lebih mendesak daripada sekadar mengejar gelombang pompom industri hiburan sesaat.