Indonesian National Orchestra didirikan pada 2010 oleh komponis sekaligus etnomusikolog Franki Raden. Orkestra ini dibentuk dengan visi menghadirkan format orkestrasi abad ke-21 yang berakar pada keberagaman instrumen tradisional Nusantara. Dalam versi combo yang dibentuk sejak 2016, INO menghadirkan format ensambel beranggotakan tujuh hingga sepuluh musisi yang masing-masing menguasai lebih dari satu instrumen tradisional.
Sebagian besar karya yang dimainkan INO dikomposisi langsung oleh Franki Raden dengan pendekatan yang mengambil inspirasi dari berbagai tradisi musik daerah di Indonesia. Melalui konsep tersebut, INO berupaya menjaga kekuatan karakter musik dan para musisi tradisional tetap hidup dalam format orkestra modern.
Selama beberapa tahun terakhir, Indonesian National Orchestra tampil di berbagai panggung internasional bergengsi, termasuk Jeonju International Sori Festival di Korea Selatan pada 2016, Sharq Taronalari Festival di Uzbekistan pada 2017, hingga Elbphilharmonie Hamburg di Jerman pada 2022. Mereka juga tampil di Amsterdam Roots Festival dan BIMHUIS di Belanda pada 2025.
Album Live at BIMHUIS menjadi rilisan album pertama untuk format combo INO. Rekaman tersebut menampilkan eksplorasi bunyi lintas tradisi Indonesia yang dipadukan dengan pendekatan kontemporer dan improvisasi modern.
Dalam proyek ini, Franki Raden bertindak sebagai music director sekaligus memainkan gong set dan bedug bass. Formasi musisi lainnya melibatkan Satya Cipta pada vokal sopran, Hendri Desmal yang memainkan didgeridoo, serunai, dan taganing, serta Cucu Kurnia pada kendang Sunda.
Selain itu, Dwiki Pebriansyah memainkan suling, tarompet, dan rebab, sementara Andre Dinuth mengisi gitar elektrik dan Wanda Omar memainkan bass elektrik.
Album ini diproduksi oleh Lokaswara, didistribusikan oleh Musik Bagus, dan proses mixing serta mastering ditangani oleh Danny Ardiono.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News