Ilustrasi (Foto: AI Image generated)
Ilustrasi (Foto: AI Image generated)

Penjualan CD di AS Tembus Rp3 Triliun, Era Rilisan Fisik Musik telah Kembali?

Agustinus Shindu Alpito • 23 September 2026 11:45
Ringkasnya gini..
  • Pendapatan CD di AS naik 58,6 persen menjadi US$171 juta pada paruh pertama 2026, melampaui pertumbuhan pendapatan vinyl.
  • Penjualan CD secara unit mencapai 16,3 juta, naik 16,3 persen, didorong budaya koleksi, harga terjangkau, dan rilisan K Pop.
  • Kebangkitan CD berlangsung bersamaan dengan pertumbuhan streaming, menunjukkan format fisik dan digital tetap berjalan beriringan.
Jakarta: Compact disc (CD) kembali mencatat pertumbuhan signifikan di pasar musik Amerika Serikat. Laporan tengah tahun Recording Industry Association of America (RIAA) menunjukkan pendapatan dari format CD mencapai US$171 juta atau sekitar Rp3,04 triliun sepanjang enam bulan pertama 2026, naik 58,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada paruh pertama 2025, pendapatan CD di AS berada di kisaran US$108 juta atau sekitar Rp1,92 triliun. Dengan pertumbuhan tersebut, CD menjadi kategori dengan peningkatan persentase terbesar dalam laporan terbaru RIAA.

Data RIAA ini melengkapi temuan Luminate yang sebelumnya menunjukkan bahwa penjualan CD secara unit juga mengalami kenaikan. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, sebanyak 16,3 juta CD terjual di AS, meningkat 16,3 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Vinyl masih menghasilkan pendapatan yang jauh lebih besar. Dalam enam bulan pertama 2026, format tersebut menghasilkan US$554 juta atau sekitar Rp9,86 triliun. Namun, pertumbuhannya mencapai 17,7 persen secara tahunan. Dengan demikian, CD mengalami pertumbuhan pendapatan yang lebih cepat dibandingkan vinyl, meski jumlah unit vinyl yang terjual tetap lebih tinggi.
 
Secara keseluruhan, pendapatan dari musik fisik di AS meningkat 25,9 persen selama periode tersebut.

Luminate sebelumnya mencatat penjualan gabungan CD, vinyl, dan kaset mencapai sekitar 38,2 juta unit, naik 7,8 persen. Menurut perusahaan data tersebut, peningkatan CD antara lain berkaitan dengan aktivitas konsumen membangun koleksi, harga yang relatif terjangkau, serta kuatnya rilisan K Pop.

Kembalinya BTS dengan album "ARIRANG" juga menjadi salah satu faktor yang mendorong penjualan CD. Namun, pertumbuhan tersebut tidak sepenuhnya bergantung pada BTS maupun pasar K Pop secara keseluruhan. Ketika penjualan K Pop dikeluarkan dari perhitungan, pembelian CD di AS tetap meningkat 6,7 persen dibandingkan paruh pertama 2025.

Ada perbedaan metodologi antara data RIAA dan Luminate yang perlu diperhatikan. Luminate mengukur penjualan kepada konsumen, sedangkan RIAA menghitung pendapatan wholesale yang telah dikurangi pengembalian. Karena itu, angka pertumbuhan pendapatan RIAA sebesar 58,6 persen tidak dapat disamakan secara langsung dengan pertumbuhan penjualan unit yang dilaporkan Luminate.

Kenaikan CD juga berlangsung ketika konsumsi musik melalui streaming terus bertumbuh. Pada paruh pertama 2026, jumlah audio stream on demand di AS mencapai 732,7 miliar, naik 4,8 persen. Secara global, jumlah streaming meningkat 9,8 persen menjadi 2,8 triliun.

Data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan format fisik tidak serta-merta berarti konsumen meninggalkan streaming. CD dan vinyl justru kembali mendapatkan ruang sebagai produk koleksi dan kepemilikan fisik, sementara streaming tetap mencatat pertumbuhan.
 
Kondisi ini memperlihatkan perubahan dalam posisi CD di pasar musik. Format yang sempat dianggap semakin terpinggirkan kini kembali mengalami pertumbuhan, terutama ketika rilisan tertentu memiliki nilai koleksi, harga relatif terjangkau, atau didukung basis penggemar yang kuat.

Dengan demikian, kebangkitan CD pada 2026 bukan sekadar persoalan nostalgia terhadap format lama. Data RIAA dan Luminate memperlihatkan adanya peningkatan baik dari sisi pendapatan maupun unit penjualan, meski streaming tetap menjadi bagian penting dari pola konsumsi musik.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA