John merupakan sosok di balik lagu perjuangan ikonik “Darah Juang”, tembang yang lekat dengan gelombang gerakan mahasiswa, terutama saat Reformasi 1998.
Lagu tersebut menjadi nyanyian kolektif yang menggema di berbagai aksi demonstrasi dan hingga kini masih kerap dikumandangkan sebagai simbol perlawanan dan solidaritas.
Kabar kepergian John dikonfirmasi oleh Wakil Menteri Hak Asasi Manusia, Mugiyanto. Ia menyebut John mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM.
"Iya, John Tobing meninggal di RSA UGM," kata Mugiyanto kepada Metrotvnews.com, dikutip pada Kamis, 26 Februari 2026.
Menurut Mugiyanto, John wafat sekitar pukul 20.45 WIB. Ia menyampaikan duka mendalam atas berpulangnya sosok yang dikenal sebagai bagian dari generasi gerakan mahasiswa era 1980–1990-an tersebut.
“Kita ditinggalkan salah seorang legenda gerakan mahasiswa angkatan 80–90-an: John Tobing,” lanjutnya.
Bagi banyak orang, warisan terbesar John tak hanya jejaknya dalam gerakan, tetapi juga karya yang melampaui zaman. “Darah Juang” disebut sebagai lagu yang memiliki daya getar emosional kuat, terutama ketika dinyanyikan bersama dalam momentum perjuangan
“Ia meninggalkan warisan tak ternilai: lagu Darah Juang yang membuat kita merinding setiap mendengar, apalagi menyanyikannya,” kata Mugiyanto.
Di akhir pernyataannya, Mugiyanto pun turut menyampaikan doa untuk almarhum agar ditempatkan terbaik di sisi Tuhan.
“Selamat jalan, kawan John. Damai abadi kau di pelukan Tuhanmu,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News