"Tema yang kami angkat untuk desain kami adalah vintage. Kita pingin menceritakan bagaimana sebenarnya jazz itu adalah musik yang sudah cukup tua dan banyak peminatnya," papar Presiden Direktur Java Jazz Festival Production Dewi Gontha di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (18/1/2018).
Lewat tampilan pernak-pernik vintage, Java Jazz tahun ini sekaligus ingin mengedukasi para penonton terkait asal muasal musik jazz, di mana ragam jenisnya berakar dari campuran elemen berbeda. Contohnya acid jazz, buah dari penggabungan elemen musik soul, funk, dan disco. Lalu ada berbagai subgenre jazz antara lain dixieland, swing, bebop, hard bop, cool jazz, free jazz dan cafjazz.
Tema tersebut juga linear dengan tagline "Jazz in Diversity" yang diusung. Dengan harapan, festival musik tahun ini dapat terlihat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Soal penampil, Elfa Zulham dari Tim Program Java Jazz 2018, bisa memastikan 99 persen musisi lokal dan internasional akan hadir. Adapun beberapa di antaranya yang akan tampil Matthew Whitaker Trio, Avery*Sunshine, JP Cooper, Kennedy Administration, Ivan Lins, Newyork Voices, Lee Ritenour, BJ The Chicago Kid, Maysa Leak, The Commodores, Vanessa Williams, Ron King Big Band, The Danish Radio Big Band, The Urban Renewal Project, Curtis Stigers, Elan Trotman, Jeff Lorber, Michael Manson, Maya Azucena, Marlon Mcclain, Gorden Campbell dan masih banyak lagi.
Sementara untuk musisi lokal JJF 2018 menggandeng Kunto Aji, Nona Ria, Andien, Teddy Adhitya, Dira Sugandhi, Adhitya Sofyan, Jordy Waelauruw, Mondo Gascaro, Maliq & D'Essentials, Tashoora, Tomorrow People Ensemble, The Daunas, Yura Yunita dan sederet musisi lain.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News