Steve Vai dan Yngwie Malmsteen (Foto: Metrotvnews/Shindu)
Steve Vai dan Yngwie Malmsteen (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Pesta Para Dewa Gitar

Agustinus Shindu Alpito • 22 April 2017 13:55
medcom.id, Jakarta: Jumat (21/4/2017), lima dewa gitar yang menamakan diri Generation Axe, datang ke Jakarta. Mereka adalah Tosin Abasi, Zakk Wylde, Steve Vai, Yngwie Malmsteen, dan Nuno Bettencourt.
 
Ribuan penggemar musik, dan tentu didominasi penggila gitar menyerbu Ecovention Ancol, lokasi Generation Axe. Ini adalah kesempatan langka menyaksikan paket virtuoso gitar tampil bersama-sama di Jakarta. Tentu hal itu juga yang menjadi alasan kuat ribuan penonton.
 
Sayangnya, penyelenggara memilih memenuhi area dengan kursi tempat duduk. Agak janggal melihat konser rock dengan penonton duduk. Hal itu juga dirasakan Nuno Bettencourt.

Berkali-kali Nuno meledek para penonton yang duduk manis. Namun, dengan cara humor yang justru mencairkan suasana konser.
 
"Kalian kelihatannya nyaman sekali ya,” kata Nuno yang melihat para penonton duduk manis.
 
Pesta Para Dewa Gitar
Penonton konser Generation Axe (Foto: Metrotvnews/Shindu)
 
Nuno menjadi satu-satunya personel Generation Axe paling komunikatif dalam konser semalam. Dia juga menceritakan bagaimana mimpinya terwujud, dapat satu panggung - bahkan satu grup - dengan Steve Vai dan Yngwie Malmsteen.
 
“Waktu kecil, saat saya belajar gitar, saya terinspirasi Steve Vai, Malmsteen. Sekarang saya main dengan mereka. Jangan pernah menyerah atas mimpi-mimpi kalian,” pesan Nuno.
 
Kemudian Nuno berkelakar lagi, “Saya akan duduk juga.” Sejurus kemudian dia duduk di bibir panggung dengan gitar akustik dan mengajak penonton untuk lebih aktif bernyanyi.
 
“Walaupun ini acara ‘guitar night’ saya ingin kalian tetap bernyanyi,” kata Nuno disusul kemudian intro lagu More Than Words yang ikonik itu.
 
More Than Words seolah lagu wajib bagi mereka yang belajar bermain gitar. Malam itu terasa spesial karena ribuan penonton berkaraoke bersama lagu More Than Words dengan iringan gitar langsung dari sang empunya lagu, Nuno Bettencourt.
 
Perkumpulan dewa gitar ini juga ditunjang dengan dewa-dewa dari instrumen lain, yaitu bassist Pete Griffin dari Zapa Plays Zappa, keys oleh Derek Sherinian dari Dream Theater, dan JP Bouvet pada drum.
 
Salah satu penampil yang paling mencuri perhatian adalah Zakk Wylde, pendiri Black Label Society ini memainkan repertoar sepanjang masa. Antara lain Little Wing (Jimi Hendrix), N.I.B. (Black Sabbath), dan Whipping Post (Allman Brothers).
 
Saat membawakan Little Wing, Wylde bahkan turun panggung dan merangsek masuk ke tengah-tengah penonton. Wylde benar-benar membuat suasana konser hidup!
 
Salah satu yang paling ditunggu malam itu, Steve Vai, muncul usai penampilan Wylde. Dengan gitar berlampu, Vai langsung menggeber panggung. Seperti aksi-aksi Vai lain, dia cenderung kalem dan tidak terlalu ekspresif.
 
Pesta Para Dewa Gitar
Steve Vai (Foto: Metrotvnews/Shindu)
 
Sisi ekspresif malam itu hadir lewat aksi Yngwie. Dewa gitar yang satu ini sukses membuat penonton terpukau dengan kecepatan tangannya sekaligus penampilannya yang terkesan sembrono, dengan melempar gitar, bahkan menggesek-gesekan gitar di bokongnya.
 
Secara visual, tidak ada yang terlalu spesial dari segi tata panggung dan lampu. Penonton disuguhi pemandangan tumpukan lebih dari 20 head amplifier gitar. Ini tampak seperti pengukuhan bahwa pesta gitar sesungguhnya sedang berlangsung. Banyaknya head amplifier itu seperti mengintimidasi.
 
Pesta Para Dewa Gitar
Yngwie (Foto: Metrotvnews/Shindu)
 
Konser ditutup dengan penampilan kolaborasi yang menghadirkan seluruh personel. Lagu Frankenstein (Edgar Winter) dan Highway Star (Deep Purple) mereka pilih sebagai penutup. Sebuah pilihan yang tepat, mengingat Deep Purple telah membuka jalan dan mimpi para gitaris rock dari seluruh belahan bumi.
 
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan