Prof. Tjut Nyak Deviana (Foto: Medcom.id/Purba Wirastama)
Prof. Tjut Nyak Deviana (Foto: Medcom.id/Purba Wirastama)

Profesor Musik Tjut Nyak Deviana Tolak RUU Permusikan

Hiburan Kisruh RUU Permusikan
Purba Wirastama • 07 Februari 2019 10:34
Jakarta: Profesor musik Tjut Nyak Deviana Daudsjah menilai draf terkini RUU Permusikan nyaris seluruhnya bermasalah, meliputi aspek bahasa, sasaran, maupun landasan berpikir. Deviana menyarankan draf produk hukum ini dirancang ulang, termasuk judul utamanya.
 
"Bahasa (RUU Permusikan) ini sama sekali tidak mewakili bahasa musik. Lalu satu lagi, setelah (naskah) dirancang, kita harus menggunakan bahasa hukum, yang mana di sini juga tidak jadi. Intinya, 95% rancangan ini harus direvisi," kata Deviana dalam diskusi di kawasan Cilandak, Rabu, 6 Februari 2019.
 
"Saya tolak mentah-mentah (draf RUU ini)," imbuhnya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Diskusi tersebut diadakan oleh Koalisi Nasional Tolak RUU Permusikan (KNTL RUUP), yang kini telah didukung 260-an praktisi musik anggota koalisi dan 210 ribu suara petisi di change.org.
 
Deviana, musisi serba bisa yang pernah merancang kurikulum pendidikan di Jerman, memberi penilaian buruk terhadap nyaris seluruh pasal dalam draf RUU Permusikan. Ini adalah draf versi 15 Agustus 2018 yang dibuat oleh Badan Keahlian DPR atas arahan Komisi X.
 
"Rancangan undang-undang ini, dari aspek bahasanya sendiri kurang tepat, kurang kena sasaran, dan juga tidak didasari oleh masukan dari pakar-pakar musik. Jadi, sebaiknya dirancang ulang atau diatur ulang," tegasnya.
 
Salah satu pasal tidak jelas adalah Pasal 31 yang mengatur uji kesetaraan kompetensi bagi musisi autodidak. Pasal ini menyebut musisi autodidak dapat diakui setara hasil jalur pendidikan formal setelah lolos suatu ujian oleh lembaga yang ditunjuk pemerintah.
 
"Pasal 31, ujian kesetaraan? Tanda tanya besar! Siapa dan lembaga mana yang menguji? Akademisinya dulu yang harus diuji sebelum menguji karena kenyataannya, banyak sekali yang mengaku penguji, sementara dia sendiri harus diuji," tutur Deviana.
 
"Tadi saya sempat bercanda, 'Bilang ke yang punya berkas aslinya (draf RUU Permusikan), tolong dihapus saja," imbuhnya setelah menjelaskan ketidakjelasan Pasal 32.
 
Deviana menyebut kajian atas rancangan hukum bidang musik harus dilakukan ulang dengan melibatkan seluruh perwakilan praktisi musik dari Sabang sampai Merauke. Idealnya, kajian semacam ini butuh waktu dua sampai tiga tahun sebelum ada forum kecil perwakilan yang menyusun hasil kajian akademik dengan tata bahasa tepat.
 
Berikutnya, hasil kajian disampaikan ke DPR.
 
"Mereka (DPR) harus dan wajib mengundang para pakar bidang musik, mulai dari manajemen, pendidikan, otodidak atau formal atau informal – bukan soal," tutur Deviana.
 
"Setelah itu, baru menulis rancangan. Bukan (rancangan) seperti ini. Saya baca saja tiba-tiba kaget, kok bisa ya (menyusun seperti ini). Saya jadi curiga, siapa ini (yang punya kepentingan)?" imbuhnya.
 
Cikal bakal RUU Permusikan berawal dari Rapat Dengar Pendapat Umum oleh Komisi X DPR pada 2015. Dari situ, muncul ide membuat aturan undang-undang terkait industri musik.
 
Pada 2017, Anang Hermansyah sebagai anggota Komisi X mengusulkan RUU Permusikan masuk Program Legislasi Nasional. Sejak tahun itu pula, Anang naik jabatan dalam kepengurusan PAPPRI, dari Ketua Bidang Hubungan Pemerintah atau Kelembagaan menjadi Ketua Harian periode 2017-2022. PAPRI adalah Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia.
 
Proses pembuatan undang-undang ini sampai pada tahap pembuatan draf RUU Permusikan yang sudah jadi sejak 15 Agustus 2018. Namun draf ini baru bisa diakses publik dan menjadi pembahasan panas pada Januari 2019.
 
Bagi Deviana, praktisi musik memang butuh undang-undang atau produk hukum lain, tetapi fokusnya adalah kesejahteraan musisi, seperti standar honorarium dan asuransi.
 
"Bukan membatasi kreativitas, melainkan kesejahteraan profesi musik karena ini adalah profesi dengan banyak sekali bidang," ujarnya.
 

 

(ASA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi