Menurut Intan, pilihannya terhadap musik keroncong memang kehendaknya sendiri. Bukan karena dipaksa ibunya yang maestro di di dunia musik keroncong.
"Awalnya bukan karena paksaan. Tapi kemauan aku sendiri. Waktu masih kecil lihat ibu di konsernya aku maksa minta nyanyi bareng. Ibu bilang, jangan nanti nangis, nervous, sudah duduk saja," kata Intan Soekotjo di Studio Metro Tv, Jakarta.
Meski usianya baru 24 tahun, Intan mantap memilih musik yang identik dengan kalangan 'orangtua' itu. Intan tak memungkiri ada kesan 'berat' dari anak muda seusianya terhadap musik keroncong.
"Aku nanya ke teman muda kesannya (keroncong) mengerikan, berat banget. Makanya dicampur (genre musik lain) biar lebih menarik. Di situ teman muda lebih tertarik," katanya.
Bagi Intan, musik keroncong tidak hanya berbeda dari segi musikalitas. Tapi lebih dari itu, keroncong dianggapnya punya nilai historis di setiap lagu-lagunya.
"Di Jakarta kan macet, lagu keroncong itu healing buat kita untuk lebih rileks. Liriknya sangat puitis. Beberapa lagu keroncong juga menjelaskan sejarah Indonesia," terangnya.
Tak hanya mengombinasikan musik keroncong dengan musik lain yang lebih modern, Intan juga tampil berbeda dari segi pakaian. Intan kerap tampil dalam busana kebaya dengan yang lebih modern.
"Yang penting tetap sopan," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News