Adalah Suede, dan Primal Scream, dua band yang tentu sudah menginspirasi ribuan band lain di seluruh dunia, hadir ke Bali, tepatnya di Garuda Wisnu kencana. Jika Suede tampil pada hari pertama festival, Sabtu, 7 September, maka Primal Scream jadi penanggungjawab pesta penutup, pada Minggu, 8 September.
Sejak berdiri pada 1982, ini kali pertama Primal Scream tampil di Indonesia. Namun, albumnya sudah sangat familiar di kalangan penggemar indie rock atau electro-rock. Screamadelica, album ketiga Primal Scream yang monumental sangat mudah didapatkan di Indonesia. Sekaligus jadi koleksi wajib mereka yang gila musik.
DJ Dipha Barus bahkan mengaku salah satu band yang paling menginspirasinya adalah Primal Scream.
"Yang pertama bikin look up sama musik elektronik karena album Screamadelica. Terus sound-sound drum loop, piano, gospel choir, itu terinspirasi album Screamadelica. Sound itu sampai sekarang gue pakai," ujar Dipha tentang album yang dirilis Primal Scream pada 1991 itu.
Screamadelica bisa dibilang jadi album pertama Primal Scream yang sukses secara komersial. Beberapa media menempatkan album ini begitu tinggi. Media musik NME pernah memasukkan album ini ke dalam peringkat tiga besar Album Terbaik Tahun 1991. Sedangkan media Q memasukkan album ini dalam daftar 100 Album Inggris terbaik.
Mengenakan baju hologram, vokalis Bobby Gillespie tampak kalem memulai aksi dengan Movin' On Up. Rambutnya sebahu, badannya kurus, seakan dia tak kenal dengan apa yang orang-orang sebut dengan usia. Selain keriput yang nyaris ada di tiap lekuk wajah. Selebihnya, Bobby seperti baru saja keluar dari mesin waktu yang dia masuki pada tahun 1980-an.
Pembawaan Bobby yang santai, terlihat lemas, dan gaya menyanyi yang apa adanya, bukan alasan bagi penonton untuk tak menggoyangkan badan. Suara synthesizer yang membawa nuansa pesta era 1980-an tak mungkin ditolak tubuh.
Mereka membawakan sekumpulan hit, antara lain Jailbird, Miss Lucifer, Swastika Eyes, dan Loaded.
Di atas panggung, sosok yang sempat dikenal sebagai drummer The Jesus and Mary Chain itu tak banyak cakap. Tapi dia punya cara komunikasi yang membuat pendengarnya berkesan.
"Semuanya tolong hening, saya akan mengatakan sesuatu."
"You better go back to your mama. She'll take care of you," kata Bobby membisikkan lirik Country Girl.
Aksi Primal Scream kemarin malam mungkin tak intim, tetapi ini lebih dari cukup untuk membuat ribuan mimpi penggemarnya di Indonesia jadi kenyataan.
Setelah menyelesaikan lagu Country Girl, Primal Scream menutup penampilannya dengan lagu Rocks. Tanpa encore.
Penampilan Primal Scream seperti menyadarkan bahwa klimaks sebuah festival musik bukanlah aksi panggung yang menggebu-gebu dan membuat para penonton lepas kendali. Melainkan bersama-sama merayakan musik dari sosok yang selama ini disimpan dalam-dalam di kepala, dan pada suatu malam terkabul untuk melihatnya secara nyata.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News