Sekitar tahun 1950-an Indonesia mengenal musik-musik jazz. Saat itu peranan media radio disebut ikut memutar musik-musik bernuansa jazz di penjuru Tanah Air. Sembari mengenang, Benny Likumahuwa membandingkan nuansa jazz yang kini terjadi di Indonesia.
"Saya pertama main musik jazz tahun 1957. Pada waktu itu, saya instrumen semua, yang mana saja saya mainkan. Tapi keuntungannya karena saya masih mendapatkan suasana jazz asli yang dulu, sekarang enggak mengalami itu semua," terang Benny dalam program Shindu's Scoop, 21 Oktober 2019.
Benny Likumahuwa kali pertama diajak bergabung dalam The Rollies oleh para personelnya. Bersama The Rollies, Benny Likumahuwa banyak menulis dan menciptakan aransemen.
"Waktu itu saya banyak siaran di radio tentang jazz terus saya main jazz. Dari dulu memang saya main jazz dari kecil. Mereka pingin mengembangkan musiknya, mereka datang ketemu saya saya, berlima pendiri The Rollies: Deddy, Delly, Joko, Iwan Krisnawan, sama Iskandar," kata Benny.
Benny Likumahuwa bermain alat musik tiup trombon bersama The Rollies. Saat itu dia berpegang teguh menjadi berbeda ketika bergabung dengan The Rollies. "Ketika masuk saya punya prinsip dari dulu kalau kamu pingin menonjol, buatlah sesuatu yang orang tidak buat," kata Benny.
Ketika ditanya soal asal muasal belajar alat musik tiup dan dan menulis notasi, Benny menyebut bakat itu berasal dari pendekatan spiritual kepada Tuhan Yang Maha Esa.
"Tuhan yang mengajari saya, saya main saja. Jadi, enggak ada saya belajar dari siapa. Dengan kemampuan dalam diri saya," kata Benny.
"Kalau notasi dari gereja, saya biasa menulis, dari sana," lanjutnya.
Sebelum mantap bermain trombon untuk The Rollies, Benny Likumahuwa berkenalan dengan instrumen musik drum sejak usia 10 tahun. Butuh usaha besar pada zaman itu bagi Benny karena alat musik drum terbilang mahal. Dia pun harus mengunjungi RRI untuk berlatih.
Bersama The Rollies, Benny Likumahuwa turut berperan penting dalam menciptakan lirik dan aransemen lagu. Dikatakan, saat itu butuh satu bulan untuk memantapkan satu karya lagu.
"Mereka semua enggak bisa baca, saya jelaskan satu per satu. Latihan satu lagu bisa satu bulan, didengar dulu sampai masuk baru kita coba, sudah masuk dalam diri sekarang coba nyanyikan di alat," jelas Benny.
"Itu tidak gampang, dari suara ubah ke musik tidak gampang itu yang bikin makan waktu. Tapi belakangan orang mulai bisa walaupun belum bisa sekaligus baca, itu sangat menolong," kata Benny.
The Rollies tak sekadar bermusik. Hal yang disenangi Benny Likumahuwa ketika The Rollies berdampak untuk musisi lain. Seperti ketika God Bless mulai bermusik.
"Senangnya ini grup memajukan grup yang lain. Seperti, jangan kaget itu God Bless yang bikin kita. Mereka ingin bikin grup kita bantu pakai alat, semua, lagu yang mereka pilih kita bantu," kata Benny.
"The Rollies kebanyakan anak-anak dari Cikaso tinggalnya, tapi biar dari kampung kecil begitu kita berhasil mempengaruhi seluruh Indonesia," kata Benny.
Bersama The Rollies, Benny Likumahuwa sempat melakukan rekaman di Singapura. Sejumlah festival bertajuk jazz di luar Indonesia pernah dicicipi Benny Likumahuwa. Musisi kelahiran Kediri, Jawa Timur itu juga melakukan tur Indonesia bersama The Rollies.
Nama Benny Likumahuwa ikut bersinar ketika bergabung bersama The Rollies. Namun, ketika disuruh memilih bermusik sebagai identitas pribadi atau grup, dia bangga untuk bermusik dengan namanya.
"Saya sendiri. Enggak tahu, saya lebih suka dengar, menikmati apa yang saya mainkan," kata Benny.
Nyaris setengah abad Benny Likumahuwa mengikuti perkembangan musik jazz di Indonesia. Kini karyanya abadi atas nama pribadi dan karya bersama The Rollies. Benny Likumahuwa meninggal dalam usia 73 tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News