Lafa Pratomo, Ari Lesmana dan White Chorus (Foto: KithLabo)
Lafa Pratomo, Ari Lesmana dan White Chorus (Foto: KithLabo)

Lafa Pratomo, Ari Lesmana, dan White Chorus Bicara soal Hidup Secukupnya lewat “Juara Dua”

Agustinus Shindu Alpito • 08 Oktober 2026 16:59
Ringkasnya gini..
  • Lafa Pratomo, Ari Lesmana, dan White Chorus merilis “Juara Dua”, single keempat dari EP Garis Tegak.
  • “Juara Dua” membahas tekanan untuk terus bergerak dan gagasan bahwa seseorang tak harus selalu menjadi yang pertama.
  • Lagu “Juara Dua” dirilis 6 Oktober 2026 dan dilengkapi official lyric video, sementara video musik menyusul sepekan kemudian.
Jakarta: Lafa Pratomo, Ari Lesmana, dan White Chorus mempertemukan keresahan tentang tekanan untuk terus bergerak dalam “Juara Dua”. Lagu tersebut menjadi single keempat dari EP Garis Tegak dan mengangkat gagasan bahwa seseorang tidak harus selalu menjadi yang pertama untuk dapat menjalani hidup dengan lebih bahagia.

“Juara Dua” berangkat dari pertanyaan sederhana tentang ritme hidup dan ambisi. Bagi Lafa, menjadi “juara dua” bukan berarti gagal, melainkan pilihan ketika posisi tersebut justru membuat seseorang dapat menjalani hidup dengan lebih tenang. Gagasan itu sekaligus meneruskan tema resiliensi yang sejak awal menjadi payung proyek Garis Tegak.

Ari Lesmana membawa pengalaman personal tentang kehidupan dengan ritme kerja yang cepat. Di tengah kesibukan tersebut, ia mulai mempertanyakan apa sebenarnya yang sedang dikejar. Pada akhirnya, ketenangan dan kehidupan yang dijalani secukupnya menjadi hal yang lebih penting.
 
“Gak perlu validasi juga, gak perlu apa-apa gitu,” ujar Ari.

White Chorus menemukan kegelisahan serupa dari lingkungan musik. Mereka melihat kecenderungan sejumlah musisi untuk terburu-buru membuat dan merilis karya. Bagi mereka, memiliki tujuan tetap penting, tetapi pencapaian tersebut tidak harus dijadikan perlombaan dengan orang lain.

“kita tuh gak lomba sama orang lain,” kata White Chorus.
 

Berawal dari Beat yang Sempat Disimpan

Secara musikal, “Juara Dua” bermula dari materi yang dimiliki White Chorus. Mereka membawa enam pilihan beat ketika proses kolaborasi dimulai. Draft keenam kemudian dipilih sebagai titik awal lagu.

Saat itu, materi tersebut baru berupa beberapa bar dengan drum break dan gitar akustik. White Chorus sempat menyimpannya karena karakter musik tersebut dianggap tidak sejalan dengan konsep EP yang ketika itu direncanakan lebih elektronik dan menghentak.

Ari justru tertarik pada melodi dan karakter mentah dari materi tersebut. Setelah beberapa pilihan diputar berulang kali, mereka akhirnya sepakat mengembangkan draft keenam.

Proses pengembangan kemudian menghasilkan beberapa perubahan yang sebelumnya tidak dibayangkan White Chorus. Salah satunya adalah bagian yang lebih tenang dengan gitar akustik dan perubahan nada di tengah pola awal yang repetitif.

Ari melihat bagian tersebut sebagai titik ketika karakter Lafa, dirinya, dan White Chorus mulai menyatu. Perubahan itu juga memperkuat gagasan mengenai hak seseorang untuk menentukan pilihan atas hidupnya sendiri.

Menurut Emir, karakter drum break dari materi awal tetap dipertahankan. Namun, sampel drum yang digunakan pada versi awal kemudian berkembang menjadi permainan drum yang direkam ulang.

Lafa mengatakan proses pengerjaan “Juara Dua” berlangsung dalam dua pertemuan utama. Pertemuan pertama digunakan untuk membangun musik dan melodi melalui pertukaran referensi. Pada pertemuan berikutnya, mereka mulai mengembangkan lirik dari sejumlah potongan percakapan yang sebelumnya dicatat Lafa di aplikasi notes.

Dalam proses tersebut, Lafa berperan sebagai inisiator sekaligus penghubung berbagai gagasan yang dibawa masing-masing kolaborator. Pengalaman bersama kemudian menjadi bahan utama untuk membentuk cerita dalam lagu.
 
Kolaborasi juga memengaruhi komposisi vokal. Setelah mendengar rekaman Clara Friska Adinda yang dibuat lebih dulu, Ari memilih mengisi suara di bawahnya dan menemukan kecocokan warna vokal. Friska mendapat ruang untuk lebih menonjol, sementara karakter vokal Ari tetap terdengar kuat pada register rendah.

Keduanya kemudian saling berbagi register dan suara kedua. Bagi Lafa, perpaduan tersebut tetap berada dalam satu konteks cerita yang sama.

“Juara Dua” akhirnya lahir dari proses kolaborasi tersebut, bukan karena Lafa sengaja menempatkan tema emosional lagu sebagai bagian dari urutan rilisan EP. Ia juga memilih tidak mengunci satu tafsir untuk pendengar.

Bagi Ari, menjadi “Juara Dua” terasa relevan ketika pilihan tersebut justru membawa kebahagiaan dan ketenangan.

“Seperlunya, secukupnya itu sih,” tutup Ari.

“Juara Dua” dirilis pada 6 Oktober 2026 di berbagai platform musik digital, bersamaan dengan official lyric video. Video musiknya dijadwalkan menyusul satu minggu kemudian melalui kanal YouTube KithLabo.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA