Armada (Foto: dok. Medcom.id)
Armada (Foto: dok. Medcom.id)

Cerita Band Armada Hampir Bubar dan jadi ASN

Agustinus Shindu Alpito • 17 Juli 2026 11:24
Ringkasnya gini..
  • Armada mengungkap sempat sepakat membubarkan band jika album Buka Hatimu gagal di pasaran. Saat itu mereka sudah menyiapkan kehidupan baru.
  • Mai mengaku sempat pulang ke Palembang dan berniat mendaftar sebagai ASN, sementara personel lain telah menyiapkan rencana cadangan di luar dunia musik.
  • Ketika Armada hampir menyerah, lagu Buka Hatimu justru menjadi hit nasional dan mengantarkan mereka menjalani tur 30 kota, mengubah perjalanan band untuk selamanya.
Jakarta: Kesuksesan Armada hari ini membuat banyak orang lupa bahwa band asal Palembang itu pernah berada di titik ketika mimpi bermusik nyaris mereka akhiri. Jauh sebelum lagu-lagu seperti "Mau Dibawa Kemana," "Asal Kau Bahagia," atau "Pergi Pagi Pulang Pagi" diputar jutaan kali, Armada sudah menyiapkan jalan pulang.
 
Mereka bahkan telah menyepakati satu keputusan bersama. Jika satu album lagi gagal, maka perjalanan sebagai band selesai.
 
"'Buka Hatimu,' 'Mau Dibawa Ke Mana' itu adalah titik terendahnya kita sebenarnya. Kita sudah membuat perjanjian bahwa kalau album ini enggak berhasil, oke kita salaman, melanjutkan hidup dengan apapun yang menjadi pilihannya masing masing," kenang Rizal dalam wawancara eksklusif program pengarsipan musik Shindu's Scoop yang tayang di YouTube Medcom.id.

Keputusan itu lahir bukan karena mereka kehilangan kecintaan terhadap musik. Armada hanya sedang berdamai dengan kenyataan.
 
Sebelum album tersebut dirilis, mereka sudah lebih dulu merasakan pahitnya industri musik. Nama band sempat berganti dari Kertas menjadi Armada. Album pertama belum menghasilkan dampak seperti yang diharapkan. Bertahun tahun merantau ke Jakarta juga belum memberi kepastian bahwa mimpi mereka benar benar akan menjadi profesi.
 
Karena itulah mereka mulai menyiapkan rencana cadangan.
 
Andit berencana kembali meneruskan usaha keluarga. Sementara Mai bahkan sudah membayangkan masa depannya sebagai aparatur sipil negara.
 
"Kita tuh udah balik ke Palembang itu sebenarnya. Udah mau daftar jadi ASN. Karena menganggap bahwa ya udahlah enggak berhasil. Bukan jalannya," ujar Mai.
 
Situasi semakin rumit ketika promosi album baru saja dimulai. Armada hanya sempat tampil di beberapa program televisi sebelum semuanya terhenti akibat Rizal harus menjalani operasi usus buntu.
 
Bagi sebuah band yang sedang memperkenalkan album baru, berhentinya promosi berarti hilangnya momentum.
 
Mereka pulang ke Palembang dengan keyakinan bahwa perjalanan Armada telah berakhir.
 
Namun justru ketika semua harapan mulai dilepaskan, keadaan berubah secara drastis.
 
Rizal masih mengingat telepon dari manajer mereka sekitar satu bulan kemudian.
 
"Tiba tiba satu bulan kemudian manager kita nelpon bahwa, 'Eh lu balik ke Jakarta dah, kita mau tour 30 kota.' Kita enggak percaya. Terus kita disuruh cek NSP. Kita buka satu satu provider. Lagu Buka Hatimu nomor satu semua," katanya.
 
Armada yang sudah bersiap menjalani kehidupan baru mendadak harus kembali ke Jakarta.
 
"Gua yang harusnya recovery tiga bulan jadi sebulan. Oke, pekerjaan di depan mata," ujarnya.
 
Meski demikian, Rizal mengaku mereka tidak pernah merasa sepenuhnya yakin album tersebut akan mengubah nasib.
 
"Kalau dibilang punya kepercayaan diri seperti itu enggak seratus persen. Cuman memang kita ikhtiarnya maksimal. Rekamannya maksimal. Semua kita maksimalin," katanya.
 
Bagi Armada, keberhasilan bukan semata soal keyakinan, melainkan hasil dari kerja keras yang terus dilakukan bahkan ketika peluang terlihat semakin kecil.
 
Andit mengatakan sebelum album itu dirilis, mereka sudah duduk bersama dan memilih bersikap realistis.
 
"Kita tuh udah ada obrolan begitu. Yang penting kita keluarin. Mau jadi atau enggak itu terserah. Kalau jadi rezeki, kalau enggak mungkin ya sudah kita stop ikhtiar sampai sini. Kita akan melakukan plan B," ujarnya.
 
Bagi Rizal sendiri, meninggalkan Armada bukan berarti meninggalkan musik. Jika band bubar, ia tetap ingin bertahan di Jakarta sebagai penyanyi.
 
"Merantau adalah satu satunya jalan. Gue ngerasa modal gue waktu itu adalah dari pita suara gue ini. Jadi pengen gue maksimalin," kata Rizal.
 
Ketika akhirnya tur dimulai dan honor mulai mengalir, hal pertama yang mereka lakukan bukan membeli mobil atau rumah.
 
"Syukur, nangis, bayar utang," kata Rizal singkat.
 
Dua dekade kemudian, Armada masih berdiri sebagai salah satu band Indonesia dengan jumlah pendengar terbesar di platform digital. Simak wawancara Armada selengkapnya di bawah ini:
 

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA