Pertunjukan teater ditampilkan dengan diiringi musik yang menggabungkan alat musik modern dan tradisional. Meskipun diiringi lagu, pertunjukan itu bukanlah teater musikal di mana para pemerannya berdialog dengan menggunakan nyanyian. Musik dan lagu dalam teater ini menjadi pelengkap sekaligus instrumen utama dalam penyampaian pesan.
Teater ini juga dalam dialognya memberikan cukup banyak kritik sosial dengan cara halus tentang keadaan musik dan seniman tradisional, serta sebuah realita kehidupan. Sesekali penonton terbahak karena disuguhi humor di sela acara.
Tidak lupa Balawan dan Batuan Ethnic Fusion menampilkan kemampuan mengolah instrumen musik yang mengundang decak kagum dan tepuk tangan penonton.
Dalam teater ini, Balawan berperan sebagai Made, seorang seniman tradisional yang beralih profesi menjadi pengamen dengan membawakan lagu-lagu populer masa kini untuk mencari nafkah.
Dalam adegan awal, satu per satu para tokoh muncul di panggung. Mulai dari pengamen, tukang jual suling, jual topeng, supir taxi, dan sepasang wisatawan asing. Latar tempat dalam teater tersebut adalah Ubud, Bali.
Setelah terlibat percakapan yang cukup panjang, ternyata mereka semua (kecuali wisatawan asing) memiliki persamaan yakni dulunya merupakan seniman tradisional, namun terpaksa beralih profesi karena tidak bisa menghidupi keluarga.
Hal tersebut muncul dari beberapa ucapan yang dikatakan oleh pemeran, seperti "Musisi yang bertradisi tidak bisa beli nasi," "Musisi gamelan tidak bisa menghidupi keluarga."
Tidak lama kemudian, Made (Balawan) mengajak tokoh lain datang ke studio miliknya yang berada di daerah Sukawati. Studio musik tersebut tampak kotor berdebu akibat alat-alat musik gamelan jarang dimainkan.
Dalam studio tersebut juga terdapat poster dengan banyak muka orang. Perihal poster itu, Made menjelaskan, "Ini adalah poster penonton biar kita semangat kalau latihan dan merasa ada yang nonton. Saya juga punya rekaman orang tepuk tangan."
Sebuah pernyataan ironi tentang kurang dihargainya musik tradisional di Indonesia.
Para tokoh kemudian memainkan lagu dengan menggunakan instrumen musik yang berada di studio milik made. Ada gitar, bass, drum, gamelan, gendang, dan lain-lain.
Bermacam-macam musik disajikan untuk para penonton mulai dari jazz, klasik eropa, hingga tradisional, dan sesekali para pemain terlihat memamerkan kemampuan mereka dalam mengolah alat musik. Bahkan dalam beberapa lagu juga disajikan hiburan tambahan seperti vokal dan tarian.
Di sela-sela bermain musik, para tokoh sering terlibat diskusi yang (masih) menggambarkan kritik.
"Kalau band nampil dapat makan di kafe hotel, kalau pemain gamelan cuma dikasih nasi djenggo," ucap salah satu tokoh. "Tidak banyak sekolah yang punya gamelan. Kalau pun punya juga banyak yang tidak dimainkan," timpal tokoh lain.
Sebelum memasuki penghujung acara, para penampil sempat menyuguhkan pertunjukan khas Bali, yakni gending Basur dan tarian perang yang menggambarkan nilai kesakralan dalam tradisi Bali.
Di akhir pertunjukan, tokoh Made menjelaskan bahwa ia akan memainkan lagu yang berjudul Sunrise, dan menjelaskan bahwa lagu merupakan perumpamaan matahari yang terbit dari ufuk timur. Kemudian, teater ditutup adegan sang wisatawan asing berkenalan dengan para musisi tradisional sambil menyebutkan nama satu per satu.
Ini adalah sebuah pertunjukan teater yang memang tidak memiliki setting dan latar megah, namun akting, dialog, dan musik yang disuguhkan para penampil merupakan sebuah kombinasi pertunjukan yang layak mendapatkan tepuk tangan meriah.
Ya, para penonton pun benar-benar melakukan standing ovation saat teater tersebut diakhiri. Bahkan beberapa dari penonton berteriak "Lagi! Lagi! Lagi!"
Sesuai pertunjukan, Rabu (5/8/2015) malam, Balawan menyatakan kepuasannya atas pagelaran yang ditampilkan.
"Saya cukup puas dengan hasilnya. Biar pun saya hanya bikin script basic dan kebanyakan improvisasi, tapi semuanya berjalan lancar," ucap Balawan di ruang Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Penonton yang datang lumayan banyak, walaupun ada beberapa kursi kosong. Musisi asal Bali itu terkesan dengan atusiasme penonton yang hadir.
"Saya senang dengan penonton yang datang, meskipun saya punya ekspetasi akan sampai ada yang duduk lesehan, tapi enggak ada. Soalnya, waktu konser jazz sebelumnya yang duduk sampai lesehan ke bawah," aku Balawan.
Tak hanya Balawan yang puas, penonton pun tak menyesal telah meluangkan waktu menonton pertunjukan suguhan Balawan dan Batuan Ethnic Fusion.
"Menurut saya sih pertunjukan seperti ini bagus di mana ada kritik yang halus terhadap keadaan kebudayaan tradisional yang memang perlu lebih diperhatikan. Kritik seperti ini kan memang berasal dari bawah (masyarakat) ya, dan penampilan mereka bagus," ucap ibu Aan (59), salah seorang penonton.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News