"Dari bagusnya sampai jeleknya itu The Rollies semua. Musiknya bagus, tapi di bawah narkoba juga gila. Main perempuan gila," kata Benny Likumahuwa dalam program Shindu's Scoop, 21 Oktober 2019.
"Itu dimulainya dari Aceh, kita kontrak di Medan anak-anak semua terpengaruh. Dekat sekali ke Aceh. Dari ganja dulu, lama-lama berkembang pingin lebih, pindahlah," jelas Benny.
Tidak mudah untuk berhenti dari ketergantungan psikotropika. Benny memiliki kiat tersendiri ketika dia mencoba untuk berhenti, termasuk melindungi rekan-rekan The Rollies.
"Susah sekali, tapi saya remnya, mereka suka nagih, kalau mereka kecanduan saya dulu kerjanya minum keras, kasih minum saja, mabuk, lupa. Paling tidak untuk berapa jam lupa, begitu sadar cari lagi," kata Benny Likumahuwa.
Musisi kelahiran Kediri itu pun tak percaya jika psikotropika meningkatkan kreativitas. Baginya, itu hanya meningkatkan nyali dan melemahkan kinerja otak.
"Omong kosong kalau menambah kreativitas. Yang pasti itu mundur, cara berpikir lambat, semua lambat, tapi buat apa-apa berani," kata Benny.
Benny Likumahuwa ikut berkontribusi dalam menyuarakan musik-musik jazz di Indonesia. Secara personal maupun bersama The Rollies, karyanya abadi dan sarat nuansa jazz.
Kepergian Benny Likumahuwa ikut membawa duka cita mendalam. Benny Likumahuwa meninggal dunia pada Selasa, 9 Juni 2020 pukul 08.30 WIB dalam usia 73 tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News