Aksi solidaritas tersebut melibatkan kolaborasi antara skena hardcore Korea Selatan dan komunitas metal Jepang. Gerakan ini menjadi bukti bahwa semangat kebersamaan di dalam pit tidak berhenti pada panggung dan musik, tetapi juga diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama.
Berpegang pada prinsip DIY yang mengedepankan kemandirian dan gotong royong di dalam komunitas, sejumlah pegiat skena dari dua negara tersebut bersatu untuk membantu Ariel, baik dari sisi finansial maupun dukungan selama menghadapi proses hukum.
Kronologi Insiden yang Berujung Proses Hukum
Berdasarkan unggahan Instagram band hardcore asal Seoul, No Shelter, pada 27 Juli 2026, insiden yang dialami Ariel terjadi saat RAMPAGE FEST SUMMER 2026 di Seongsu, Seoul, pada 27 Juni 2026.Saat festival berlangsung, Ariel melakukan aksi stage diving. Namun, aksinya tersebut berujung insiden setelah seorang penonton terjatuh dan mengalami cedera akibat tidak mampu menahan beban tubuh Ariel.
Setelah kejadian tersebut, penonton yang mengalami cedera mengambil langkah hukum dan menuntut kompensasi kepada Ariel atas luka yang dialaminya.
Situasi tersebut kemudian menjadi perhatian komunitas hardcore Seoul. Pasalnya, Ariel merupakan pekerja Indonesia yang tengah mencari penghasilan di Korea Selatan dan dikhawatirkan menghadapi konsekuensi hukum yang lebih besar, termasuk kemungkinan deportasi.
"Ariel adalah seorang pekerja pabrik Indonesia yang datang ke Korea untuk mendapatkan penghasilan yang jujur dan mendukung keluarganya. Jumlah yang diminta jauh melebihi kemampuan yang mungkin dia miliki. Selain itu, sekarang dia hidup dengan rasa takut bahwa kasus ini bisa menyebabkan dia dideportasi dari Korea," tulis pihak No Shelter.
Gelar Benefit Show untuk Ariel
Melihat kondisi yang dihadapi Ariel, sejumlah band dari skena hardcore Seoul kemudian menggelar BROTHERHOOD: BENEFIT SHOW FOR ARIEL sebagai bentuk dukungan sekaligus upaya mengumpulkan dana untuk membantu proses yang sedang dijalaninya.
Acara ini sengaja tidak membuka akses tiket daring. Setiap pengunjung dapat membeli tiket langsung di lokasi (on the spot) seharga 20.000 won (sekitar Rp254 ribu), di mana seluruh hasil penjualan tiket disalurkan tanpa potongan langsung kepada Ariel.
Sejumlah band dari skena hardcore Seoul turut ambil bagian dalam acara tersebut, di antaranya No Shelter, Desonide, Cutt Deep, Palecistus, dan Turn For Our.
Tak berhenti di Korea Selatan, gelombang empati merembet hingga ke Negeri Sakura. Unit slam death metal asal Jepang, Hexphobia, tergerak merilis merchandise khusus untuk menggalang dana. Seluruh keuntungan penjualan kaos tersebut didonasikan penuh untuk membantu biaya perkara hukum Ariel.

​Berdasarkan bukti transaksi yang dipublikasikan, Hexphobia resmi mentransfer donasi sebesar 30.250 yen (sekitar Rp3,4 juta) pada 14 Agustus 2026 kemarin. Dalam catatan pengiriman, tertera pesan hangat: "Donation for hardcore brother Ariel".
Aksi lintas negara ini menunjukkan bahwa bagi komunitas hardcore, semangat persaudaraan tidak hanya hadir ketika musik dimainkan di atas panggung. Ketika salah satu anggota komunitas menghadapi persoalan, jalinan solidaritas itu bergerak nyata dari dalam pit menuju aksi kemanusiaan.