Kak Seto (Foto: Instagram @kaksetosahabatanak)
Kak Seto (Foto: Instagram @kaksetosahabatanak)

Dianggap Pernah Menolak Bantu Aurelie Moeremans, Kak Seto Kembali Klarifikasi

Basuki Rachmat • 15 Januari 2026 16:20
Jakarta: Seto Mulyadi alias Kak Seto kembali menuliskan klarifikasi terbuka usai namanya ikut terseret dalam viralnya memoar Broken Strings karya Aurelie Moeremans yang mengungkap pengalaman pahitnya di masa remaja sebagai korban child grooming.
 
Sorotan terhadap Kak Seto menguat lantaran ia disebut sempat dimintai perlindungan oleh orang tua Aurélie sebanyak empat kali ketika masih menjabat sebagai pimpinan Komisi Nasional Perlindungan Anak. Respons yang dinilai minim pada masa itu pun kembali dipertanyakan, memicu kritik tajam dari warganet.
 
Menanggapi hal tersebut, Kak Seto akhirnya kembali angkat bicara. Melalui unggahan Instagram Story di akun pribadinya, @kaksetosahabatanak, pada Rabu, 14 Februari 2026, ia menyampaikan klarifikasi terbuka sekaligus refleksi atas sikap dan praktik pendampingan anak di masa lalu.

“Kami mengikuti dengan sungguh-sungguh diskusi publik yang berkembang, termasuk berbagai kutipan dan pernyataan di masa lalu yang kembali diangkat,” tulis Kak Seto di Instagram @kaksetosahabatanak.
 
Ia menjelaskan bahwa pendekatan dalam pendampingan anak telah mengalami perubahan signifikan seiring berkembangnya pemahaman dan standar perlindungan anak saat ini.
 
“Perlu kami sampaikan bahwa praktik pendampingan anak dan cara pandang terhadap relasi kuasa, kerentanan remaja, serta dampak psikologis jangka panjang telah mengalami perkembangan yang sangat signifikan,” lanjutnya.
 
Menurut Kak Seto, setiap langkah dan pernyataan yang disampaikan pada masa lalu dilakukan berdasarkan pengetahuan dan kerangka pemahaman yang berlaku saat itu.
 
Dianggap Pernah Menolak Bantu Aurelie Moeremans, Kak Seto Kembali Klarifikasi
 
"Pada masanya, setiap pendampingan dan pernyataan disampaikan berdasarkan pengetahuan, kewenangan, serta kerangka pemahaman yang berlaku saat itu,” lanjut Kak Seto," tutur Kak Seto.
 
Meski demikian, ia mengakui bahwa standar perlindungan anak saat ini menuntut kepekaan dan perspektif yang jauh lebih kuat.
 
"Namun kami menyadari bahwa standar perlindungan anak hari ini menuntut kepekaan, kehati-hatian, dan perspektif yang jauh lebih kuat terhadap potensi manipulasi, tekanan emosional, dan ketimpangan kuasa,” tulisnya.
 
Refleksi atas praktik masa lalu, kata Kak Seto, menjadi bagian dari proses pembelajaran berkelanjutan demi memperkuat sistem perlindungan anak ke depan.
 
“Oleh karena itu, kami menjadikan refleksi atas praktik masa lalu sebagai bagian dari proses pembelajaran berkelanjutan untuk memperkuat perlindungan anak ke depan,” kata Kak Seto.
Dalam klarifikasinya, psikolog anak tersebut juga menegaskan sikap tegas terhadap segala bentuk child grooming.
 
“Kami mengecam segala bentuk manipulasi, relasi tidak setara, dan praktik child grooming,” tulisnya.
 
Ia menegaskan bahwa anak tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas relasi yang dibangun secara manipulatif dan tidak setara. 
 
Selain itu, Kak Seto turut menyampaikan apresiasi kepada para penyintas yang berani bersuara di ruang publik.
 
"Kami memandang suara tersebut sebagai pengingat penting agar sistem perlindungan anak terus diperbaiki, diperkuat, dan semakin berpihak pada kepentingan terbaik anak,” tambahnya.
 
Di akhir pernyataannya, Kak Seto mengajak masyarakat untuk menyikapi isu sensitif ini dengan empati dan kebijaksanaan, sembari tetap fokus pada tujuan bersama.
 
“Kami mengajak seluruh pihak untuk menyikapi isu ini dengan empati, kebijaksanaan, dan fokus pada tujuan bersama: menciptakan ruang yang aman bagi anak-anak Indonesia hari ini dan di masa depan” tutupnya.
 
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan