Tsania Marwa bersama Ghinarai dan keluarga (Foto: instagram)
Tsania Marwa bersama Ghinarai dan keluarga (Foto: instagram)

Tsania Marwa Bangga Sang Adik, Ghina Raihanah Terbitkan Buku

Elang Riki Yanuar • 21 September 2026 19:20
Ringkasnya gini..
  • Tsania Marwa bangga melihat sang adik, Ghina Raihanah Tadjoedin, meluncurkan buku Becoming Without Arrival di usia 25 tahun.
  • Ghina Raihanah Tadjoedin merilis Becoming Without Arrival sebagai refleksi perjalanan hidup dan hadiah ulang tahun ke-25.
  • Becoming Without Arrival mengajak pembaca menghargai proses kehidupan melalui refleksi diri, metafora alam dan laut, artwork, serta ruang journaling.
Jakarta: Tsania Marwa mengungkapkan rasa bangganya kepada sang adik, Ghina Raihanah Tadjoedin, yang baru saja meluncurkan buku berjudul Becoming Without Arrival. Momen tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan Tsania terhadap perjalanan kreatif Ghina yang dituangkan melalui karya literasi.

Peluncuran Becoming Without Arrival digelar dalam acara bertajuk Ghinarai Tadjoedin's Immersive Literary Experience di Museum Macan, Jakarta Barat, Minggu, 20 September 2026. Acara tersebut sekaligus menjadi ruang bagi Ghina untuk memperkenalkan proses kreatif di balik buku yang ditulisnya.

Buku terbitan TransMedia Pustaka itu memiliki ketebalan 128 halaman. Becoming Without Arrival menjadi refleksi Ghina dalam memandang perjalanan hidupnya hingga memasuki usia 25 tahun.

Bagi Tsania Marwa, perjalanan Ghina dalam menghasilkan buku tersebut menjadi sesuatu yang patut diapresiasi. Dia bahkan melihat sang adik sebagai sosok yang justru kerap memberikan pelajaran kepadanya.

"Ghina adalah sosok adik yang justru mengajarkan banyak hal. Fun fact-nya ketika sekolah meminta saya yang menuliskan tugas puisi. Seiring jalan waktu, ambisi dan konsistensi, itu yang membuat Ghina bisa menjadi dia hari ini," ungkap Tsania Marwa. 
 
Tsania juga menyampaikan kebanggaannya terhadap berbagai karya yang telah dihasilkan Ghina. Menurut dia, perjalanan sang adik dalam berkarya merupakan bentuk ekspresi seni yang layak dirayakan.

"We are so proud of you, apa pun yang Ghina lakuin, itu semua untaian sebuah seni yang akhirnya menjadi buku. Tetaplah jadi perempuan cantik dengan segala ambisi positifnya," kata Tsania Marwa. 

Bagi Ghina, Becoming Without Arrival sebagai bentuk refleksi sekaligus hadiah untuk dirinya sendiri setelah merayakan ulang tahun ke-25. Dia mengatakan isi buku tersebut tidak hanya berangkat dari pengalaman pribadi, tetapi juga hasil pengamatannya terhadap kehidupan selama seperempat abad.

"Sebenarnya tidak hanya diri sendiri sih, gimana aku mengobservasi gitu selama 25 tahun. Sedikit hadiah untuk aku yang kemarin juga baru berulang tahun, jadi lebih ke bagaimana aku memaknai kehidupan secara umum saja," ungkap Ghina.

Melalui buku tersebut, Ghina mengangkat tema self-development dengan pendekatan yang berbeda. Dia menggunakan metafora alam dan laut untuk menggambarkan perjalanan seseorang dalam mengenali perasaan, menerima perubahan, serta menghargai proses kehidupan.

"Sebenarnya bukunya self-development tentang POV anak kecil sampai anak umur 25 tahun, bagaimana memaknai perasaan sampai akhirnya mengerti kalau proses itu harus sama-sama dihargai, kalau kita tuh tidak hanya sampai di titik tertentu untuk kita baru akhirnya percaya diri dan nyaman sama diri sendiri. Tapi kita bungkus nih metaforanya dengan alam dan laut. Makanya banyak kontributor-kontributor juga di sini yang menunjukkan artwork-nya, gitu," jelas Ghina.
 
Konsep tersebut membuat Becoming Without Arrival tidak hanya berisi tulisan reflektif. Buku ini juga dilengkapi artwork bertema laut dari sejumlah kontributor serta ruang journaling yang dapat digunakan pembaca untuk menuangkan pemikiran dan pengalaman mereka.

Ghina mengajak pembaca untuk tidak menjadikan pencapaian tertentu sebagai satu-satunya ukuran dalam proses mengenal diri. Baginya, perjalanan menuju titik tertentu justru memiliki nilai yang perlu dihargai sepanjang prosesnya.

"Bagaimana memaknai perasaan sampai akhirnya mengerti kalau proses itu harus sama-sama dihargai. Kita tidak perlu menunggu sampai di titik tertentu untuk baru akhirnya percaya diri dan nyaman sama diri sendiri," katanya. 

Selain Tsania Marwa, Elle Wibisono, jurnalis Andini Effendi dan sutradara Wregas Bhanuteja memeriahkan acara lewat acara bincang-bincang seputar proses kreatif, perjalanan manusia, serta bagaimana pengalaman dapat diterjemahkan menjadi karya. 








 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA