Cerita  Anissa Aziza sebagai juggling mom (Foto: Medcom.id/Umi Kulsum)
Cerita Anissa Aziza sebagai juggling mom (Foto: Medcom.id/Umi Kulsum)

Anissa Aziza Jalani Peran Juggling Mom: Keluarga Tetap Jadi Prioritas

Muhammad Syahrul Ramadhan • 23 April 2026 20:16
Ringkasnya gini..
  • Anissa Aziza menjalani peran sebagai juggling mom bukan tanpa tantangan.
  • Ia bercerita, memasak bukanlah hal yang sejak awal ia kuasai. Bahkan, ia baru benar-benar belajar setelah menikah.
  • Ia belajar untuk tidak membebani diri dengan standar tinggi.
Jakarta: Perempuan masa kini kerap dihadapkan pada berbagai peran yang harus dijalani secara bersamaan. Tidak hanya aktif di ranah profesional dan mengejar passion, mereka juga tetap memegang peran penting dalam keluarga. 
 
Kondisi ini melahirkan sosok juggling mom, yakni perempuan yang berupaya menyeimbangkan berbagai tanggung jawab dalam keseharian.  Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 mencatat bahwa 45,25 persen perempuan Indonesia bekerja di sektor formal, mencerminkan peran yang semakin luas dalam ekonomi sekaligus keluarga. 
 
Salah satunya adalah Anissa Aziza. Baginya, menjalani peran tersebut bukan tanpa tantangan. Ia mengaku, kesehariannya diisi dengan berbagai aktivitas, mulai dari mengurus keluarga hingga pekerjaan di luar rumah. Di tengah kesibukan itu, ia tetap berusaha menempatkan keluarga sebagai prioritas utama.

“Walaupun kita punya banyak aktivitas, keluarga tetap nomor satu. Dari mulai ngurus anak, suami, baru setelah itu ke pekerjaan,” ujarnya pada 21 April 2026 dalam acara Media Gathering yang bertajuk Dukung Kartini Masa Kini, Sasa Hadirkan Solusi Masak Lezat Habis Tanpa Sisa.
 
Perjalanan Anissa dalam mengelola peran ini juga terlihat dari pengalamannya di dapur. Ia bercerita, memasak bukanlah hal yang sejak awal ia kuasai. Bahkan, ia baru benar-benar belajar setelah menikah. Proses tersebut sempat membuatnya merasa canggung dan tidak percaya diri.
 
Namun seiring waktu, istri Raditya Dika ini mulai menemukan ritme. Dari yang awalnya bingung harus memasak apa, hingga akhirnya memahami pola, bahan, dan cara yang paling sesuai dengan kebutuhannya sehari-hari.
 
“Awal-awal pasti kaget dan berantakan. Tapi lama-lama ketemu ritmenya, jadi lebih tahu harus masak apa dan bagaimana caranya,” katanya.
 
Di tengah keterbatasan waktu, Anissa juga menyiasati aktivitas memasak dengan cara yang lebih praktis. Ia memilih bahan-bahan sederhana dan menu yang mudah diolah, tanpa mengesampingkan kebutuhan nutrisi keluarga. Baginya, kunci utama bukan pada kerumitan masakan, melainkan keseimbangan antara kecepatan, rasa, dan nilai gizi.
 
Salah satu tantangan terbesar, menurutnya, adalah memastikan makanan tetap disukai keluarga. 
 
“Nutrisi itu penting, tapi rasanya juga harus enak. Biar anak tetap semangat makan,” tambahnya.
 
Dalam prosesnya, Anissa menyadari bahwa memasak tidak harus selalu sempurna. Ia belajar untuk tidak membebani diri dengan standar tinggi, melainkan fokus pada keberanian untuk mencoba dan konsistensi dalam belajar.
 
Dalam kesempatan yang sama, Head of Marketing PT Sasa Inti, Ranie Wulandari, menyoroti perubahan peran perempuan yang kini semakin dinamis. Ia menyebut, perempuan masa kini tidak lagi hanya berada di satu peran, melainkan menjalani berbagai aktivitas sekaligus, baik di ranah domestik maupun profesional.
 
Menurut Ranie, dukungan terhadap perempuan, termasuk dalam aktivitas sehari-hari seperti memasak, menjadi penting agar mereka dapat menjalani berbagai peran dengan lebih seimbang.(Umi Kulsum)

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)




TERKAIT

BERITA LAINNYA