Melansir dari The Guardian, Mehdi Mahmoudian dijemput paksa pada Sabtu, 31 Januari 2026. Dalam pernyataan yang ia tandatangani bersama sejumlah tokoh lainnya, secara tegas disebutkan bahwa rezim represif di bawah kepemimpinan Ali Khamenei bertanggung jawab penuh atas berbagai kekejaman yang terjadi.
Tokoh Aktivis dan Rekan Mehdi Turut Diringkus
Tak hanya Mehdi Mahmoudian, dua nama lain dari 17 penandatangan pernyataan tersebut, yakni Vida Rabbani dan Abdullah Momeni, juga ikut diringkus. Hingga kini, pihak berwenang masih menutup rapat informasi terkait detail dakwaan yang dijatuhkan kepada mereka.Ironisnya, penangkapan ini terjadi saat film It Was Just an Accident berada di puncak popularitas internasional. Setelah sukses menyabet penghargaan tertinggi Palme d’Or di Festival Film Cannes 2025, film tersebut kini bersaing memenangkan kategori Film Internasional Terbaik dan Skenario Terbaik di ajang Piala Oscar 2026 yang akan berlangsung pada 15 Maret mendatang.
Sinopsis Film It Was Just an Accident
Film It Was Just an Accident membawa pesan yang kuat mengenai pergulatan batin para mantan tahanan politik di Iran. Mereka dihadapkan pada pilihan sulit antara memaafkan atau membalas dendam kepada sosok yang pernah menyiksa mereka di masa lalu.Ceritanya bermula dari sebuah insiden kecil di jalan yang mempertemukan Eghbal (Ebrahim Azizi) dan Vahid (Vahid Mobasseri) di sebuah bengkel. Pertemuan ini membuka kembali luka lama dan memunculkan ketegangan yang mempertanyakan identitas serta kebenaran masa lalu.
Selain Mehdi Mahmoudian, skenario film ini juga ditulis oleh Jafar Panahi, Nader Saeivar, dan Shadmehr Rastin.
Kedekatan Mehdi Mahmoudian dengan Sutradara Jafar Panahi
Mehdi Mahmoudian sebenarnya lebih dikenal sebagai jurnalis dan aktivis kemanusiaan. Ia bertemu dengan Jafar Panahi, sutradara film It Was Just an Accident, saat keduanya mendekam di balik jeruji besi. Panahi memuji sosok Mehdi Mahmoudian yang memiliki "pembawaan tenang", "sikap yang santun", serta "rasa tanggung jawab yang luar biasa terhadap sesama".“Setiap ada narapidana baru yang datang, Mehdi selalu berusaha menyediakan kebutuhan dasar mereka dan, yang lebih penting, memberikan ketenangan,” ujar Panahi.
“Ia menjadi pilar yang menenangkan di dalam penjara—sosok yang dipercaya dan menjadi tempat berkeluh kesah bagi narapidana dari berbagai latar belakang dan keyakinan,” lanjutnya.
Setelah Mehdi Mahmoudian bebas, Jafar Panahi mengajaknya untuk mempertajam dialog dalam skenario film tersebut. Panahi mengandalkan pengalaman mendalam Mehdi selama sembilan tahun hidup di dalam penjara untuk menghidupkan suasana film.
Krisis Ekonomi dan Gejolak Politik di Iran
Aksi penangkapan para tokoh vokal ini terjadi di tengah gejolak protes nasional yang dipicu oleh krisis ekonomi yang memburuk di Iran sejak akhir Desember 2025. Pemerintah merespons demonstrasi tersebut dengan tindakan keras, termasuk memutus akses internet secara total untuk membungkam aspirasi publik.Terdapat perbedaan mencolok mengenai data korban jiwa dalam konflik ini. Meski pemerintah secara resmi mencatat angka kematian sebanyak 3.117 jiwa, berbagai jaringan tenaga medis independen memberikan estimasi yang jauh lebih besar, yakni diduga telah mencapai lebih dari 30.000 jiwa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News