Jakarta: Putra mendiang Mpok Alpa yang bernama Alfatih memiliki cara istimewa dan mengharukan untuk merayakan keberhasilannya naik ke kelas di sekolah dasar. Usai menerima rapor, bocah berusia sembilan tahun itu justru memiliki keinginan yang membuat sang ayah, Aji Darmaji, tak kuasa menahan haru.
Keinginan tersebut adalah mengunjungi makam ibundanya yang meninggal dunia pada Agustus 2025. Alfatih ingin menyampaikan langsung kabar bahagia mengenai prestasi sekolah yang baru saja diraihnya. Alfatih merasa sang ibu perlu mengetahui bahwa dirinya berhasil naik kelas.
"'Bah, kasih kabar Mami', katanya gitu, 'Biar Mami seneng'. Kayak gitu kan, saya langsung nyesek aja di hati ya, kayak ngembang air mata tuh nggak kuat. 'Ya udah ayo', udah langsung saya setir aja langsung ke sana. Berdua-duaan aja ama Alfatih kayak gitu," kata Aji Darmaji.
Perjalanan menuju tempat peristirahatan terakhir Mpok Alpa pun menjadi momen penuh emosi bagi ayah dan anak tersebut. Di tengah kerinduan yang masih membekas, keduanya berangkat bersama untuk memenuhi keinginan sederhana Alfatih.
Sesampainya di makam, Alfatih langsung menghampiri pusara sang ibu. Dengan penuh semangat, ia membawa rapor yang baru diterimanya dan meletakkannya di atas makam. Ia ingin sang ibu melihat hasil kerja kerasnya selama satu tahun terakhir.
"Alfatih tuh seneng banget mau ngabarin Mami, lapor rapornya itu langsung ditaruh di makam ya, ditaruh di makam ya. Katanya, 'Biar Mami lihat'. Ya namanya anak kecil ya, kita ngimbangin aja," tuturnya.
Aji menjelaskan bahwa ide untuk membawa rapor ke makam sepenuhnya berasal dari Alfatih. Tidak ada pihak keluarga yang mengarahkan atau menyarankan hal tersebut. Keinginan itu muncul dari kerinduan mendalam seorang anak kepada ibunya.
"Iya dari dia, Alfatih emang ngomong yang minta. Katanya, 'Biar Mami seneng', kayak gitu. 'Aku naik kelas', kayak gitu. Jadi setiap naik kelas tuh momennya nanti ditanya mau hadiah apa, mau jalan-jalan kemana," jelasnya.
Kehadiran Mpok Alpa yang kini hanya tinggal kenangan membuat momen pembagian rapor tahun ini terasa berbeda. Ini menjadi pertama kalinya Alfatih menjalani pencapaian sekolah tanpa sosok ibu yang selama ini selalu berada di sisinya.
Meski kehilangan masih terasa begitu kuat, Aji Darmaji berusaha menjalankan peran sebagai orang tua sebaik mungkin. Ia kini bertanggung jawab mendampingi pendidikan putranya sekaligus memastikan Alfatih tetap mendapatkan dukungan dari keluarga.
"Untuk saat ini ya, tahun ini kan nggak ada almarhum ya, saya sendiri semua yang ngejalanin kayak ambil rapor, kayak lihat nilai, dan dibantu juga kan Alfatih sama kakaknya almarhum buat belajarnya," tutupnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan