Ilustrasi (Foto: Dreamstime)
Ilustrasi (Foto: Dreamstime)

Viral Adegan Joget di Depan Ibu yang Sakit, Bagaimana Seharusnya Sinetron yang Ideal?

Hiburan sinetron montase film
Sunnaholomi Halakrispen • 29 Januari 2021 07:00
Jakarta: Sinetron merupakan salah satu tayangan televisi yang menarik perhatian masyarakat. Namun, sejumlah cuplikan sinetron dianggap tidak layak bagi masyarakat, hingga diperbincangkan di jagat dunia maya. Lalu, adakah kriteria untuk tayangan sinetron terbaik?
 
Beberapa hari terakhir, jagat internet diramaikan dengan potongan adengan sebuah sinetron, yang mempertontonkan seorang anak dan ayahnya berjoget di depan ibunya yang tengah sakit keras. Entah ini sebuah parodi, humor, atau apapun maksudnya, warganet tampaknya cukup terheran-heran dengan ide adegan ini. Sang ibu yang dalam cerita itu sakit tak sadarkan diri, mendadak bangun ketika anak dan suaminya berjoget. Cerita yang absurd.
 
Sejatinya, sinetron adalah karya seni yang tidak dibatasi oleh kriteria tertentu. Di sisi lain,  saat ini sejumlah adegan dari sinetron satu dengan sinetron lainnya seakan serupa. Hal itu disampaikan oleh Ketua Komite Film DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) 2016-2020 Hikmat Darmawan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia mengatakan bahwa adegan yang banyak digunakan itu dianalisis berdasarkan stereotip atau single naratif. Padahal, kata Hikmat, seni dalam hal ini sinetron, seharusnya multiple naratif.
 
"Single naratif itu misalnya sinetron harus close up berkali-kali ke alis, musiknya mengguncang. Template musik yang kalau sedang mencari anak seakan harus orkestra dramatis, seperti pasukan kuda mau menyerang apa gitu," ujar Hikmat kepada Medcom.id.
 
"Kalau ada sinetron yang mau membuat sinetron tidak seperti itu (berbeda dari sinetron lainnya), maka dianggap tidak wajar atau tidak laku," tambahnya.
 
Ia menjelaskan, solusi terbaiknya ialah melakukan analisis mendalam terhadap kondisi masyarakat yang dijadikan subjek dalam cerita sinetron tersebut. Sehingga, logika cerita dalam sinetron tersebut pun masuk akal, karena menggambarkan kondisi masyarakat dengan apa adanya alias jujur.
 
"Bukan hanya ingin mencari uang dengan cepat namun mengatasnamakan masyarakat inginnya begini atau begitu. Itu kan enggak jujur," jelasnya.
 
Ia meyakini, masyarakat ingin menikmati sinetron dengan kualitas cerita yang masuk akal dan mengedukasi. Sebab, tidak ada masyarakat yang ingin dibodoh-bodohi.
 
"Saya enggak terima kalau alasannya karena masyarakat pendidikannya rendah, jadi enggak bisa diberikan sinetron yang canggih (bermutu). Kalau ada yang bilang begitu, mana hasil surveinya saya mau lihat. Ada samplingnya dari mana," pungkasnya.
 
 
(ASA)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif