Brilliana Arfira Desy pemeran Yu Ning di film Tilik. (Foto: Dok. Pribadi)
Brilliana Arfira Desy pemeran Yu Ning di film Tilik. (Foto: Dok. Pribadi)

Wawancara Eksklusif Brilliana Desy, Pemeran Yu Ning di Film Tilik

Hiburan montase film Film Pendek
Cecylia Rura • 25 Agustus 2020 17:59
Jakarta:Brilliana Arfira Desy mendapat peran untuk Yu Ning dalam film pendek Tilik. Dalam durasi 32 menit, dia beradu argumentasi dengan Bu Tejo, Bu Tri, dan Yu Sam perihal Dian, kembang desa yang banyak dikagumi para pria termasuk pria beristri.
 
Film Tilik mencuri perhatian publik sejak dirilis pada 17 Agustus 2020 melalui YouTube Ravacana Films. Hingga berita ini ditulis, film Tilik mendapat lebih dari 10 juta penayangan. Padahal, film Tilik sudah dirilis sejak 2018 bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY. Sebelumnya, film Tilik juga ditayangkan di TVRI nasional.
 
Semula, aktris yang karib disapa Mami Brilli itu sempat di-casting menjadi Bu Tejo. Selama kurang lebih 11 tahun menekuni panggung teater dan sebagai aktor, Mami Brilli baru merasakan jerih payahnya ketika publik menyadari keberadaannya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mami Brilli juga antusiasi ketika Bu Tejo dan Yu Ning banyak diperbincangkan karena akting mereka yang begitu dekat dengan realita di masyarakat. Di samping itu, dia juga berbicara soal kiprahnya di dunia akting baik untuk tugas akhir anak kuliah di Yogyakarta maupun untuk pekerjaan film.
 
Selama kurang lebih 60 menit Mami Brilli menyempatkan waktu senggang untuk berbincang seputar film Tilik yang ramai diperbincangkan di media sosial. Pembawaannya yang ceplas-ceplos membuat suasana wawancara meski via ponsel terasa hangat.
 
Berikut hasil wawancara Medcom.id bersama Brilliana Arfira Desy, pemeran Yu Ning dalam film Tilik, Jumat, 21 Agustus 2020:
 
Sebelumnya, selamat ya Mami Brilli buat film Tilik!
 
Alhamdulillah terima kasih sudah menonton Tilik, sudah mengapresiasi film kami.
 
Bagaimana melihat responsnya? Kemarin di Twitter ramai, di media ramai, di YouTube sampai jutaan penayangan.
 
Awalnya itu karena syutingnya sudah dari 2018, ya. Kami enggak mengira di tahun 2020 pas di-share di YouTube jadi boom kayak gitu. Padahal waktu itu juga pernah disetel di Dinas Kebudayaan sebetulnya. Jadi beberapa film Danais (Dana Istimewa dari Dinas Kebudayaan DIY untuk pelaku seni produksi karya) itu kan disetel bareng-bareng kebetulan saya main di tiga film di situ. Jadi berurutan ada aku terus.
 
Waktu itu, ya, mereka responsnya sudah bagus, tapi mungkin karena disetelnya masih di dinas aja. Waktu kemarin sempat disetel pas pandemi sampai dua kali kalau enggak salah di TVRI nasional. Tapi itu juga responsnya masih biasa-biasa aja.
 
Setelah di YouTube itu, mungkin karena Tilik bertemu dengan penontonnya se-Indonesia karena YouTube bisa ditonton oleh orang semua negara. Akhirnya boom itu. Mungkin waktu di TVRI nasional hanya orang-orang tertentu aja yang sering nonton TVRI, kan. Film itu sudah lama dari 2018 sebetulnya.
 
Pernah saya bilang sama Mas Agung (sutradara film) waktu JAFF tahun kemarin, “Mas, kenapa, sih, film Tilik enggak kamu ini (rilis) di YouTube? Dia bilang nanti, mi (mami). Nantilah tunggu momen yang pas.
 
Dan Alhamdulillah mungkin memang kemarin momennya itu pas banget tanggal 17 Agustus dan sama sekali kita enggak mengira bakalan, oh, ternyata film kami itu banyak sekali yang mengapresiasi. Banyak banget yang senang. Memang orang-orang itu sepertinya suka dengan film-film yang mungkin dianggap ringan. Enggak harus mikir, enggak harus terlalu serius.
 
Sebetulnya kami enggak melucu itu, padahal. Di film itu bukan kami berusaha melucu, tetapi dari guliran-guliran obrolannya aja yang asyik karena bahasa Jawa, dan yang main memang kebetulan talent-talent Jogja. Baru kali ini aku melihat ada film yang tanpa artis Jakarta tapi kok bisa begini kerennya.
 
Dan Mami Brilli ternyata juga main di Bumi Manusia, ya?
 
Iya, Bumi Manusia ada, lalu Milea itu (Milea: Suara dari Dilan) walaupun cuma dua scene waktu itu karena memang di Jogja cuma syuting dua hari aja.
 
Untuk film panjangnya apa saja?
 
Banyak, ada 6,9 Detik, tonton aja itu 6,9 Detik yang tentang pemanjat tebing itu saya yang menjadi ibunya, terus di Mangkujiwo yang sama Roy Marten itu saya jadi istrinya Roy Marten, terus Wonderful Life ada, terus The Window. Ada beberapa, sih, film layar lebar, aku udah beberapa. Yang paling banyak FTV, zaman dulu ada FTV, iklan, film-film pendek karya anak film juga.
 
Setelah film Tilik tayang di YouTube, enggak ada ekspektasi apa-apa, pokoknya setelah keliling, baru sekarang terekspose, dari Mami Brilli gimana melihatnya? Akhirnya orang-orang (melihat), ini, lho, ada aku.
 
Aku aja sampai sekarang belum percaya. Setelah perjuangan saya di film dari tahun 2008, baru kali ini aku, tuh, main film yang, ya Allah, orang melihat aku. Orang itu seolah-olah jadi, “Oh, ini ternyata, ini aktingnya oke”. Pengakuan itu baru ada setelah Tilik ini boom.
 
Ya, tadinya memang orang-orang di Jogja sudah tahu. Talent, ya, di Jogja ada mami (Mami Brilli) yang ibu-ibu. Tapi ini sebatas, pokoknya ada film, ini aja yang dipakai. Tapi, yang saat ini itu (film Tilik) aku ngerasa orang-orang itu benar-benar, ini, lho, akhirnya aku dihargai juga keaktoranku.
 
Ini film pertama yang membuat saya itu puas, saya bangga. Kemarin bisa bergabung di Ravacana bisa main filmnya Mas Agung dan sekarang bisa sampai di taraf seperti ini, Alhamdulillah banget buat saya. Jadi perjuangan saya dari beberapa tahun yang lalu itu sekarang terjawablah.
 
Saya juga senang mendengarnya, sepertinya memang butuh platform yang dijangkau semua orang untuk bisa ditonton banyak orang.
 
Dan lucunya itu, kan, bahasa Jawa, tapi kenapa orang-orang senang, gitu, lho.
 
Saya juga berpikir, dari perspektif saya setelah menonton, saya pernah berada di situasi seperti itu ketika berkerumun, rasanya secara pribadi ada pro-kontra dan rasanya sangat pedih. Namun, untuk yang menonton, kalau dilihat kembali rasanya lucu.
 
Menghibur, sih. Alhamdulillah film Tilik ini bisa menghibur semua orang. Walaupun di situ Bu Tejo kesannya julid, tapi itu tetap menghibur. Tetap asyik aja. Buat mereka nyatanya tetap ditonton sampai selesai. Dan mereka berharap ada part two-nya.
 
Pengin tahu juga kelanjutannya bagimana?
 
Itulah film. Kadang film itu menyisakan sesuatu yang mengambang tapi, ya, itulah film. Filmnya sudah selesai. Filmnya sudah sampai di situ.
 
Bicara soal Yu Ning, dari Mami Brilli menggambarkannya seperti apa? Atau memang Mami Brilli itu sudah seperti Yu Ning?
 
Ya, kalau dibilang saya orangnya seperti itu, iya. Tapi saya bukan orang yang suka membela sesuatu yang salah, karena itu sebetulnya salah tapi saya bela, kan.
 
Tetapi saya pribadi melihat hal seperti itu lebih baik diam sebetulnya kalau ada orang yang seperti Bu Tejo ngelek-ngeleki (menggunjing) orang, membuka aib orang. Saya lebih baik diam sebetulnya. Tidak akan beradu argument tapi lebih baik diam.
 
Jadi, ya, itulah sisi Yu Ning. Yu Ning, kan, di situ memang harus membela, gimana-gimana Dian itu masih saudara, tetapi saya pribadi walaupun itu masih saudara saya, saya lebih baik diem daripada saya harus beradu argumentasi. Walaupun pada akhirnya kenyataannya bosok tenan! Ibaratnya seperti itu. Saya pribadi lebih baik diam.
 
Kenapa dia keukeuh, itu karena memang untuk menggambarkan kultur di situ, karena dia keluarga maka saya yang melindungi?
 
Iya. Dan dia merasa bahwa hal-hal seperti itu enggak perlu, to, dicerita-ceritain. Ngapain dia seolah-olah seperti menggosok-gosok orang-orang di sekitar itu untuk ikut-ikut membenci. Itu sebetulnya yang diperlihatkan ekspresi Yu Ning di situ enggak senang. Iki piye, sih? Kita itu mau tilik, tapi kenapa di jalan dia malah justru membuka aib Si Dian dengan begini-begitu.
 
Makanya dia bilang, “Aku ora seneng karo wong sing senengane pamer, sing senengane fitnah!”. Nah, itu, lho. Karena Bu Tejo-nya di situ suka pamer, ngomong aja cincinnya dilihat-lihatin. Itu sebetulnya ketidaksukaan Yu Ning, di situ.
 
Lalu, untuk menemukan karakter Yu Ning, Mami Brilli gimana?
 
Waktu itu saya sempat di-casting sebagai Bu Tejo dan Yu Ning. Dan Alhamdulillah aku dapat Yu Ning itu. Ya, sudah aku hanya membaca skenario. Oh, ini ternyata dia kontra dengan Bu Tejo. Berarti aku ya harus menjadi orang yang seperti ini. Kalem, tetapi di saat dia sudah ditekan sekali (sangat ditekan), dengan keterpaksaannya dia langsung emosinya melonjak. Itulah manusia. Sesabar apapun dia pasti akan… (habis kesabaran), itu, ya. Itulah yang terjadi pada Yu Ning.
 
Mami Brilli pernah menemukan seseorang seperti Bu Tejo di kehidupan nyata?
 
Banyak, ya. Banyak sebetulnya orang-orang seperti itu di kalangan orang-orang film pun banyak. Kalangan manapun, RT saya mungkin bahkan, ya. Tetapi saya orangnya itu tadi, lebih baik diam kalau saya mendengar orang menceritakan sesuatu, saya lebih baik diam, buat apa, sih?. Wong, kita enggak makan dari dia. Gitu aja pikirannya.
 
Mami Brilli pasti sudah menonton filmnya, kan?
 
Woh, pasti, berkali-kali.
 
Nah, bagaimana melihat aksi sendiri di film sendiri?
 
Aku tadinya waktu menonton film itu, iki padahal film iki ora lucu, tetapi kenapa aku selalu ini untuk tertawa, ya. Karena memang pemain-pemainnya itu aku kenal semua yang udah lama di film juga, sering barengan juga. Jadinya lucu aja.
 
Senang aja kalau aku melihatnya, ternyata iki konco-koncoku kalau main film itu ya bagus. Ternyata asyik juga, ya, kalau kita dijadikan satu kayak gini. Jadinya kalau ngumpul enggak sekadar ngumpul, tapi kalau kerja bareng kayak gini ternyata asyik juga.
 
Dan karena kami terbiasa sering bertemu, di luar syuting juga, jadi tek-toknya enak. Itu banyak banget, lho, mbak, yang aslinya tidak ada di skenario jadi kami improvisasi sendiri.
 

Wawancara Eksklusif Brilliana Desy, Pemeran Yu Ning di Film Tilik
 

Seperti apa, mami?
 
Improvisasi itu enggak ada di skenario. Kata-kata itu enggak ada di skenario, tetapi kami tambahin sendiri aja. Waktu aku berantem sama Bu Tejo yang di skenario cuman berapa tapi kami kembangkan sendiri, dan itu tantangan dari Mas Agung buat kami. Awak dhewe kudu iso ngomong beberapa kalimat dalam beberapa detik, kayak gitu.
 
Dan itu di lokasi syuting aku sering sama Mbak Ozie (Siti Fauziah pemeran Bu Tejo). Jadi kami sinis-sinisan. Kami selalu membangun suasana seperti itu. Jadi di saat syuting pun kami merasa awak dhewe (kami) musuhan.
 
Saat aku melihat aktingku di Yu Ning, memang kita tidak boleh puas dengan akting kita ini, ya. Aku tetap merasa harus menggali lagi.
 
Pada saat di truk ikut muntah, enggak?
 
Aku enggak muntah tapi cuma mual aja. Karena jujur aja, truknya itu, jalannya itu berkelok-kelok dan naik-naik, gitulah.
 
Makanya Mas Gotrek itu, tadinya kan dicari talent yang bisa nyupir truk. Akan bahaya sekali kalau hanya dicari orang yang bisa akting, tapi di medan seperti itu tidak menguasai. Makanya dicari supir truk beneran. Dan ndilalah(kebetulan) dia di-treat untuk beberapa kali bisa akting. Jadi sebetulnya akting itu bisa di-treat untuk berkali-kali asal dia mau, lho.
 
Rutenya?
 
Itu daerah Dlingo, Imogiri. Jadi daerah Dlingo, Puncak Becici, Hutan Pinus. Memang jalannya naik-naik, pohon-pohon kanan-kiri. Bawahnya jurang. Jalannya memang betul-betul berkelok-kelok dan naik. Saat jalannya naik, kami sampai bergoyang-goyang di dalam truk. Orang yang tadinya sehat walafiat, jadi kayak mual, gimana, gitu waktu set di truk itu.
 
Ending-nya di rumah sakit mana?
 
Di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping. Dan itu harusnya dua hari kami cukup selesai tapi ternyata kami sampai di rumah sakit Gamping itu sudah terlalu sore. Jadi kami sempat ngambil (ambil gambar), tetapi ternyata jumping cahayanya. Sudah agak mendekati maghrib, akhirnya kami tambah satu hari lagi khusus re-take untuk scene di Gamping.
 
Hanya karena cahayanya?
 
Di film itu kami memang butuh pencahayaan yang bagus juga. Sebetulnya kalau dipaksakan enggak apa-apa, tetap beradegan di situ. Cuma nanti gambarnya enggak bagus. Mungkin pertimbangannya seperti itu. Jadi, harusnya dua hari jadi tiga hari.
 
Oh, iya. Mami Brilli menyebut main di tiga film Danais (film yang mendapat hibah dari Dana Istimewa) selain Tilik, termasuk Tilik?
 
Tiga termasuk Tilik. Jadi, kemarin Danais ada empat film yang terpilih. Dari sekian banyak yang mendaftarkan diri untuk membuat film Danais hanya empat yang diambil. Ada dua dokumenter yang tahun 2018.
 
Nah, empat film ini saya tiga-tiganya main semua. Yang keempat ini enggak main, Loz Jogjakartoz karena pemainnya cowok semua. Jadi, enggak butuh talent cewek.
 
Tadinya aku sudah bilang, “Aku wis main ning film Rong, lho. (Aku sudah main di film Rong)." Katanya enggak apa-apa. Ya udah aku ikut main Tilik. Udah dua film di Danais itu, ada lagi yang Kembalilah dengan Tenang.
 
“Mami udah main lho, mas.”
“Enggak apa-apa mi, wong cuma satu scene.”
 
Kebetulan waktu di Dinas Kebudayaan DIY disetel bareng-bareng. Nah, setiap film ada aku, film Rong ada aku, film Tilik ada aku, film Kembalilah dengan Tenang ada aku lagi. Sampai MC Jogja bilang, “Opo pemain Jogja iki Brilli tok?”. Padahal waktu itu saya sudah bilang main di film Rong.
 
Mas Agung memang anak UMY, ya. Jadi aku memang sering, sih, main di film-filmnya anak UMY, anak komunitas UMY. Udah kenal. Tahun 2019 saya enggak dipakai sama sekali yang Danais karena di 2018 wis diborong kabeh.
 
Sekarang aktivitas Mami Brilli selain ibu rumah tangga, juga masih main film?
 
Masih, saya masih syuting, tetapi selama pandemi ini baru iklan aja. Layar lebarnya baru November besok. Insya Allah itu bersama Yu Sam (Aniek) dan Bu Tejo (Ozie) lagi film yang lain tapi, enggak ada hubungannya sama Tilik.
 
Iklan, ngajar, aku ngajar akting juga dari anak-anak sampai dewasa anak umur 27-an. Untuk saat ini saya masih mengajar di IMS (Ilham Management School), agensi di Jogja.
 
Sebagai guru akting?
 
Iya, jangan gurulah. Saya belum apa-apa. Saya hanya menularkan pengalaman-pengalaman karena jujur aja aku enggak pernah mengenyam pendidikan khusus di bidang keaktoran. Jadi, karena hobi aja. Aku memang suka berakting. Dari SMA sudah ikut teater, kuliah juga. Sudah memang senang dunia akting, sudah senang.
 
Yang saya berikan ke mereka ya pengalaman-pengalaman saya. Bagaimana cara mengolah tubuh, bagaimana cara mengolah rasa, mengolah vokal. Kayak gitu aja. Enggak pakai teori-teori seperti guru-guru yang lain. Treatment saya berbeda.
 
Mami Brilli asli Yogyakarta?
 
Saya asli Jogja, lahir di Jogja, gede di Jogja. Tapi kalau bapak, ibu saya di Madiun dan Ponorogo, Jawa Timuran.
 
Kira-kira berapa film yang sudah dibintangi Mami Brilli sejauh ini?
 
Kalau filmnya itu banyak ya, dik. Ada Bumi Manusia, Surga Yang Tak Dirindukan tempat Mas Hanung, kemarin yang sebelum pandemi Tersanjung, ada The Gift punya Mas Hanung juga. Sultan Agung, kebanyakan dari tempat Mas Hanung, ya. Ada 6,9 Detik itu tempat Mbak Lola, The Window, Wonderful Life, Arini-nya Mas Basbeth (Ismail Basbeth). Kemarin ada film Kuyang, Mas Basbeth juga, tapi belum keluar karena pandemi kemarin. Film Mudik, tapi belum rilis juga. Film Eyang dari Mas Bobby Prasetyo. Layar lebar sebenarnya lumayan banyak.
 
Sebenarnya Mami sudah main di film-film besar, tetapi baru di Tilik ini, ya, gongnya?
 
Iya. Layar lebar sebetulnya banyak, dik. Cuma memang porsinya kalau pemain di Jogja, itu memang porsinya baru 2-5 scene. Porsinya tidak terlalu banyak kalau di layar lebar. Tetapi kalau film Tilik karena ini film Danais, jadi kami pakainya talent Jogja semua dan tidak ada talent-nya Jakarta pun film ini bisa oke.
 
Justru lebih natural menurut saya daripada memaksakan logat medhok Jawa.
 
Benar. Makanya, jangan memaksakan untuk memakai orang Jakarta yang harus berlogat Jawa, itu malah enggak natural sebetulnya. Di Jogja, ini agak promosi, ya. Di Jogja sebetulnya talent-nya itu tidak kalah dengan di Jakarta. Hanya kami porsinya selalu aja sebagai pelengkap, sebagai supporting. Masih jarang yang menjadi pemeran utama, itu masih jarang. Kemarin filmnya Mas Garin, Kucumbu Tubuh Indahku, pakai Jakarta juga tapi pemainnya juga Si Khan (Muhammad Khan) orang Jogja juga dia.
 
Jadi selama pengalaman saya di film, baru Tilik ini yang memang merasa benar-benar. Ya ampun, ternyata bisa ditonton banyak orang. Orang mengakui ternyata.
 
Sampai ada yang bikin Yu Ning versus Bu Tejo.
 
Iya. Ini tadi pagi-pagi Bu Tejo juga WA aku.
 
“Kabeh iki goro-goro kowe kok Yu Ning (Semua ini gara-gara kamu Yu Ning).”
“Lho, kok iso aku. Mbok nek ngendikan ora waton kowe bu. (Kok bisa aku. Kalau ngomong jangan ngasal kamu bu)."
 
Jadi, kami memang kadang berdialog bahasa-bahasa kami di TV. Akhirnya saling menyapa karena memang kami sudah teman lama di film ataupun tidak.
 
Dengan profesi pekerja seni sejauh ini Mami Brilli sejahtera?
 
Alhamdulillah. Kalau saya menyadari bahwa produksi itu ada yang produksi kecil ada yang produksi besar. Itu saya sudah menyadarilah. Kadang anak-anak Tugas Akhir, anak ISI, MMTC, atau anak mana saya menyadari ini anak sekolah. Buat saya, ini justru untuk mengasah akting saya di saat saya harus berakting seperti ini.
 
Kadang mereka itu ide ceritanya freak. Ya, kami butuh menggali keaktoran kami. Jadi, ini buat saya enggak masalah buat belajar aja kalau saya. Bukan masalah melulu uang buat saya, tetapi berkarya. Memudahkan urusan orang lain, Insya Allah urusan kita dimudahkan karena saya juga punya anak-anak, ya. Jadi melihat mereka sudah seperti anak-anak saya sendiri.
 
Kenapa, sih, saya tidak main saja di film mereka, kalau toh mereka besok menjadi orang besar, menjadi sutradara besar, saya akan merasa bangga karena merasa pernah main di film Tugas Akhir mereka.
 
Anak IKJ banyak juga yang mau TA dikerjakan di Jogja, mami juga juga disuruh main. Dan saya fine-fine aja. Makanya saya bilang, maminya satu, anaknya banyak karena memang benar mereka sudah saya anggap seperti anak-anak saya sendiri.
 
Sudah seperti tercipta keluarga, ya?
 
Keluarga kedualah. Film adalah keluarga kedua saya orang-orang film itu.
 
Tanggapan Mami Brilli ketika ada yang membuat Tim Bu Tejo atau Yu Ning?
 
Kalau aku, sih, fine-fine aja, ya. Itu justru (eskpresi) bahwa mereka antusias sebetulnya mengekspresikan kesenangan mereka melihat film Tilik. Selama itu masih pada koridornya, kecuali kalau dia sudah mulai SARA atau gimana-gimana, mungkin saya enggak suka. Tetapi sejauh ini masih oke-oke aja, sih, enggak apa-apa. Saya justru senang melihat mereka. Oh, ternyata orang-orang kita ini kreatif, ya. Dapat umpan seperti ini, dia mancing seperti ini, dapatnya seperti ini, terus keluarnya kayak begini.
 
Reaksinya seperti itu senanglah. Sejauh ini masih positif, sih. Saya menanggapinya masih positif. Banyak banget itu meme-memenya. Dibikin stiker juga. Waduh, stiker WhatsApp itu banyak banget macam-macam. Sempat dikirimi teman-teman. Wih, raimu dadi stiker. Itu sekarang lagi hits banget. Semua orang yang di grup kalau kirim stiker wajahku, wajahnya Yu Sam, wajahnya Bu Tejo, kayak gitu. Tapi enggak apa-apa, itu masih positif. Masih yang wajar ajalah.
 
Wawancara Eksklusif Brilliana Desy, Pemeran Yu Ning di Film Tilik
 
Melalui peran Yu Ning ini, apa yang ingin disampaikan untuk penonton?

 
Untuk yang menonton semoga film Tilik ini bisa menghibur, membawa sesuatu yang positif, bisa diambil hikmahnya, bisa menjadi tontonan dan tuntunan yang baik pokoknya.
 
Melalui peran Yu Ning ada pesan untuk perempuan kah?
 
Yu Ning di sini orangnya lurus-lurus aja, ya. Tapi setidaknya memang kita harus banyak mencari info. Orang itu jangan hanya berpikiran positif terus. Kadang bagus orang positive thinking, tetapi akan sakit sekali di saat kita sudah berpikiran positif, tetapi ternyata melenceng. Jadi, apa yang terlihat baik belum tentu baik seutuhnya. Dan apa yang terlihat jelek memang tidak selalu jelek.
 
Kayak Bu Tejo di awal dia ngomongin jelek. Tetapi kenyataannya dia benar. Yu Ning di awal dia selalu positive thinking tetapi kenyataannya di belakang Dian memang bosok, ibaratnya seperti itu. Jadi lihatlah sesuatu itu secara global, jangan cuma sekelumit-sekelumit aja. Jangan lugu-lugu banget gitulah jadi orang.
 
Ketika melihat ending-nya dari Mami Brilli merasa udah pas dengan ending seperti itu atau mungkin berharap ada yang lain?
 
Kalau menurutku karena itu plot twist, yaudah memang pas. Memang penonton dibikin kayak begitu. Karena sebetulnya ada scene Bu Lurah, gimana, ya. Kalau ditaruh di tengah-tengah tidak akan jadi plot twist yang di akhirnya. Makanya itu ada sebetulnya scene Bu Lurah itu, tetapi ditiadakan. Bu Multi Yanti dulu yang jadi Bu Lurah. Bu Multi Yanti talent Jogja juga.
 
Tetapi itu ditiadakan karena ya benar mungkin mereka pertimbangannya kalau di tengah berarti sudah bocor di situ dulu. Ambruk e dibawa ke rumah sakit kenapa itu kan sudah bocor duluan nanti. Makanya benar kalau plot twist seperti itu menurut saya pribadi sudah benar kayak gitu. Jadi, penonton dibikin hu-uh! (kesal).
 
Jadi, suatu film itu ada kesan tersendiri yang membuat penonton, “Ah, gemes banget, sih!”. Menurut saya itu sudah pas banget.
 
Saya juga syok melihat adegan di mobil
 
Jadi sebenarnya Dian dekat sama Fikri itu hanya kamuflase dan pendekatan sebetulnya bahwa aku iki cedak (dekat) karo bapakmu. Jadi suatu saat dia menikah dengan bapaknya, dia bisa menerima kalau dia istrinya bapaknya. Sebetulnya itu yang bisa kita ambil intinya. Dia hanya kamuflase. Bolak-balik Dian kuwi mau, ya to? Dadi omongan.
 

 

 
(ASA)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif