Abelina D Fitria aliass dr Incognito (Foto: instagram)
Abelina D Fitria aliass dr Incognito (Foto: instagram)

Selebgram dr. Abelina D Fitria Kesal Wajahnya Dicuri untuk Konten AI Penipuan

Elang Riki Yanuar • 29 Oktober 2026 18:42
Ringkasnya gini..
  • Dr. Abelina D Fitria kesal wajah dan gelarnya dicuri untuk konten AI tanpa izin, bahkan digunakan untuk mempromosikan bahan berbahaya.
  • Penyalahgunaan identitas lewat AI membuat dr. Abelina D Fitria khawatir reputasi profesionalnya rusak akibat promosi produk berbahaya.
  • Dr. Abelina D Fitria mengingatkan masyarakat agar membandingkan konten AI dengan konten asli supaya lebih mudah mengenali hasil rekayasa digital.
Jakarta: Konten kreator sekaligus selebgram dr. Abelina D Fitria mengungkapkan kekesalannya setelah mengetahui wajah dan identitasnya digunakan tanpa izin dalam konten berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Dia semakin kecewa karena sejumlah konten tersebut digunakan untuk mempromosikan bahan berbahaya.

Abelina mengaku sedih karena wajahnya diambil dan dimanfaatkan oleh pihak lain tanpa persetujuannya. Menurutnya, penyalahgunaan tersebut tidak hanya merugikan dirinya secara pribadi, tetapi juga berpotensi merusak reputasi profesional yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun.

"Sedih banget wajahku kan dicuri, gak ada izin, gak ada apa-apa tiba-tiba diambil paksa," ungkap dr. Abelina Dini Fitria, Dipl. AAAM, MM, MARS.

Dia menjelaskan, terdapat beberapa bentuk penyalahgunaan identitas yang ditemukannya. Dalam sejumlah konten, wajah Abelina digunakan dengan nama orang lain. Namun, ada pula konten yang menggunakan wajah, nama, hingga gelar profesionalnya sekaligus.
 

Menurut Abelina, penggunaan nama dan gelar tanpa izin merupakan persoalan serius karena dapat membuat masyarakat mengira bahwa konten tersebut benar-benar berasal darinya. Ia menilai tindakan tersebut sebagai pencurian identitas sekaligus penyalahgunaan kredibilitas yang telah dibangunnya selama berkarier.

"Yang lebih parah yang pakai namaku dan pakai gelarku juga, itu namanya mencuri identitas dan kredibilitasku," ujarnya.

Hal yang paling membuat Abelina kecewa adalah penggunaan wajah dan identitasnya untuk memasarkan bahan berbahaya. Dia merasa dirugikan karena pihak yang memanfaatkan identitasnya tetap dapat menjalankan aktivitas penjualan, sementara dirinya harus menanggung dampak dari penyalahgunaan tersebut.

"Paling sedihnya, pencurian tersebut dipakai untuk jualan bahan berbahaya. Yang jual dan mencuri dari aku gak kenapa-kenapa sedangkan aku yang harus menanggung ruginya, korbannya," kata Abelina.

Menghadapi penyalahgunaan konten AI, Abelina mengaku sempat mempertimbangkan saran untuk melakukan verifikasi wajah. Namun, ia masih meragukan keamanan langkah tersebut karena platform media sosial seperti Instagram dan TikTok juga menggunakan teknologi AI dalam operasionalnya.

"Jadi sekarang aku mengandalkan kredibilitas, Selain itu, walau aku ragu works apa gak, aku perkuat kemanusiaanku. Apa itu? Empati, tidak sempurna, ganti-ganti angle, be unpredictable," tuturnya.
 
Abelina telah menekuni dunia konten sejak sekitar 2011. Saat masih bersekolah, ia kerap menghadiri berbagai acara kecantikan dan fesyen. Aktivitas tersebut mulai menghasilkan pendapatan pada 2014, sebelum akhirnya menjadi sumber penghasilan yang stabil pada 2017.

Di tengah perjalanan kariernya, Abelina juga memilih menggunakan nama dr. Incognito untuk menyampaikan ilmu dan gagasannya. Nama tersebut dipilih karena ia ingin masyarakat lebih berfokus pada pengetahuan yang dibagikannya, bukan semata-mata latar belakang atau penampilan fisiknya.

"dr. Incognito itu karena aku capek, apa pun ilmu yang aku sampaikan walaupun benar orang selalu salfok sama latarku dan fisikku. Aku ingin dihargai dari ilmuku karena memang itu yang paling aku susah dapetinnya," jelasnya.

Abelina mengakui nama dr. Incognito memiliki makna yang cukup kontras. Incognito berarti penyamaran, sedangkan profesi dokter menuntut transparansi. Dia menyebut karakter Johan Liebert dari anime Monster sebagai inspirasi di balik pemilihan nama tersebut.

Terkait maraknya konten AI yang menyerupai manusia asli, Abelina mengingatkan masyarakat agar tidak hanya mengonsumsi konten buatan AI, tetapi juga tetap melihat konten autentik. Menurutnya, kebiasaan membandingkan keduanya dapat membantu masyarakat mengenali perbedaan antara konten asli dan hasil rekayasa teknologi.

"Justru harus sering-sering lihat AI dan harus sering-sering lihat yang asli juga. Kalau kebanyakan liat AI lupa yang asli kayak apa, lucunya kalo kebanyakan liat yang asli juga gak tau itu AI. Dari pengalamanku, kalo liat 2-2nya banyak malah lebih gampang bedainnya," pungkas Abelina.








 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA