Christine Hakim (Foto: Poplicist/Yahya)
Christine Hakim (Foto: Poplicist/Yahya)

Tangis Christine Hakim Pecah Bahas Nasib Aktivis di Film Laut Bercerita

Rafi Alvirtyantoro • 24 Februari 2026 22:08
Ringkasnya gini..
  • Christine Hakim menangis bahas human rescue di film Laut Bercerita.
  • Lewat Laut Bercerita, Christine Hakim soroti hilangnya empati dan nyawa yang kian tak dihargai.
  • Adaptasi novel Leila S. Chudori, Laut Bercerita angkat luka penghilangan paksa dan kritik sosial.
Jakarta: Aktris Christine Hakim tidak kuasa menahan air mata saat menyinggung isu human rescue yang menurutnya jarang terdengar.
 
Hal tersebut ia sampaikan dalam keterkaitannya dengan film terbaru yang ia bintangi, Laut Bercerita.
 
Film karya sutradara Yosep Anggi Noen ini merupakan adaptasi dari novel laris karya Leila S. Chudori. Alurnya mengisahkan perjuangan mahasiswa melawan rezim otoriter yang berujung pada penculikan, penyiksaan, hingga penghilangan paksa.

Peran Ibu yang Kehilangan Anak

Dalam film Laut Bercerita, Christine Hakim memerankan karakter Ibu Wibisana, ibu dari Laut yang merupakan salah satu mahasiswa yang hilang.

Christine mengungkapkan betapa beratnya beban emosional menghadapi kehilangan seorang anak, terutama ketika harapan akan kepulangannya masih tersisa.
 
“Kehilangan ini sebetulnya yang lebih berat lagi karena masih punya harapan bahwa anak ini satu hari akan kembali. Jadi, saya tidak bisa membayangkan bagaimana itu,” kata Christine Hakim di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa, 24 Februari 2026.

Mirisnya Fenomena Human Rescue yang Terabaikan

Salah satu poin yang menjadi sorotan tajam Christine adalah minimnya perhatian terhadap gerakan penyelamatan manusia atau human rescue. Ia membandingkannya dengan tren penyelamatan hewan yang ditemui saat berkunjung ke luar negeri.
 
“Dalam perjalanan saya ke mancanegara beberapa belakangan ini, banyak sekali muncul animal rescue seperti itu, tuh. Lagi jadi tren gitu ya. Tapi saya tidak mendengar, tidak pernah mendengar ada human rescue,” ungkap Christine.
 
Fenomena ini memicu keprihatinannya terhadap rasa kepedulian antarmanusia. Christine juga menyoroti dampak media sosial yang kini seringkali justru menurunkan nilai kemanusiaan.
 
“Dengan adanya media sosial, kita mendapatkan informasi yang lebih banyak tapi sekaligus juga menakutkan. Nyawa manusia menjadi tidak ada artinya,” ujarnya.

Kritik Terhadap Pelanggaran Hak Prerogatif Tuhan

Menurut Christine, nyawa adalah hak prerogatif Tuhan yang kini dengan mudahnya dirampas oleh sesama manusia. Ia merasa manusia telah bertindak sewenang-wenang terhadap sesama makhluk ciptaan-Nya.
 
“Sangat mudah sekali kita mengambil hak yang sebetulnya adalah hak prerogatif dari Tuhan yang memberikan nyawa, memberikan roh, memberikan jiwa kepada makhluk ciptaan-Nya. Tapi makhluk ciptaannya ini yang kemudian sewenang-wenang mengambil nyawa manusia lainnya,” lanjut Christine.
 
Ia menambahkan bahwa tragedi kemanusiaan semacam ini tidak hanya terbatas pada peristiwa kelam tahun 1998, melainkan sebuah siklus yang terus berulang di dunia.
 
“Dan itu bukan hanya terjadi di '98. Selama kehidupan ini ada, di dalam alam semesta ini, itu terjadi sampai dunia kiamat saya kira,” tuturnya.

Dasar Negara yang Mulai Dilupakan

Di akhir pernyataannya, Christine mengungkapkan keprihatinan mendalam mengenai kondisi di Indonesia. Ia merasa nilai-nilai luhur Pancasila, khususnya sila pertama, justru sering dilupakan dalam praktik berbangsa dan bernegara.
 
“Yang memprihatinkan di negeri tercinta ini, di mana Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi sila pertama dari dasar dari kita dalam bernegara, berbangsa. Itu seperti justru yang paling dilupakan,” pungkas Christine Hakim.
 
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA