Musim terakhir Marapthon yang bertajuk The Last Tale ini memperlihatkan kehidupan grup AAA Clan selama 100 hari dalam format siaran langsung nonstop.
Program tersebut diinisiasi oleh Reza Arap Oktovian bersama Tierison, Yukatheo, Cynthia, dan Garry Ang. Acara ini pun diramaikan dengan kehadiran Niko Junius, Aloy, Bravy, Ibot, dan Tepe.
Marapthon menyajikan berbagai aktivitas dan permainan yang terkadang tak diduga. Para host kerap mengadakan kegiatan yang mengundang reaksi kocak dari para anggota serta penonton.
Adapun prank heboh ketika para member AAA CLAN dibangunkan dari tidur dengan bisingnya pertunjukan barongsai di dalam rumah hingga pertunjukan tarung wushu.
Selain itu, Marapthon juga mengundang sejumlah bintang tamu untuk meramaikan program mereka, mulai dari sesama kreator konten hingga musisi ternama. Baru-baru ini, acara tersebut kedatangan Erika Carlina, Rachel Vennya, dan Fuji An pada Rabu (25/3) atau hari ke-46.
Menampilkan Sekilas Kehidupan Malam Jakarta
Kehadiran para influencer ini disambut dengan mengadakan pesta eksklusif di malam hari. Ruang tengah mereka disulap menjadi lantai dansa dengan musik Timur mengalun melalui pengeras suara. Pencahayaan remang-remang dan lampu kelap-kelip memperkuat nuansa kelab malam.Yuka dan Erika tampak berdiri di belakang sofa sambil berdansa mengikuti alunan musik sementara Ibot dan Bravy mengutak-atik peralatan DJ. Garry, Aloy, Fuji, Rachel, dan Arap terlihat bersantai di sofa utama.
Di hadapan mereka, terpantau banyak bungkus makanan, rokok, serta kaleng minuman yang diduga mengandung alkohol. Mereka pun sesekali mengangkat gelas kaca—seperti sedang bersulang—sebelum menenggak cairan di dalamnya.
Tayangan yang ditampilkan itu seolah-olah membiarkan para audiens melihat kehidupan malam ibu kota secara sekilas.
Netizen Pertanyakan Tujuan Pengadaan Konten Tersebut
Pengguna platform Threads dengan akun @iduy_________ mengunggah potongan klip Marapthon tersebut. Ia pun menyoroti bagaimana kualitas suatu hiburan merupakan cerminan dari audiensnya. Iduy menyebut bahwa setiap konten pasti memiliki pasarnya sendiri.“Kualitas sebuah hiburan itu selalu sejalan dengan gimana kualitas sdm penikmatnya,” tulis keterangan unggahan tersebut.
Kolom komentar ikut menyayangkan bagaimana grup ini menormalisasi kehidupan malam, terutama jika target audiens mereka adalah kelompok umur remaja menuju dewasa muda.
“...namun yang sangat di sayangkan adalah Perbuatan mereka ini dianggap Normal dan Lumrah di zaman sekarang sehingga berani diposting bahkan disiarkan secara langsung tanpa ada yang berani menegur, saya takut bagaimana nanti Anak muda kita Zaman sekarang jikalau terpengaruh dengan orang-orang semacam itu,” ketik akun @/sydihsan_.
Akun dengan nama @adhiwbwo juga menyayangkan bagaimana grup ini malah mempertontonkan kegiatan mereka kepada para penonton. Menurutnya, hal tersebut akan memengaruhi standar “bergaul” anak-anak muda untuk mengikuti mereka.
Konsep Maraton Streaming
Sebagai informasi, konsep live streaming nonstop yang dilakukan Marapthon bukanlah hal baru. Program seperti ini pertama kali dicetuskan oleh seorang YouTuber AS bernama Ludwig Ahgren. Ia melakukan subscription marathon atau subathon selama 31 hari di YouTube dan Twitch.Sejak saat itu, konsep tersebut diadaptasi oleh berbagai YouTuber populer lain, salah satunya Kai Cenat. Tahun lalu, ia juga mengadakan Mafiathon Season 3 dan menjadi streamer pertama yang mendapat 1 juta subscriber baru selama maraton berlangsung.
(Nyimas Ratu Intan Harleysha)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News