Rachel Amanda (Foto: Medcom/Rafi)
Rachel Amanda (Foto: Medcom/Rafi)

Rachel Amanda Soroti Jam Kerja Buruh: Upah Per Jam Lebih Adil?

Rafi Alvirtyantoro • 01 Mei 2026 11:31
Ringkasnya gini..
  • Rachel Amanda soroti pentingnya batasan waktu kerja yang tegas bagi buruh demi menjamin kesejahteraan dan keselamatan pekerja.
  • Sistem upah per jam dinilai lebih adil dan menghargai waktu buruh dibanding normalisasi lembur yang tidak manusiawi.
  • Film Monster Pabrik Rambut jadi refleksi Rachel Amanda untuk mendorong sistem kerja yang tetap memanusiakan para pekerja.
Jakarta: Kesejahteraan buruh menjadi salah satu isu utama yang disuarakan oleh banyak pihak, terutama dalam momentum Hari Buruh Sedunia yang diperingati setiap 1 Mei.

Urgensi Batasan Waktu Kerja

Selain upah layak, aktris Rachel Amanda turut menyoroti durasi waktu kerja para buruh. Ia menilai aspek ini berkaitan erat dengan kesejahteraan pekerja. Ia menyebutkan bahwa beberapa negara telah mengatur batas waktu kerja secara tegas dengan sistem upah per jam.
 
“Mungkin beberapa negara di luar sana tuh sudah memakai sistem yang mungkin ada batasan waktu kerja lebih tegas. Mereka bahkan sudah yang dibayarnya per jam gitu,” kata Rachel Amanda dalam wawancara bersama Medcom.id.
 
Menurutnya, sistem pembayaran upah per jam lebih adil karena lebih menghargai waktu para pekerja.

“Mungkin itu lebih fair. Jadi mereka tahu mereka dibayar karena waktu mereka gitu,” ucap Rachel Amanda.  

Tantangan Implementasi di Indonesia

Ia pun mempertanyakan kemungkinan penerapan sistem tersebut di Indonesia. Rachel Amanda merasa khawatir terhadap keselamatan pekerja yang sering kali terabaikan akibat tekanan target yang berlebihan.
 
“Apakah possible bisa diaplikasikan di sini atau kalaupun belum apa solusinya yang lebih baik sehingga orang tuh gak perlu (mengejar-ngejar target), tapi juga sampai tidak memperhatikan urusan waktu apalagi urusan keselamatan,” jelas Rachel Amanda.  

Normalisasi Jam Kerja Tidak Manusiawi

Kekhawatiran ini senada dengan keresahan yang ia rasakan saat membintangi film terbarunya, Monster Pabrik Rambut. Dalam film tersebut, Rachel Amanda berperan sebagai buruh pabrik rambut yang menghadapi lingkungan kerja penuh tekanan.
 
“Emang isunya tentang overwork, lembur, terus ya jam kerja yang gak manusiawi gitu dan tapi di satu sisi ini jadi sesuatu yang dinormalisasikan di mana-mana,” ungkapnya.
 
Berkaca dari isu dalam film itu, Rachel berpendapat bahwa perlu ada sistem baru yang mampu menguntungkan pemberi kerja tanpa harus mengorbankan hak-hak dasar pekerja.
 
“Kayaknya perlu deh dicari sistem baru yang bagaimana sebagai pemberi pekerjaannya juga bisa mendapatkan hasil yang diinginkan, tapi di saat yang sama juga memanusiakan para pekerjanya gitu,” ujar Rachel Amanda.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA