Namun, saat ini teknologi dan ilmu pengetahuan di bidang bedah sudah semakin canggih, sehingga pengambilan sel ganas bisa dilakukan tanpa operasi besar. Pasien pun tak perlu kehilangan payudara.
"Metode lama berupa pengangkatan seluruh payudara sudah mulai ditinggalkan. Alasannya sederhana, kehilangan payudara tentu akan menimbulkan beban psikologis bagi pasien," ujar Dokter Spesialis Bedah Konsultan Payudara RS Mitra Kemayoran, Dr. AlfiahAmiruddin, MD, MS, dalam seminar kesehatan yang berlangsung di Rumah Sakit Mitra Kemayoran, Selasa (3/6/2014).
Beberapa teknologi, di antaranya Core Needle Biopsy, teknik Biopsi atau pengambilan sel kanker yang cukup dilakukan di ruang praktek dengan pembiusan lokal. Teknik baru ini memiliki kelebihan yang memungkinkan pasien tidak perlu menjalani rawat inap, tak perlu puasa, tidak dibutuhkan penjahitan pada luka, serta prosedurnya pun hanya memakan waktu 5-10 menit.
"Dengan teknik ini, pasien tidak akan menemukan luka, yang ada hanya bekas suntikan sebesar 2 mm," jelasnya. Teknik ini juga bisa dilakukan untuk kasus kanker payudara yang tumornya belum teraba.
Ada pula teknik Skin and Nipple Sparinh Masectomy, yakni pengobatan kanker payudara dengan membuang seluruh jaringan payudara yang terkena sel kanker, namun tetap mempertahankan puting, aerola dan kulit payudara sehingga pasien tidak benar-benar kehilangan payudaranya.
Selain itu, teknik Microdochectomy, bisa menjadi pilihan pengobatan untuk mengatasi puting susu yang selalu mengeluarkan cairan. Padahal kondisi tidak sedang menyusui. Meski demikian, Dokter Alfiah tetap tetap menyarankan deteksi dini untuk penanganan yang lebih cepat, sehingga kemungkinan penderita kehilangan payudara akan semakin kecil.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News