Drama Musikal Putih Hitam Lasem ini mempunyai misi mengangkat kualitas pendidikan dan kebudayaan di Tanah Air.
Pementasan PHL banyak mengekspose karya Batik asal kota Lasem yang indah. Pagelaran ini bekerja sama dengan Designer Senior DR. Harry Darsono PhD. yang juga menjadi Designer & Costume Consultant di pertunjukan ini.
PHL juga mengekspos Lasem sebagai kota di Indonesia yang menyandang nama Tiongkok Kecil, yang memiliki banyak kelebihan dan layak untuk diterima menjadi 'Heritage City' (kota cagar budaya).
Batik Pesisir Lasem punya keunikan dengan warna merahnya yang spesifik, yang hanya didapatkan pada Batik buatan kota Lasem. Selain itu, desainnya juga dipengaruhi oleh unsur Tionghoa peranakan yang telah hadir di kota Lasem sejak dahulu kala.
Di kota Lasem bisa terlihat eratnya pembauran antara masyakat Tionghoa dan Jawa, baik dari segi budaya/tradisi maupun dalam hidup berdampingan sehari-sehari.
Bangunan-bangunan unik peninggalan lama, terdapatnya rumah-rumah khas pecinan dan jawa, beberapa Vihara Tiongkok yang tetap terpelihara dan dikunjungi oleh masyarakat Tionghoa maupun Jawa.
Drama Musikal PHL juga digelar untuk mendukung gerakan masyarakat kota Lasem yang mengupayakan agar Lasem dapat diterima sebagai Heritage City oleh UNESCO.
Drama Musikal “Putih Hitam Lasem“ merupakan drama hasil karya bersama Tim Kreatif d’ArtBeat yang diperankan oleh anak muda dan dewasa dengan setting latar belakang kota dan budaya Lasem.
Penonton disuguhi kisah persahabatan, percintaan dan pengkhianatan penuh intrik. Pementasan ini menjadi menarik karena menampilkan tontonan drama musikal yang merupakan gabungan unsur teater, musik, paduan suara dan tarian.
Drama PHL bercerita tentang kisah asmara Lian Hoa seorang gadis Tionghoa, dari keluarga Tan pemilik pembatikan Padma Putera, bersahabat dengan Ario Adiatmojo, dari keluarga Jawa pemilik pembatikan Banyu Bening.
Setelah beranjak dewasa, persahabatan itu berkembang menjadi percintaan yang mengarah ke pernikahan. Tapi niat mereka tidak mendapat persetujuan dari dua keluarga yang berbeda budaya ini.
Suatu hari saat Lian Hoa berkunjung ke pembatikan Banyu Bening untuk mencari Ario, mendadak terjadi kebakaran hebat melanda seluruh tempat itu.
Bapak Adiatmojo terlalu parah kondisinya dan meninggal tak lama kemudian. Kota Lasem gempar karena tersiar kabar bahwa Lian Hoa lah yang membakar pembatikan Banyu Bening yang menelan banyak korban itu.

Lian Hoa menghilang sejak saat itu, tak terlacak jejaknya bahkan oleh pihak yang berwajib yang berusaha menyelidiki peristiwa mengerikan itu.
Persahabatan antara dua keluarga pembatik kawakan di kota Lasem, keluarga pak Tan Tua dan keluarga Adiatmojo menjadi retak. Bude Nawangsari, ibunda Ario Adiatmojo, berdiam diri dan tak pernah sedikitpun lagi menyinggung peristiwa kebakaran yang telah merenggut nyawa suaminya itu.
Dua belas tahun berlalu, Dengan tak terduga dan sangat mengejutkan Lian Hoa muncul kembali di kota Lasem. Dengan tujuan untuk menjernihkan apa yang telah terjadi dahulu.
Namun kedua orang tuanya telah meninggal dunia, dan Ario yang tetap dicintainya telah menikah dengan Retno, karena tak mampu menahan desakan ibunya.
Kemampuan Lian Hoa menguraikan 'simpul lilitan putih dan hitam' yang telah kusut bersilangan selama ini, dan meninggalkan kemelut yang telah menerpa dirinya dan orang-orang yang dicintainya menjadi klimaks dari drama percintaan berbeda budaya ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News