Galeri Apik. (foto:K. Yudha. W)
Galeri Apik. (foto:K. Yudha. W)

Galeri Apik 'Kawinkan' Seni Kontemporer dan Vintage Stamps

K. Yudha Wirakusuma • 08 Agustus 2015 11:08
medcom.id, Jakarta: Alat komunikasi atau gadget kini telah menjadi bagian hidup dari masyarakat perkotaan. Selain alat komunikasi, gadget juga berperan sebagai alat permainan yang menghilangkan kebosanan.
 
Begitu lekatnya dengan kehidupan masyarakat perkotaan, tak jarang orang dapat menghabiskan sebagian waktunya dengan lama bersama gadget.
 
Kebiasaan masyarakat perkotaan tersebut dilukiskan dalam sebuah goresan kanvas karya Arif Rahmanto. Lukisan yang diberi judul "Kesepian di Tengah Gaya" itu menjadi salah satu lukisan yang dipamerkan Galeri Apik. Dalam lukisan tersebut menggambarkan seorang wanita yang berada di tengah kemacetan. Kendati kondisi ramai, namun wanita tersebut terlihat tak ceria.

"Judul dari lukisan ini adalah kesepian di tengah gaya, karya Arif Rahmanto," kata Direktur Galeri Apik, Rahmat kepada Metrotvnews.com, di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan, Jumat 7 Agustus malam.
 
Pelukis ingin menggambarkan bahwa saat ini banyak orang yang berlomba-lomba untuk eksis di media sosial. Namun, pada faktanya ia merasa kesepian di dunia nyata.
 
Lukisan tersebut adalah satu dari beberapa lukisan kontemporer karya seniman Tanah Air dan Tiongkok. Sebagai pemilik galeri dan kolektor seni, Rahmat sengaja ingin mengangkat realitas di masyarakat seni Tanah Air.
 
"Banyak karya seni kontemporer dewasa ini yang sekedar mengangkat realitas kekinian, tanpa memiliki konsep yang sejalan dengan eksekusi pada medianya. Padahal sejatinya, seniman kontemporer itu harus memiliki jiwa pemikir serta berkonsep masa depan. Harus berpikir futuristik namun tetap realistis membumi," ulasnya.
 
Menurut Rahmat, seharusnya karya seniman itu tidak boleh terbelenggu oleh zaman. Justru, sambungnya, harus melampaui zaman saat dia berkarya. 
 
Galeri Apik Kawinkan Seni Kontemporer dan <i>Vintage Stamps</i>
(foto: K.Yudha)
 
Dalam acara bertajuk "ConTemporary or Temporary: Visual Arts and Vintage Stamps Exhibitions" Galeri Apik tak hanya memamerkan karya lukisan, namun juga menyandingkan vintage stamps dengan koleksi lukis kontemporer.
 
Lukisan yang dipamerkan antara lain karya Di Lifeng, Song Yonghong, S Priadi, Dadan Setiawan, Andi Mieswandi, dan Aan Arif Rahmanto. Pameran tersebut digelar dari 1 Agustus hingga 1 September 2015,
 
Seperti juga pameran sebelumnya, ada misi yang ingin disampaikan kepada masyarakat seni. Dia melihat perangko sebagai karya seni yang sudah membuktikan mampu melampaui zaman saat pembuatan. Rahmat berharap, melalui event ke-44 ini, galeri tidak hanya berfungsi sekedar art dealer dan art shop, tapi juga aktif menjalankan fungsi edukasi/sosialisasi bagi masyarakat seni.
 
Galeri yang berlokasi di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan itu menampilkan pula koleksi vintage stamps (perangko kuno) yang dikontraskan dengan koleksi seni rupa kontemporer. Usia perangko dari 52 negara yang dipamerkan mencapai usia 50 tahun dengan pembuatan paling muda yakni tahun 1970.
 
Selain Indonesia, perangko yang ikut dipamerkan yakni berasal dari belahan negara lain seperti Malaya (saat sebelum berpisah jadi Singapura dan Malaysia), Chekoslavia, Turki, Saudi Arabia, Jerman, Tunisia, Mesir, Belanda, Peru, Hong Kong, Italia, Argentina, Filipina, Meksiko, Thailand, Perancis, Belgia, Finlandia, Uni Soviet (USSR/CCCP), Jepang, Denmark, Amerika Serikat, Norwegia, Inggris, Australia, Ekuador, UAE-Sharjah, Switzerland, Cuba, Colombia, New Zealand, Mongolia, Korea, Srilanka, Burundi, United Nations (PBB), Papua Nugini, Republik Cabo Verde (ex jajahan Portugis, dekat Yunani), Swedia dan lainnya.
 
Bahkan, ada perangko sewaktu Filipina masih menjadi kepulauan bagian dari Amerika Serikat. Ada juga perangko seri film Little House on the Prairie (Laura Ingals) terbitan USA yang pernah tayang di salah satu televisi di tanah air. Sedangkan untuk perangko Indonesia yang dipamerkan ada yang diterbitkan pada 1958.
 
"Perangko juga bagian dari seni. Dibuat oleh seniman, dilukis di atas kertas, baru dicetak menjadi perangko," ungkapnya.
 
Menurutnya, perangko adalah bagian dari seni kontemporer. Dibuat sesuai eranya, guna suatu motif atau berbagai tujuan dan berkonsep demi masa depan.
 
"Perangko seiring waktu pada akhirnya juga bisa bernilai mahal karena keantikan, keunikan, dan nilai sejarahnya. Sehingga di berbagai belahan dunia diakui memiliki fungsi investasi seperti halnya lukisan. Sebagian perangko bahkan telah bernilai lebih tinggi daripada lukisan," paparnya.
 
Hadir dalam kesempatan itu, kolektor dan pecinta seni, Rohadi S Hartono. Beliau mengaku terkejut dengan terobosan yang dilakukan Galeri Apik.  Pasalnya, baru kali ini ada pameran seni yang menyandingkan koleksi karya seni lukis kontemporer dengan vintage stamps.
 
”Saya sangat mengapresiasi sekali. Senang dan bangga dengan yang dilakukan Galeri Apik. Saya sangat menghargai karya seni Indonesia,” ulasnya.
 
Kegiatan itu menurutnya, bisa mempertemukan pecinta seni lukis kontemporer dengan kolektor filateli. ”Ini sekaligus membuktikan bahwa perangko adalah bagian dari seni cetak yang bernilai histori tinggi,” tutupnya.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(LOV)




TERKAIT

BERITA LAINNYA