Namun, keberadaan karya seni di tangan kolektor bukan tanpa masalah. Sifatnya yang kepemilikan pribadi membuat karya seni sulit diakses.
Kesulitan menemukan ataupun mengakses suatu karya membuat penelitian terhadap segala yang berhubungan dengan karya tersebut jadi terhambat. Hal ini mempengaruhi perkembangan sejarah seni rupa maupun pengetahuan seni rupa.
"Iya tentu menghambat. Soalnya kalau dimiliki sama para kolektor itu jadi tidak mudah diakses. Kemudian juga tidak diketahui di mana barangnya karena pindah tangan terus," kata kritikus seni, Jim Supangkat saat ditemui di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.
"Koleksi privat di mana pun memang sulit untuk diakses. Beda sama di museum itu terbuka untuk publik. Masalahnya di Indonesia juga hampir tidak ada privat museum yang terbuka untuk melakukan penelitian," ucap Jim Supangkat.
Hal serupa diucapkan oleh seorang kurator seni, Eddy Soetriyono, yang merupakan kurator pameran Perjalanan Setengah Abad Arfial.
"Banyak lukisan-lukisan pelukis terkenal itu dikekep sama kolektor-kolektor sehingga tidak muncul ke permukaan. Jadi ada beberapa hal yang hilang dan enggak diketahui dalam perkembangan seni lukis Indonesia," ujar Eddy Soetriyono.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News