Foto: Media Indonesia
Foto: Media Indonesia

Mimpi Kaum Marginal

30 November 2014 08:51
HARI sudah malam dan dingin mencucuk tulang. Dari balik tembok, belasan bocah melangkah masuk ke sebuah rumah tua.Rumah tanpa pemilik jelas sehingga anakanak jalanan itu memanfaatkannya sebagai tempat berteduh.
 
Genta, bocah kecil, masuk dari belakang panggung. Ia berjalan tertunduk seraya mencari tempat kumuh untuk tidur. Hanya ada alas koran, papan, dan kardus. Saat tidur, ia tampak menggigil. Ia terpaksa tinggal di jalanan karena tidak tahu siapa ibu dan bapaknya. Sebuah ironi memang, tetapi Genta dan belasan temannya seakan menemukan kedamaian. Mereka bisa bermain, tertawa, dan bebas bagai burung di udara.
 
Sehari-hari, Genta harus mengamen. Setelah mengamen, ia pun kembali masuk ke gedung tua itu. Mereka masuk lewat sebuah lubang tembok. Saat masuk, Genta harus sedikit menunduk agar kepalanya tidak tergores oleh batu.

Tak lama berselang, Sukma, mahasiswa sebuah perguruan tinggi, masuk. Ia membelai anak-anak satu per satu seraya meninabobokan dengan lagu-lagu syahdu.Sebuah titik awal pertemanan antara mahasiswa dan anak-anak jalanan membuka pementasan malam itu.
 
Suguhan itu tergambar jelas pada pementasan lakon Sayap-Sayap Mimpi suguhan kelompok teater Sanggar Anak Akar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pertengahan pekan ini. Lakon realis itu mengangkat kehidupan kaum marginal dalam bertahan hidup di jalanan. Tentu saja, alur cerita suguhan sutradara Ibe Karyanto mengundang decak kagum tersendiri. Pasalnya, selain lakon digarap secara realis, ia memasukkan unsur musikal sehingga pementasan berjalan ceria meski isi lakon cukup tragis.
 
“Kisah ini berangkat dari realitas di sekitar kita. Anak-anak jalanan telah memberikan inspirasi dalam produksi ini. Kami menggarap dengan pendekatan psikologis anak-anak remaja sehingga memang sedikit lebih menghibur,“ ujar Ibe seusai pementasan.
 
Pada produksi ke-21 Sanggar Anak Akar itu, semua aktor merupakan pemula. Namun, mereka sudah mahir memberikan suguhan teater yang menyentuh jiwa penonton. Persoalan anak-anak jalanan memang menggiriskan di negeri ini.
 
Selain Genta, tokoh sentral ialah Sukma dan Raga. Sukma memiliki sifat keibuan dan penyayang terhadap anak-anak. Berbeda dengan Raga yang frontal dan idealis. Raga selalu berdiri bersama kaum marginal demi menuntaskan persoalan hak asasi dan kesewenangan aparat dalam memperlakukan kaum marginal.
 
Dengan dasar pendidikan tinggi, Raga sebagai mahasiswa tergolong pandai, nekat, dan berani. Inilah kejelian sutradara menghadirkan tokoh-tokoh untuk mendapatkan suasana berbeda pada lakon Sayap-Sayap Mimpi.Persoalan sehari-hari Lakon berdurasi 3,5 jam ini memang sedikit membosankan, terutama pada blocking dan artikulasi dari beberapa aktor muda. Ada yang sudah menguasai naskah, ada pula yang kelihatan masih minim dalam artikulasi vokal di panggung.
 
Persoalan dalam lakon dititikberatkan pada psikologi anak. Anak-anak lari dari rumah karena perceraian dan pertikaian antarorangtua. Anak-anaklah yang menjadi korban. Sisi itulah yang sutradara perlihatkan secara jelas sehingga lakon pun berlangsung dengan penuh suspensi.
 
Kehadiran aktor-aktor pemula seperti Bagus M Rizki, Fraja Prasetyo, Bella Ayu Diah, Yulianti Prihatin, Diah Utami, Atmajaya, dll, membuktikan mereka tak sekadar beraksi di panggung.
 
Persoalan anak-anak jalanan akhirnya pun bisa teratasi. Sukma gigih memperjuangkan hak-hak anak sehingga gedung tua yang mereka tempati pun akhirnya bisa mereka peroleh gratis berkat seorang donatur misterius.
 
Kehadiran Sanggar Anak Akar menjadi bukti, mereka tetap konsisten mengangkat realitas untuk dipanggungkan. Berbeda dengan kelompok teater lainnya, Sanggar Anak Akar menjadi salah satu kelompok mandiri.
 
Meski sukses mementaskan Sayap-Sayap Mimpi, Sanggar Anak Akar masih memiliki pekerjaan rumah yang berat. Di lain sisi, mereka berhasil melakukan regenerasi. Namun, di sisi lainnya, masih ada persoalan, yaitu menjaga eksistensi berkarya setelah anak-anak beranjak dewasa kelak.
 
Tata panggung pun masih minim ornamen. Sutradara bermain aman pada sisi `keelitan'. Sayang, tidak ada sesungguhnya kaum marginal di atas panggung. Yang ada hanyalah anak-anak teater yang berasal dari orangtua berada. (Iwan Kurniawan/M-2)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIT)




TERKAIT

BERITA LAINNYA