Film ini disutradarai Marselli Sumarno, seorang dosen Institut Kesenian Jakarta.
Dijelaskan Marselli, syuting dilakukan pada 2004, saat Gesang berusia 87 tahun. Marselli mendapatkan rekam visual aktivitas Gesang, mulai dari mengurus burung-burung peliharaan, hingga bermain layangan bersama anak-anak di sekitar rumah.
"Beliau bukan tokoh yang pintar bicara. Beliau harus dipancing dulu, baru semua diceritakan," ucap Marselli mengenang sosok Gesang, usai pemutaran Gesang Sang Maestro Keroncong, di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta Pusat, Rabu (21/10/2015).
Meski penggalian soal karkater Gesang terbilang dangkal, dengan melihat film tersebut penonton bisa mengetahui seluk-beluk dari karya monumental Gesang, Bengawan Solo.
"Beliau luar biasa lugu, sangat sederhana. Beliau pernah menolak penghargaan dari Keraton Solo karena merasa belum pantas," beber Marselli.
Secara rinci, Gesang yang diwawancarai di atas perahu sambil mengarungi sungai Bengawan Solo, menceritakan tentang inspirasi yang didapatnya dalam pembuatan lagu Bengawan Solo.
Ide membuat lagu terjadi pada 1940-an ketika Gesang melihat air di sungai yang melintasi kampung halamannya surut akibat kemarau.
Film dokumenter ini menyertakan testimoni sosok Gesang yang dilontarkan penyanyi keroncong Waldjinah.
Gesang wafat pada 20 Mei 2010, dalam usia 93 tahun. Sepanjang hidupnya, Gesang telah melahirkan 42 lagu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News