Lukisan karya Yarno (Foto:Metrotvnews.com/K Yudha W)
Lukisan karya Yarno (Foto:Metrotvnews.com/K Yudha W)

Lukisan Yarno Dihargai Kolektor Mancanegara hingga Ratusan Juta

K. Yudha Wirakusuma • 03 Mei 2015 15:17
medcom.id, Jakarta: Melalui goresan kuasnya, karya lukis Yarno, menjadi rebutan di luar negeri.
 
Karya yang diberi judul Bertahan (2012) di Masterpiece Singapura, April tahun ini, mampu memikat ratusan pasang mata.
 
Lukisan berukuran 120x80 cm itu menembus angka SGD24.400 atau setara Rp234 juta.

"Saya malah enggak tahu. Biasanya memang setelah terjual oleh art dealer ke kolektor, saya enggak lagi mengikuti perkembangan," kata Yarno di Jakarta, Minggu (3/5/2015).
 
Yarno sempat mencatat angka penjualan SGD20.740 atau setara Rp191 juta pada 13 April 2013, di Balai Lelang Seni Masterpiece melalui karya Power Struggle.
 
Karya lainnya berjudul Leader (2013) menembus angka SGD21.960 atau setara Rp204 juta dalam lelang di 33 Auction Singapura, 11 Mei 2013.
 
Padahal, Leader berukuran hanya 150 x 180 cm, jauh lebih kecil daripada Power Struggle yang 1,5 m x 250 cm.
 
Tahun lalu, karya Yarno berjudul Dark Forest juga diperebutkan kolektor mancanegara hingga terjual di atas Rp220 juta. Ukurannya sedang, 130 x 150 cm, namun warna dan obyeknya langka di kalangan pencinta modern art.
 
Seniman yang banyak mendapat inspirasi dari pelestarian lingkungan dan sering menyindir lewat karyanya tentang kerusakan lingkungan itu mengaku, tak pernah memikirkan soal bisnis. Sebagai seniman, dia hanya fokus membuat karya seni berkualitas.
 
"Soal harga itu bukan bagian saya. Sudah ada manajemen dan art dealer yang mengurus. Tapi kalau ditanya bangga, saya bangga karya saya bisa dihargai banyak pecinta seni," terangnya.
 
Perihal karya terbaru, Yarno saat ini tengah mengerjakan sejumlah lukisan.
 
"Saya bukan seniman yang bisa membuat karya banyak dalam setahun. Dari tahun lalu hingga sekarang, baru ada sekitar tujuh lukisan," akunya.
 
Saat ini, dirinya tengah bergelut dengan ide-ide terbaru yang sedang ingin direalisasikan dalam waktu dekat.
 
"Lagi eksperimen-eksperimen saja. Rencana bikin lukisan setinggi 4 meter-an sudah terlaksana," bebernya.
 
Sebagai seniman, dia mengaku punya tugas untuk selalu menyajikan karya terbaiknya bagi pecinta dan kolektor seni. Tanpa harus kehilangan sisi idealismenya. Yarno juga lebih selektif dalam mengikuti pameran bersama.
 
Lebih lanjut dia mengatakan, seorang seniman harus terus merasa 'gelisah.' "Kegelisahan untuk menghasilkan karya yang lebih baik lagi. Seniman yang cepat merasa puas dan nyaman justru bahaya, sebab jangan‎-jangan sudah kehabisan ide," tegasnya.

Nama Yarno kian berkibar di dunia seni internasional seiring makin tingginya minat kolektor seni mancanegara terhadap karyanya.
 
Padahal, seniman 44 tahun itu masih masuk dalam kategori "new born artist" dan baru menghasilkan 60-an karya sejak kemunculannya lima tahun lalu.
 
Pada awal Maret 2010, karya Yarno masih dihargai Rp 9 juta dalam pameran bersama. Terus merangkak naik pada akhir 2011, menjadi Rp18 juta setelah dipamerkan di Seoul (Korea) dan Singapura.
 
Pada pertengahan 2012, harga tawar lukisannya naik lagi menjadi Rp25 juta. Dan pada 2013, karya Yarno terus melambung hingga menyentuh angka Rp40 juta. Namun tidak semua kolektor berhasil memperoleh karya-karyanya walau ingin membelinya.
 
Bahkan kabarnya ada dua kolektor besar yang sudah mencoba berbagai cara lewat broker tidak berhasil memperolehnya. Keunikan karya Yarno ada pada kepandaiannya mengolah kombinasi warna dan kekuatan goresan tentang kritik lingkungan yang sarkastik menjadi sebuah karya seni modern mengesankan.
 
Tampilannya menarik dengan warna-warna monochrome bersifat kontemporer tanpa membuat jiwa jenuh, meski sejatinya Yarno mengusung aliran surealisme dalam karya-karya seni modernnya sejak 2009.
 
Pantas, pada pameran seni bergengsi di Art Stage Singapura 2014, lukisan-lukisan karya Yarno banyak mendapat decak kagum kolektor dan kurator seni museum mancanegara.
 
Yarno berharap bisa menggelar pameran tunggal lagi seperti yang pernah digelarnya, Ultimate City (2012) dan Reborn (2013).
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ROS)




TERKAIT

BERITA LAINNYA