Dilihat sepintas, terkadang agak sulit memahami bentuk maupun tulisan graffiti. Namun, hal tersebut merupakan sebuah ekspresi sisi liar para bomber sebagai seniman.
"Kalau lagi dalam event, konsep itu ada. Tapi konsepnya ga begitu kita pikirin karena karyanya kita bikin secara spontan. Justru spontanitas itulah yang tetap menjaga sisi 'liar' kita sebagai seniman graffiti," ujar Tutu, seniman graffiti, ditemui di Gudang Sarinah, Jakarta, Sabtu (19/12/2015).
Membuat graffiti di tempat publik membuat para seniman graffiti sering dibubarkan atau dikejar oleh pihak keamanan.
"Ya itu kan yang kita pake properti umum, punya publik atau punya orang lain bukan punya kita. Jadi hal dibubarin atau diberhentikan oleh pihak keamanan sudah biasa," jelas Tutu.
Tutu mengakui bahwa melakukan graffiti adalah salah satu cara untuk mengistirahatkan diri. Bagi para bomber, graffiti itu ibarat sebuah cara relaksasi.
Graffiti mulai menjadi perhatian di Indonesia sejak awal tahun 2000. Perkembangannya begitu masif dan sporadis.
Pada awalnya pelaku kultur seni jalanan hanya berada pada kelompok anak muda di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Namun kini keberadaan bomber sudah mulai menyebar hingga ke kota besar dan satelit di luar pulah Jawa.
"Indonesia sekarang sudah menjadi destinasi liburan dan tempat yang ingin dikunjungi oleh para bomber bomber luar negri," pungkas Tutu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News