Bercerita tentang tokoh bernama Mas Joko yang memiliki nama asli sepanjang 26 kata, mewakili tiap huruf dalam alfabet. Dengan latar tempat di sebuah apartemen di Jakarta, Mas Joko yang berusia 50 tahun bercerita tentang dirinya yang jatuh cinta pada perempuan berusia 20 tahun.
Secara mendalam, Remy menghadirkan diskusi reflektif soal sosial dan budaya orang Indonesia. Khususnya, terhadap orang-orang modern yang hidup di kota besar dan akrab akan budaya asing.
Monolog dikemas dengan bumbu musik yang juga menyiratkan perpaduan budaya pada masyarakat urban. Mulai dari jazz hingga musik bernuansa mandarin pun mengiringi keluh kesah Mas Joko atas apa saja.
"Tentang sifat-sifat orang yang kurang baik, digambarkan secara simbolis. Sekarang banyak orang yang menjelek-jelekan (budaya asing) tapi menjiplak begitu saja, tidak berangkat dari kearifan lokal," kata Jose dalam wawancara usai bermonolog.
Bukan Remy jika menghadirkan kisah tanpa akar historis yang kuat. Dalam "Monolog Mas Joko", Remy menceritakan tentang budaya nusantara yang lebih mengagungkan perempuan. Perlahan budaya itu luntur lantaran masyarakat terlalu terbuka dalam menerima pengaruh penjajah.
Rencananya "Monolog Mas Joko" akan dipentaskan dalam sebuah tur lintas kota untuk memperkenalkan kembali monolog dalam bagian dari bentuk kesenian di masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News