Tidak sia-sia, berbagai karyanya yang diikutkan pada kompetisi di luar negeri berhasil mendapatkan penghargaan. Sandy Karman berhasil membuktikan dirinya layak diperhitungkan sebagai pendesain grafis. Sayangnya, di Tanah Air, hasil karyanya kurang diapresiasi.
“Sejak kecil saya suka menggambar dan pelajaran yang paling saya sukai ialah menggambar sehingga waktu luang saya gunakan untuk menggambar,“ ucap Sandy.
Saat kuliah, ia mulai menekuni seni poster. Di matanya, seni poster merupakan karya seni murni lukisan yang dipampang dalam sehelai kertas.
Poster, kata Sandy, merupakan medium desain grafis dengan kasta tertinggi. Poster menggabungkan fungsi penyampaian konten dan pesan dengan kemahiran sang desainer dalam pengolahan elemen-elemennya (bentuk, bidang, warna, huruf, foto dan/atau ilustrasi). Tidak hanya itu, poster juga mengandung sensitivitas dari karakter sang desainer dan ketajaman sebuah revolusi dan mendobrak batasan era post modern.
Hal itu yang membuat Sandy jatuh cinta dengan poster. Ditambah ketekunan dan kerja keras, ia berhasil berkiprah di mancanegara.
“Sebenarnya bukannya go international yang ada di pikiran saya pada awalnya. Namun, semua ini hanya ukuran sejauh apa kemampuan saya dan juga ingin mengetahui apakah jalan yang saya pilih ini merupakan jalan yang seharusnya saya jalani,“ kata Sandy.
Segudang pengalaman dan prestasi Internasional ia torehkan. Pengalaman pertama yang tidak terlupakan ialah ketika ia mendapatkan kabar karyanya terpilih masuk kualifikasi di International Poster Triennial di Museum of Modern Art Toyama, Jepang, tahun 2009.
Di tahun yang sama, dua poster yang ia kirim pada 2008 berhasil menembus Global Biennial of Graphic Design di Moskow, Rusia. Momen itu men jadi titik balik Sandy, setelah sempat meragukan kemampuannya.
“Saya menyebutnya era kegelapan karena saya banyak berada dalam kebingungan, pertanyaan, keraguan karena saya mengikuti kompetisi internasional setiap tahun sejak 2005 dan tidak pernah lolos. Ditambah sejak 2005-2007, saya bekerja di biro iklan, dengan semua idealisme desain yang perlahan-lahan tumbuh waktu masa kuliah mendapatkan reality check bahwa iklim desain dan kreatif di Indonesia masih kurang memadai,“ kenang Sandy.
Tidak berhenti di situ, Sandy menjadi orang Indonesia dan Asia Tenggara pertama yang diundang untuk memamerkan hasil karyanya di pameran La Fete du Graphisme (The Graphic Art Festival) 2014 di Paris dengan tema Paris invite le monde (Paris invites the world) yang bertempat di Cite de la Mode et du Design, Paris.
“Saya berpameran dengan 99 desainer grafis internasional lainnya yang mereka beri tajuk 100 World's Finest Poster Artists,“ ujar Sandy.
Rasa bangga tidak bisa ditutupi dari hati Sandy kala itu. Apalagi sebelum diundang, Sandy berulang kali mengajukan diri dalam kompetisi. Tidak hanya sekali, sejak 2008, Sandy selalu diundang. Ia pun kerap menembus seleksi juri nasional dan regional di pameran-pameran desain grafis internasional, seperti di Museum of Modern Art Toyama di Jepang (2009 dan 2012), Poster Museum Warsawa di Polandia (2010 dan 2012), Central House of Artists Moskow di Rusia (2008, 2010, 2012, 2014), The Poster Museum di Finlandia (2011).
Kemudian, Hong Kong Heritage Museum di Hong Kong (2011 dan 2014), dan pameran-pameran untuk desainer desainer Asia seperti Shanghai State Library di Tiongkok (2011), Hangaram Art Museum-Seoul Arts Center di Korea Selatan (2009), dan Daegu Gyeongbuk Design Center di Korea Selatan (2012).
“Di seluruh pameran itu, saya menjadi satu-satunya desainer dari Indonesia dan, lebih sering daripada tidak, menjadi satu satunya desainer dari Asia Tenggara,“ paparnya.
Seperti promosi PT Panin Asset Management periode 2013-2014, desain iklan annual directory Bursa Efek Indonesia (BEI) 2013, desain folder map perusahaan, desain brosur, banner dan logo marathon, banner peluncuran produk Panin Dana Ultima, dan media product internet advertising.
Dengan segudang prestasi itu, Sandy masih memiliki cita-cita yang belum tercapai. Ia ingin menjadi orang Indonesia dan Asia Tenggara pertama yang menjadi anggota Alliance Graphique Internationale (AGI)-grup desain terkemuka yang elite dan tertutup. Aliansi itu, kata Sandy, menjadi penghargaan tertinggi bagi insan-insan desainer grafis dunia yang beranggotakan para master, guru besar, dan desainer-desainer grafis top dunia.
Guna menjadi anggota AGI, seorang desainer harus mendapatkan rekomendasi oleh minimal tiga anggota yang sudah ada. Selain itu, memiliki rekam jejak dalam prestasi pameran desain internasional. Kandidat juga melalui proses evaluasi dan presentasi di kongres AGI yang dilakukan setiap tahun di kota-kota berbeda.
“Tahun ini saya bersyukur terpilih menjadi kandidat oleh nominator saya, yaitu Ralph Schraivogel dari Swiss yang juga merupakan salah satu desainer grafis favorit saya, Max Kisman dari Belanda, dan Profesor Ahn Sang-soo dari Korea Selatan.Namun, tahun ini saya belum berhasil dan tentu masih banyak yang perlu saya pelajari, sehingga tiga tahun lagi saya akan mencoba kembali,“ pungkas Sandy. (Media Indonesia/M-5)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News