Ada dua seniman terlibat dalam pameran ini, yakni Entang Wiharso dari Indonesia dan Sally Smart asal Australia.
Tema conversation (percakapan) mengisyaratkan terjadi kolaborasi dalam hal kompleksitas persoalan.
Para seniman yang terlibat, Entang dan Sally, memberikan percakapan dalam bahasa rupa dalam presentasi karya mereka yang membahas mengenai berbagai hal seperti politik, sosial, budaya, dan lainnya.
"Acara pameran yang diisi oleh karya dari Entang dan Sally ini berbicara tentang keadaan kontemporer yang dihadapi oleh manusia dalam perkembangan sejarahnya. Yang menarik adalah karya seni ini berisi percakapan dan dialog dari dua seniman yang berasal dari lingkungan dan budaya berbeda,” ujar Natalie King, co-kurator pameran, saat diwawancara di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Jumat (15/1/2016).

(Foto:Metrotvnews.com/Putu Radar B)
Karya-karya yang ditampilkan mereka membicarakan permasalahan yang dihadapi oleh manusia sepanjang zaman.
Dua negara yang tidak terlalu memiliki keterikatan sejarah ini ternyata memiliki masalah yang kompleks dan tidak jauh berbeda, seperti masalah ekonomi, politik, dan sosial.
Dalam salah satu karyanya, Sally menggambarkan tentang permasalahan imigran yang dihadapi Australia. Kemudian, Entang juga menunjukkan tentang kisah pembantaian manusia dalam karyanya.

(Foto:Metrotvnews.com/Putu Radar B)
Pameran ini melalui topik "percakapan sejarah manusia sepanjang masa" dapat disebut sebagai peneguhan yang lebih kompleks atas ungkapan "kehidupan relatif pendek, namun kekuatan visual dan narasi seni yang tersimpan di dalamnya bisa hidup sepanjang zaman."
Pameran yang diisi karya seni kontemporer, lukisan, patung, dan instalasi ini dikuratori Suwarno Wisetrotomo dari Indonesia dan Natalie King dari Australia.
Pameran Conversation: Endless Acts in Human History digelar pada 15 Januari hingga 1 Februari 2016.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News