Edhi Sunarso mulai dikenal masyarakat luas sejak digandeng Presiden Soekarno pada awal 1960-an. Dia dipercaya untuk mewujudkan visi besar Bung Karno membangkitkan harga diri bangsa melalui monumen.
Salah satunya adalah Patung Dirgantara. Warga lebih mengenalnya sebagai Tugu Pancoran gara-gara lokasinya di tengah perempatan Pancoran yang membatasi daerah Perdatam dengan Tebet, Jakarta Selatan.
Dirgantara yang disematkan sebagai namanya juga tak lepas dari lokasi patung perunggu itu berdiri. Di depan Markas Besar Angkatan Udara RI dengan kompleks rumah dinas petinggi Angkatan Udara di belakangnya.
Untuk ukuran jamannya, bagunan patung ini sangatlah canggih berkat penopangnya yang melengkung setengah kurva tanpa tiang penyangga. Kombinasi antara seni patung dengan teknik sipil dan arsitektur mumpuni yang digawangi Ir. Sutami.
Namun proyek ini pula yang nyaris membuat sang maestro kehilangan semangat berkarya.
Sebelum sempat dituntaskan, meletuslah peristiwa Gerakan 30 September. Korps AU terciprat getah. Pemerintahan Soekarno diambilalih. Rezim pun berganti dan mengubah sangat drastis nasib banyak sekali warga Indonesia.
Monumen yang Soekarno perintahkan dibangun dengan visi membangkitkan semangat dan harga diri bangsa dari penjajahan ratusan tahun pun mangkrak. Pemerintahan baru tidak menganggapnya perlu diprioritaskan untuk dilanjutkan.
Edhi akhirnya nekat. Dia memutuskan membiayai sendiri kelanjutan proyek itu. Kabar kenekatan itu sampai ke telinga Bung Karno yang sudah tak punya kuasa mengerahkan sumber daya keuangan negara, bahkan harta pribadi pun nyaris nihil.
Bung Karno tidak tinggal diam. Dia menjual mobil pribadinya dan memberikan uang hasil penjualan kepada Edhi Sunarso. Proyek mercusuar itu pun berlanjut hingga tuntas.
Konon suatu ketika dalam tahap penuntasan proyek, Edhi Sunarso yang sedang berada di puncak monumen melihat iring-iringan pengantar jenazah melintas di bawahnya. Dia jatuh lemas setelah diberitahu bahwa itu adalah iring-iringan itu mengantar jenazah Soekarno untuk diterbangkan ke Blitar, Jawa Timur.
Segera saja dia menyusul ke Blitar. Hari itu tertanggal 21 Juni 1970.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News