Lakon yang ditampilkan Cie Sacekripa mengangkat tema ritme kehidupan berjudul VU. Pertunjukan VU dipentaskan kali pertama di Indonesia, tepatnya di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Minggu (18/10/2015).
Dijelaskan oleh pemeran VU, Etienne Manceau, VU merupakan suatu pertunjukan yang ingin mengisahkan karakteristik seseorang dan bagaimana keseharian setiap pribadi yang ada di dunia.

"Pementasan VU itu ada beberapa tahap dari mulai datang, hingga akhir. Semuanya ingin menceritakan ritme kehidupan," jelas Etienne kepada Metrotvnews.com.
Selain itu, pria bertubuh tinggi ini juga menambahkan bahwa VU ingin menguraikan tentang kesenjangan dan 'kegilaan' yang melekat pada diri setiap individu.
Adegan demi adegan yang dilakukan sangat akrab dengan rutinitas masyarakat setiap hari.
"Setiap orang pasti akan memikirkan berbagai hal sekecil apapun itu dengan teliti. Itu mengapa kami menggunakan semua obyek yang kecil," lanjutnya.
Di atas panggung hanya tersedia satu bangku, meja, secangkir teh, majalah, korek api, tiga jenis kacamata, dan berbagai ornamen mini lainnya.
"Saya selalu belajar dari penonton. Setiap respons yang diberikan penonton menjadi acuan kami untuk memberikan ide-ide baru. Namun, secara keseluruhan kami terinspirasi teknik sirkus joggler," tutur Etienne.
Pementasan VU ditampilkan oleh satu orang tanpa suara (bahasa non-verbal) yang fokus pada tingkah laku sang aktor. Walau ornamen panggung sangat minim, pertunjukan VU tetap apik dan memukau dengan sisipan rasa humor yang tinggi.
Bienal Sastra Salihara 2015 menjadi tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair, pameran buku terbesar di dunia. Acara ini berlangsung pada 3 hingga 25 Oktober 2015. (Sumarni)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News