“Pada saat itu waktu saya masih 17 tahun, Teguh membuat pelajaran akting. Saya dan Slamet Rahardjo adalah murid pertamanya. Teguh itu guru yang luar biasa, selama kita belajar akting dalam lima tahun kita enggak boleh ngapa-ngapain, belajar terus,” kenang Nano.
Selama lima tahun Teguh Karya melatih Nano dan Slamet Rahardjo tentang dunia seni peran. Mulai dari latihan suara, latihan akting, hingga belajar mengenai bermacam hal seperti kesehatan, ekonomi, sosial, politik, dan berbagai macam hal lainnya.
“Selama lima tahun kita tuh digodok terus. Otak kita dikasih pelajaran macam-macam. Setiap harinya otak kita diisi sama pelajaran-pelajaran dari Teguh. Malah selama satu tahun setiap jam 8 sampai 4 sore kita belajar dasar akting terus,” ujar Nano.
Nano pun sempat berlatih tentang dunia seni dan sastra dari banyak seniman, namun baginya ajaran dari Teguh Karya adalah yang paling berkesan hingga ia mampu berkarya hingga saat ini.
“Dia satu-satunya guru teater saya. Saya enggak akan pernah bisa melupakan dia,” pungkas Nano.
Teguh Karya akan menjadi tokoh yang dihargai dalam Festival Film Indonesia 2015 mendatang yang mengangkat tema Tribute to Teguh Karya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News