Bambang Sugiharto (kedua dari kiri) (Foto: Metrotvnews.com/Putu Radar)
Bambang Sugiharto (kedua dari kiri) (Foto: Metrotvnews.com/Putu Radar)

Seni Barat dan Timur Tak Perlu Diperdebatkan Lagi

Putu Radar Bahurekso • 20 Februari 2016 21:47
medcom.id, Jakarta : Barat dan Timur seolah menjadi dua kubu yang berbeda dalam memandang suatu hal. Berbagai perdebatan membahas setiap perbedaan yang dimiliki oleh kedua kubu ini.
 
Namun, tak bisa dipungkiri bahwa perbedaan budaya dan nilai-nilai terjadi antar negara-negara barat dan negara-negara timur. Termasuk salah satunya dalam masalah seni. Baik pandangan, pendekatan, dan juga perkembangan. Tapi, perbedaan ini dirasa sudah tak perlu lagi untuk diperdebatkan.
 
"Perdebatan antara barat dan timur itu sudah lewat. Sudah bukan tren lagi untuk perbedaan barat dan timur untuk dibahas," ucap Bambang Sugiharto, Guru Besar Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan juga Dosen FSRD ITB, di Galeri Nasional, Jakarta, Sabtu (20/2/2016).

Berbagai perbedaan sederhana mulai dari letak geografis, iklim, membuat negara barat dan negara timur memiliki budaya dan nilai yang berbeda. Setiap kubu bahkan entitas memiliki ciri khas masing-masing.
 
"Kalau dari prinsip filosofis, perbedaan itu tetap perbedaan. Tapi yang penting tetap bisa memahami perbedaan itu," ujar Bambang Sugiharto.
 
Dalam dunia seni rupa negara-negara barat, fase yang paling tinggi adalah alasan (reason) atau rasio. Berbeda dengan seni rupa di Indonesia dimana fase tertinggi adalah soal rasa.
 
Bambang menjelaskan, "Rasa adalah fase yang paling tinggi dalam dunia seni rupa Indonesia, bukan reason. Rasa berguna untuk memasuki kesadaran batin yang lebih dalam lagi."
 
"Rasa awalnya bukan dari bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa. Rasa asalnya dari bahasa Sansekerta yang berarti kemampuan untuk menangkap esensi dari realitas," pungkas Bambang Sugiharto.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA